
Selama film diputar Kanaya hanya diam dengan tatapan kosong, ia bahkan bak pantung yang begitu kaku dan tak bergerak. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Melvin yang asik dengan tontonan dan juga popcorn ditangannya.
Kanaya menghela nafas, ia bangun dari duduknya hendak keluar dari cinema, namun tiba-tiba Melvin memegang tangannya.
"Mau kemana, Nay?" tanya Melvin mendongak menatap istrinya.
"Toilet." Jawab Kanaya singkat lalu segera keluar dari cinema.
Melvin menatap kepergian istrinya dengan nanar, ia tentu tahu alasan diamnya Kanaya sejak tadi, namun ia melakukan itu juga demi keamanan dan keselamatan istri dan calon anaknya.
Karena tak mau terjadi sesuatu pada Kanaya, Melvin segera menyusul istrinya keluar, ia melihat Kanaya masuk ke dalam toilet hingga akhirnya ia memilih menunggu diluar toilet.
Cukup lama Melvin menunggu, namun Kanaya tak kunjung keluar dari toilet. Melvin khawatir, ia hendak masuk namun takut dicap tidak sopan oleh pengunjung mall disana.
"Kenapa Kanaya lama sekali," gumam Melvin gusar.
Seorang wanita keluar dari toilet, Melvin menghampiri wanita itu. "Permisi, apa kau melihat seorang wanita dengan dress hujau mint di dalam?" tanya Melvin gusar.
"Tidak, Mas. Saya tidak melihatnya, permisi." Jawab wanita itu lalu langsung pergi meninggalkan Melvin.
Melvin memijat pelipisnya, ia tak punya pilihan lain selain masuk ke dalam, namun belum sempat ia masuk, Kanaya sudah keluar dengan wajah yang begitu menyedihkan, matanya sedikit bengkak.
"Nay, kamu gak apa-apa?" tanya Melvin mengusap air mata Kanaya yang masih membekas dimata istrinya.
"Aku gak apa-apa, Kak. Aku mau pulang, kepalaku sakit." Jawab Kanaya memegangi kepalanya sendiri.
"Kita pulang!" balas Melvin lalu menggandeng tangan istrinya.
Kanaya hanya diam tangannya ditarik oleh Melvin, ia benar-benar pusing saat ini, sudah lelah karena perawatan, ia juga lelah karena Melvin yang enggan mengakuinya.
Sesampainya di mobil, Melvin membukakan jalan untuk istrinya lalu setelah nya ia duduk di kursi kemudi. Sambil memasang seatbelt nya, ia melirik ke arah Kanaya yang masih diam membisu.
"Naya kenapa sih?" tanya Melvin dengan nada manja.
Kanaya tak menjawab, ia masih diam sambil mengusap perutnya sendiri. Dengan menjawab pertanyaan Melvin itu akan membuat rasa sakit semakin terasa.
"Kamu benar mau langsung pulang, gak mau beli skincare gitu atau bodycare atau freshcare dan care care lainnya?" tanya Melvin diselingi candaan dengan harapan Kanaya akan tertawa.
Namun nihil, nyatanya Kanaya masih tetap diam menatap keluar jendela. Melvin akhirnya pasrah, ia akan membicarakan semuanya setelah mereka sampai dirumah saja, rasanya tak pantas jika bicara ditempat umum.
Niatnya membawa Kanaya pulang ke rumah, namun ternyata Melvin membelokkan mobilnya ke arah apartemen pribadi yang biasa ia datangi jika sedang pusing.
"Mau kemana, ini bukan arah pulang?" tanya Kanaya akhirnya membuka suara.
"Eh ada suaranya, cantik udah gak marah?" tanya Melvin menggoda.
"Ck, Gak." Jawab Kanaya ketus seraya melipat tangan didada.
"Kita ke apartemen aku dulu ya, kan aku kangen mau nengokin si Dedek." Ujar Melvin mendapat tatapan horor dari Kanaya.
"Eh, nengok apartemen maksudnya." Ralat Melvin tersenyum lebar.
Setelah 30 menit, mobil mewah Melvin terparkir di sebuah kawasan apartemen mewah, ia melihat Melvin turun duluan lalu membukakan pintu untuknya. Kanaya menghela napas, ia akhirnya keluar dan mengikuti langkah suaminya.
"Lelah?" tanya Melvin basa-basi.
"Iya, aku lelah sama kamu." Jawab Kanaya frontal.
Melvin merengkuh pinggang Kanaya hingga tak ada jarak diantara mereka, untung saja kini keduanya sedang berada di lift.
"Coba ngomong lagi." Pinta Melvin melembut.
Kanaya tak mengucapkannya, ia melepas tangan Melvin dari pinggang nya lalu bersama itu lift terbuka. Melvin kembali menggandeng tangan istrinya, ia menekan gagang pintu yang telah menggunakan finger print hingga pintu terbuka.
Melvin membawa Kanaya masuk dan menutup pintunya kembali, ia lalu menatap istrinya yang terus diam.
"Kamu kenapa Kanaya?" tanya Melvin mengusap lengan Kanaya lembut.
"Aku mau pulang, kenapa malah ngajak kesini?" tanya Kanaya balik dengan ketus.
Melvin menghela nafas, ia gemas sekali ingin menggigit bibir Kanaya yang tak henti bicara ketus padanya.
"Ketus banget sih mulutnya, aku cium nih!" desis Melvin hendak mencium Kanaya namun ditolak.
"Cukup! Aku lelah Kak." Ucap Kanaya sedikit tinggi.
Melvin tersenyum tipis, ia merengkuh pinggang Kanaya hingga mereka benar-benar menempel, diangkatnya wajah Kanaya agar mau menatap nya.
"Marah karena di bioskop tadi?" tanya Melvin dengan lembut.
Kanaya tak menjawab, ia hanya sedang menahan panas di mata nya dan mencegah agar tak kembali menangis dihadapan Melvin.
"Dengerin aku, Nay. Aku tidak mengakui kamu didepan Angel karena aku gak mau sesuatu terjadi sama kamu atau anak kita." Jelas Melvin membuat Kanaya membalas tatapan sang suami.
"Tapi kamu bikin aku sakit, dengan mengatakan tak punya hubungan. Jelas-jelas aku ini istri kamu, bahkan aku hamil anak kamu, Kak. Hiks …" Kanaya akhirnya tak bisa tahan untuk tidak menangis.
Melvin tercengang, ia lantas menarik Kanaya ke dalam pelukannya. "Maaf ya, maaf tapi aku benar-benar melakukan ini demi kamu dan anak kita." Bisik Melvin penuh sesal.
Kanaya masih menangis, namun perlahan pelukan Melvin membuatnya tenang. "Kak, aku ngantuk." Ucap Kanaya masih dengan posisi memeluk suaminya.
Melvin terkekeh, ia lantas melepas pelukan mereka dan tanpa memberi jeda langsung menggendong istrinya ke kamar.
"Padahal aku kangen mau nengok Dedek." Celetuk Melvin membuat Kanaya menatapnya.
"Libur seminggu sebagai hukuman udah bikin aku nangis!" balas Kanaya kejam.
NAH KAN SUKURIN😝🤣
BERSAMBUNG..............................