Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Koma?


Sudah hampir 42 jam berlalu, namun Kanaya tak ada tanda-tanda akan membuka matanya. Selama itu Melvin tak pernah beranjak dari rumah sakit dan meninggalkan istrinya, bahkan Melvin mandi dan makan disana, untuk pakaian tentu Mami Yuli yang membawakannya.


Sementara anak Melvin, putra pertamanya yang belum mendapatkan asi apalagi kasih sayang ibunya itu sudah kembali ke inkubator namun yang ada satu ruangan tempat Kanaya di rawat.


Melvin menatap putranya yang sedang tidur dengan tatapan berkaca-kaca, ia melihat bahwa putranya itu mirip dengan dirinya, hanya bibir saja yang mirip dengan Kanaya.


"Dek, do'akan Mama cepat sadar dan bisa berikan kamu kasih sayang, 'ya." Bisik Melvin berusaha tersenyum meski matanya berkaca-kaca.


Tak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Kanaya, Melvin yang melihat itu lantas ikut mendekati Kanaya yang tampak masih sama seperti kemarin.


"Sayang, aku mohon bangunlah. Aku disini, anak kita butuh kamu." Ucap Melvin menggenggam tangan Kanaya erat.


"Tuan Melvin, 42 jam telah berlalu dan saat ini saya benar-benar menyatakan bahwa--" ucapan dokter terhenti saat tiba-tiba anak Melvin yang berada di inkubator menangis.


Melvin menoleh, ia buru-buru mengeluarkan dan menggendong anaknya dengan hati-hati. Melvin mencium kening putranya lalu membawanya mendekat ke arah Kanaya.


"Sayang, lihatlah. Putra kita butuh kamu, dia butuh ibunya." Ucap Melvin sambil menggoyangkan baby dalam gendongannya.


Melvin meletakkan baby nya disebelah Kanaya, membawa tangan Kanaya untuk mengusap kepala baby yang masih menangis itu.


"Sayang, lihat. Anak kita diam hanya dengan bersentuhan dengan kamu, aku mohon bangunlah, Sayang." Pinta Melvin mulai frustasi.


Dokter yang melihat itu turut sedih, namun apalah daya karena ia pun tak bisa berbuat banyak selain memeriksa dan merawat pasiennya, selebihnya itu adalah urusan yang maha kuasa.


"Tuan, Melvin. Nyonya Kanaya dinyatakan koma." Ucap Dokter dengan berat hati.


"Nggak, Dok. Nggak mungkin istri saya koma, istri saya baik-baik aja, saya yakin sebentar lagi dia sadar." Balas Melvin tak terima.


Melvin kembali meraih tangan istrinya, ia usap punggung tangan Kanaya dan tak lupa ia berikan kecupan bertubi-tubi. Bibirnya tak henti meminta Kanaya untuk bangun, sementara matanya terus saja berderai air mata.


"Sayang, aku tidak--" Melvin terdiam sesaat ketika merasakan sesuatu. Ia mengangkat kepalanya dan melihat jari-jari tangan Kanaya bergerak.


"Dokter, istri saya sadar." Ucap Melvin menunjuk pergerakan kecil di tangan Kanaya.


Dokter yang melihat itu lantas kembali memeriksa Kanaya, seketika dokter itu tersenyum karena pasiennya itu telah melewati masa kritisnya.


"Selamat, Pak! Istri anda sudah melewati masa kritisnya, kita hanya perlu menunggu sampai beliau sadar." Ucap dokter membuat Melvin langsung menatap wajah Kanaya.


"Sayang, hiks … aku tahu kamu tidak akan meninggalkan aku dan anak kita." Tukas Melvin seraya menciumi kening Kanaya.


Kanaya bisa merasakan ada sesuatu basah yang mengenai wajahnya ia sedikit melirik ke atas dan melihat suaminya sedang menangis.


"M-mas." Lirih Kanaya dengan nafas yang masih belum teratur.


Melvin menjauhkan wajahnya, ia tersenyum namun juga menangis. Akhirnya, akhirnya ia bisa kembali mendengar panggilan itu dari bibir istrinya.


"Hiks … Sayang, Sayang kamu sudah sadar?" tanya Melvin menangkup wajah Kanaya dan merasa terharu melihat istrinya sudah sadar.


"A-anak kita?" tanya Kanaya pelan.


"Dia disamping kamu, Sayang. Dia butuh kamu, dia butuh kasih sayang ibunya." Jawab Melvin membuat Kanaya melirik ke samping dimana seorang bayi mungil ada disana.


Kanaya yang melihat itu tersenyum, ia dengan sedikit bantuan dari Melvin berusaha untuk memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap putranya. Tentu berbalik arah dengan luka sayatan dilengannya.


"Anak Mama." Lirih Kanaya mengusap wajah lembut itu dengan ibu jarinya.


"Anak kita laki-laki, Sayang. Sesuai seperti yang kamu pikirkan, dia tampan sepertiku." Tutur Melvin dengan percaya diri nya.


"Jagoan Mama, selamat datang di dunia yang indah ini Nak," bisik Kanaya kemudian mencium lembut kepala putranya.


"Untuk Mama juga, selamat datang kembali. Papa merindukan Mama, bahkan sangat merindukan Mama." Sahut Melvin tersenyum penuh arti.


"Tuan dan Nyonya, saya permisi sebentar ya." Ucap dokter pamit karena tahu bahwa pasangan suami istri itu ingin melepas rindu.


"Mas, maafin aku ya." Ucap Kanaya dengan air mata yang mulai keluar dari mata cantik Kanaya.


Melvin menggelengkan kepalanya, ia lantas mencium kening Kanaya lalu menatap istrinya dalam.


"Nggak Sayang, seharusnya aku yang minta maaf karena tidak bisa menjaga mu dengan benar." Timpal Melvin dengan lembut sambil tangannya mengusap sayang wajah Kanaya.


"Aku rindu kamu, Mas. Aku cinta kamu dan anak kita," ungkap Kanaya semakin menangis haru.


"Aku jauh lebih merindukan dan mencintai kamu dan anak kita, sayang." Balas Melvin kemudian mendekap tubuh istrinya dengan hati-hati.


CIEE KENA PRANK JUDUL, WKWKWKW😂😂


BERSAMBUNG..................................................