Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Keusilan pasutri


Nadia menatap suaminya yang saat ini sedang menyantap makan siang buatannya dengan penuh kekaguman. Reno terlihat begitu tampan, dengan wajah halus yang begitu bersih dan bentuk bibir yang kissable, jangan lupa hati pria itu yang sangat baik apalagi padanya. Menerima dan mau menunggu dirinya yang belum hamil ini.


"Kamu mau?" tawar Reno mengangkat sendok saat Nadia terus memperhatikan nya.


"Makasih ya, Mas." Bukannya menjawab, Nadia justru mengucapkan kata lain.


Reno meletakkan kotak makan di meja, ia menggenggam tangan istrinya lalu menatap Nadia dengan hangat dan penuh cinta. 


"Makasih untuk apa, istriku?" tanya Reno membawa tangan Nadia untuk ia cium.


"Makasih sudah menerima aku sebagai istri kamu, selalu memberikan cinta dan kasih sayang sama aku. Aku ini hanya gadis sebatang kara yang beruntung bisa dicintai pria hebat seperti kamu, Mas. Kamu suami terbaik, hiks … aku sayang banget sama kamu!" jawab Nadia diakhiri isak tangis yang begitu sesak.


"Hei, Sayangku. Kenapa hmm? aku pasti akan menyayangi dan mencintai kamu karena kamu istri aku, kesayangan aku dan calon ibu dari anak-anak kita kelak." Sahut Reno dengan tulus lalu menarik Nadia ke dalam pelukannya.


"Jangan pernah meninggalkan ku, Mas." Lirih Nadia dalam pelukan suaminya.


Reno menganggukkan kepalanya sesekali ia memberikan kecupan sayang di kening sang istri. Akhir-akhir ini Nadia selalu merasa sedih, Reno tentu tahu alasannya. Sejujurnya alasan Kanaya sedih itu tidaklah penting bagi Reno karena ia sendiri tak mau memaksa istrinya hamil apalagi itu adalah kuasa Tuhan. Namun sepertinya disini Nadia takut bahwa Reno menginginkan anak secepatnya.


"Kita jalan-jalan yuk, biar kamu nggak sedih lagi!" ajak Reno membuat Nadia mendongak.


"Kemana?" tanya Nadia dengan wajah polos menatap suaminya.


"Bagaimana jika Bali, atau kamu mau ke luar negeri?" saran Reno seketika membuat Nadia melongo.


"Ihh, kirain mau ajak jalan-jalan ke taman atau pasar malam gitu. Jika ke Bali apalagi luar negeri namanya libuan, Mas!" protes Nadia mendusel di dada suaminya.


"Apa bedanya, intinya kamu mau nggak?" tanya Reno mencubit pelan pipi Nadia.


"Disana kita ngapain?" tanya Nadia semakin membuat Reno gemas.


"Ngemis Sayang, ngemis." Jawab Reno ketus mengundang gelak tawa istrinya.


Di lain sisi, Reno merasa senang melihat istrinya yang tertawa lepas. Ia menangkup wajah Nadia lalu menciumnya dengan begitu rakus.


"Mas ihh udah, sana lanjutin makan siangnya!" tegur Nadia berusaha mendorong Reno namun pria itu tetap menciumi wajah nya.


"Nggak, udah kenyang! Sekarang aku lapar mau makan kamu," sahut Reno menatap Nadia dengan seringai evil di wajahnya.


Reno bersiap untuk menggendong Nadia, namun wanita itu buru-buru memberontak terhadap perlakuan suaminya. Ia kembali duduk begitupun Reno.


"Mas, kata kamu kan kita ngemis. Uang kamu habis ya sampai ngajak istrinya ngemis di daerah orang?" tanya Nadia semakin usil.


"Iya abis, nanti selain ngemis kita konser biar makin banyak duit nya." Jawab Reno mendengus kesal.


"Kamu bisa nyanyi?" tanya Nadia penasaran.


"Bisa." Jawab Reno seketika membuat Nadia berbinar.


"Bisa kabur penontonnya." Lanjut Reno langsung merubah raut wajah istrinya menjadi kesal.


"Mas!!!" pekik Nadia memukul bahu suaminya pelan.


"Satu sama, Sayang. Tadi kamu bikin kesal, pake tanya liburan di Bali ngapain, ya bikin anak lah!" celetuk Reno seketika membuat Nadia melotot.


Reno hanya bisa kembali tertawa melihat wajah kesal istrinya, menggoda Nadia bahkan sampai membuat wanita itu kesal adalah kesenangan bagi Reno, kalau dia bisa jujur rasanya manis ada asam-asam nya.


WADIDAWWW, HARUS SELALU BAHAGIA YA NADIA DAN RENO 😘


BERSAMBUNG........................................


note. Bab kali ini lebih pendek dari biasanya 😭