Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Tertekan


Waktu yang Rey berikan pada Vina sudah habis, hari ini mau tidak mau ia harus menjawab pernyataan cinta Rey itu. Gadis itu tampak gugup dan masih terperangkap dalam kebimbangan, ia bingung harus bereaksi seperti apa, bahkan karena terlalu tertekan dengan pilihan yang harus ia pilih, ia sampai melupakan makan nya.


Vina terlihat tak nyaman dalam duduknya, ia juga beberapakali terlihat salah mengetik di komputer nya. Ia lemas dan tidak bertenaga karena memang belum makan sejak kemarin, wajahnya yang terpoles makeup tak dapat menutup pucat yang mendominasi.


"Bu Vina." Panggil seseorang membuat Vina mendongak.


"Iya, ada apa?" sahut Vina dengan pelan.


"Ini ada berkas pengajuan dana untuk kas kantor, dan membutuhkan tanda tangan dari Pak Rey." Jawab wanita itu meletakkan berkas berwana merah dimeja Vina.


"Baiklah, jam makan siang nanti silahkan ambil dimeja saya ya." Balas Vina berusaha tersenyum.


Vina beranjak dari duduknya dengan membawa berkas yang diberikan padanya, ia mengetuk pintu lalu berusaha berjalan seperti biasa saja meski sejujurnya tubuhnya lemas sekali.


"Permisi, Pak Rey. Ini ada berkas pengajuan dana untuk kas kantor, mohon ditandatangani." Ucap Vina dengan sopan seraya meletakkan berkas yang ia bawa.


Rey menatap berkas yang gadis itu bawa, tatapannya lalu beralih kepada sekretarisnya itu. Rey tampak sedikit terkejut melihat wajah Vina yang pucat, ia bangkit dari duduknya lalu mendekati Vina.


"Wajah mu pucat, apa kau baik-baik saja?" tanya Rey memegang kening Vina dengan punggung tangannya.


"I-iya, Pak." Jawab Vina gugup karena mendapatkan perlakuan kecil itu dari Rey.


Rey menghela nafas, ia mengantungi sebelah tangannya di kantung celana sementara tangan yang lain berada di meja guna menopang tubuhnya sendiri.


"Apa jawabanmu, aku butuh sekarang, Vin!" tanya Rey menatap Vina dengan sendu.


Vina diam tak berani menatap Rey apalagi menjawab pertanyaan yang atasannya itu lontarkan.


"Apa?" tanya Rey mengulang namun Vina masih diam.


Rey memejamkan matanya, ia memukul meja sedikit keras sehingga Vina yang mendengar nya sedikit terjingkat.


"Dengar, Vin. Diam mu menandakan penolakan, jika kau memang tak memiliki perasaan yang sama pada ku baikah, kita lupakan saja. Aku tidak akan memaksamu lagi dan akan membiarkan perjodohan itu." Ucap Rey dengan datar.


"Semoga kau bahagia dengan pilihanmu, aku akan berharap kau selalu bahagia. Sekarang pergilah, jangan menggangguku." Tambah Rey mengusir.


Vina sedikit tersentak mendengar ucapan Rey barusan, tanpa terasa setetes air mata jatuh membasahi wajahnya yang pucat.


Rey berjalan mendekati jendela ruangan nya yang memperlihatkan keindahan kota dan keramaian kendaraan dibawah sana yang tampak begitu kecil.


"Pergilah, Vina. Lupakan segalanya, kita bisa tetap menjadi seorang teman." Ucap Rey tanpa menatap gadis itu.


Vina memejamkan matanya, ia mengepalkan tangannya lalu tanpa disangka langsung berlari bahkan memeluk Rey dari belakang.


Bahu gadis itu tampak bergetar karena menangis, sementara tangannya begitu erat melingkar di pinggang Rey.


Rey yang mendapat perlakuan demikian sedikit terkejut, namun setelah beberapa saat akhirnya ia membalik badan dan kembali memeluk tubuh Vina yang masih gemetar.


"Jangan begini, Pak. Saya tidak bisa mendengar suara anda yang dingin seperti tadi," ungkap Vina dengan suara terisak.


"Hiks … saya cinta juga sama, Pak Rey." Lirih Vina seketika membuat Rey melotot.


"Apa?!" tanya Rey melepaskan pelukan lalu beralih menangkup wajah cantik gadisnya.


"Saya cinta sama Bapak, saya juga mau berjuang bersama untuk menolak perjodohan itu." Jawab Vina sedikit gugup.


Rey tersenyum senang, ia kembali membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengucapkan banyak terima kasih.


"Terima kasih, Vina." Bisik Rey dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya.


Vina tersenyum, ia hanya mengangguk kecil sebelum matanya terpejam dan menghanturkan beban tubuhnya begitu saja pada Rey.


Gadis itu tidak sadarkan diri, Vina pingsan dalam pelukan pria itu.


"Vina, Vina ada apa denganmu?!" Tanya Rey dengan panik seraya menepuk pipi Vina pelan.


Rey begitu khawatir, ia lantas menggendong Vina dan merebahkan gadis itu di sofa. Segera Rey meraih ponselnya untuk mengubungi dokter.


"Datang ke kantor ku sekarang!" pinta Rey lalu langsung menutup teleponnya.


Rey mendekati Vina, ia duduk di lantai seraya menggenggam tangan Vina erat. Tangan Rey sesekali mengusap wajah pucat Vina dengan lembut.


"Apa yang terjadi denganmu, Vin." Lirih Rey tampak berkaca-kaca hanya karena melihat kondisi gadis yang dicintainya itu.


***


Dokter selesai memeriksa keadaan Vina, Rey langsung saja menghujani dokter pribadinya itu dengan banyak pertanyaan.


"Apa yang terjadi padanya, Dok. Tidak ada yang serius kan?" tanya Rey panik.


"Nona ini kekurangan cairan, ia sepertinya tidak makan sejak kemarin sehingga kondisinya begitu lemah. Ia juga terlihat tertekan dan banyak pikiran, itu sangat mengganggu kesehatannya, jadi tolong ke depannya jangan membuatnya stress. Saya permisi, Pak." Jelas Dokter kemudian pergi


Rey terdiam. Apakah Vina tertekan karena memikirkan jawaban atas pernyataan cintanya???


Ribuan pertanyaan mulai memenuhi kepala Rey, ia langsung menatap Vina yang masih belum sadarkan diri. Rasa bersalah hinggap dadanya.


"Vina, maafkan aku. Aku tahu kau begini pasti karena berusaha memikirkan tentang jawabannya kan, aku minta maaf." Bisik Rey sambil menciumi tangan Vina.


Rey begitu menyesal karena merasa telah menekan gadis itu, namun ia juga tak akan pernah melepaskan Vina, apalagi untuk pria hidung zebra itu. Vina adalah miliknya, dan ia pastikan bahwa gadis itu hanya akan menikah dengannya.


"Aku minta maaf, Sayang. Aku janji setelah ini hanya akan ada kebahagiaan," bisik Rey sungguh-sungguh dan semakin semangat untuk menemui orangtua Vina.


WAHHH SELAMAT DAN SEMANGAT KALIAN😘


BERSAMBUNG....................................