Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Rencana Tiga Sahabat


"Pada suatu saat, paduka Prabu bercerita kepadaku dan menitahkan amanat padaku," kata Ki Ageng Arisboyo kemudian bercerita, "Paduka Prabu Brawijaya, selepas turun tahta, melakukan semedi untuk meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Dalam semedinya beliau mendapatkan wangit bahwa kejayaan Kerajaan Majapahit akan memudar dan akan digantikan oleh kerajaan baru dengan tatanan baru dan dasar keyakinan yang baru.


Maka dengan segala kebijaksanaannya, Paduka Prabu Brawijaya memutuskan untuk pergi meninggalkan istana dan menyepi ke Gunung Lawu, mendekatkan diri pada Yang Kuasa hingga moksa menuju nirwana.


Sebelum pergi menuju ke Gunung Lawu, beliau berpesan kepadaku, untuk menyampaikan ke semua anak keturunannya. Agar menerima takdir dari Yang Maha Kuasa, menerima dan mendukung kerajaan yang baru. Beliau juga berpesan agar semua anggota keluarga istana dan semua ksatria Majapahit jangan pernah berpikir untuk memaksakan tetap berdirinya Kerajaan Majapahit.


"Selama Ki Ageng bertapa di Parangtritis, apakah Ki Ageng sudah mendapatkan petunjuk ?" tanya Ki Penahun lagi, "dan apa yang akan Ki Ageng lakukan ?"


"Aku pernah mendapatkan wangsit bahwa wahyu keprabon, yang terpilih menjadi raja kelak, tidak akan jauh dari Parangtritis," jawab Ki Ageng Arisboyo, maka aku akan tetap menunggu di Parangtritis. Sambil menunggu, aku akan menyampaikan amanat dari paduka Prabu Brawijaya. Dan aku juga akan berusaha mencegah usaha melawan titah beliau."


Kemudian ganti Ki Penahun bercerita.


Dalam ontran ontran keluarga dalem, Ki Penahun berhasil menyelamatkan Lintang Rahina yang saat itu masih bayi berumur satu tahun. Tetapi tidak dengan kedua orangtuanya, yang mati terbunuh dalam ontran ontran, entah siapa yang membunuhnya dan atas suruhan siapa.


Akhirnya Ki Penahun bersama istrinya yang dulunya mendapat kepercayaan untuk mengajar sastra pada anggota keluarga kerajaan, membawa Lintang Rahina kecil mengembara sambil mencari tempat yang tepat untuk tinggal.


Hingga sampailah Ki Penahun di sebuah hutan lebat di punggung gunung Merbabu, dan akhirnya Ki Penahun memutuskan untuk menetap di pinggir hutan itu.


"Kalau Ki Pradah, tentunya juga ada hal hal yang bisa diceritakan, Ki," tanya Ki Penahun.


"Aku pernah bertemu dengan Ki Rekso. Dia masih tetap seperti dulu. Berambisi untuk mengembalikan kejayaan Majapahit," kata Ki Pradah.


"Ohhh ya Ki Penahun," kata Ki Pradah lagi, "kamu beruntung punya murid Lintang Rahina. Ada yang ingin kutanyakan kepadamu tentang bocah itu. Bocah itu mengaku sebagai murid sekaligus cucumu."


"Hmmm....Ki pradah," Ki Penahun bertanya sambil tersenyum, "apa Ki Pradah sampai sekarang belum menyadari, siapa Lintang Rahina ?"


"Apakah dia bocah yang kau maksud itu ?" Ki Pradah bertanya.


"Iya Ki," Ki Penahun menjawab pendek dan kemudian bercerita, "Lintang Rahina adalah anak yang aku selamatkan. Dia adalah cucu dari Kanjeng Ratu Dara Jingga. Kedua orangtuanya terbunuh saat ontran ontran berebut hak di keluarga istana setelah Paduka Prabu Brawijaya meninggalkan istana."


"Bocah itu sempat mempelajari 'Ranting Pemungut Sampah' selama tinggal beberapa hari denganku," sahut Ki Pradah, "pantas saja, saat mengobati dan melatihnya, aku merasakan ada sesuatu yang istimewa pada diri anak itu."


"Ki Penahun," Ki Ageng Arisboyo buka suara setelah sejak tadi hanya mendengarkan saja, "Anak muda yang mengaku bernama Lintang Rahina dan mengaku sebagai cucu dan muridmu, juga sempat berlatih denganku. Tubuhnya memang istimewa."


Ki Penahun yang tidak menyangka, muridnya Lintang Rahina yang sedang mengembara, bertemu bahkan sempat menjadi murid mereka berdua, terkejut bercampur senang.


"Benarkah Ki Ageng, Ki Pradah ?" tanya Ki Penahun, "jagad Dewa Batara, ini mungkin memang sudah digariskan oleh Yang Kuasa."


"Ha ha ha.... Anak satu satunya pemilik darah trah Majapahit, yang paling berhak atas tahta, ternyata menjadi murid kita bertiga," kata Ki Penahun sambil tertawa.


"Baiklah, sekarang apa rencana kita," tanya Ki Ageng Arisboyo.


"Kita harus mencegah dan menghentikan rencana Ki Rekso untuk mengangkat raja baru penerus kerajaan Majapahit," kata Ki Pradah.


"Aku akan mencari Lintang dulu. Selain memberitahukan wangsit yang saya terima, juga menceritakan tentang rencana kita ini," Ki Penahun menyampaikan rencananya.


"Kita segera saja menyelesaikan urusan masing masing, setelah itu kita segera bertemu lagi di Lawu," Ki Penahun mengatakan rencananya, "bagaimana Ki Pradah ?"


"Aku setuju. Kita bertemu lagi di tempatku," jawab Ki Pradah, "kalau bisa ajak teman teman lama yang sepemikiran dengan kita."


"Sebaiknya besok pagi kita segera pergi," kata Ki Ageng Arisboyo, "agar kita bisa segera bertemu di Lawu."


 


Pagi di hari berikutnya, Ki Pradah dan Ki Ageng Arisboyo berpamitan pulang menuju tempat tinggalnya masing masing.


Ki Penahun, berencana untuk tetap di tempat tinggalnya beberapa hari dulu untuk menunggu Lintang Rahina pulang. Kalau dalam beberapa hari Lintang Rahina tidak pulang, Ki Penahun akan pergi mencari sambil melakukan perjalanan ke Lawu.


 


Ki Rekso dan kedua temannya, Ki Pratanda dan Ki Kawungka yang mengalami luka dalam saat bentrok dengan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum yang kemudian dilanjut melawan Ki Sardulo yang menolong Sekar Ayu Ningrum, kembali ke gunung Lawu untuk menyembuhkan luka lukanya.


Mereka berencana untuk mencari keberadaan Ki Dipa dan Ki Wangsa, dua senopati Majapahit yang sangat sakti dan sangat setia kepada Prabu Brawijaya, hingga perjalanan Prabu menuju ke tempat pertapan pun mereka berdua menyertainya. Untuk menjaga keselamatan Prabu Brawijaya dalam bertapa, mereka tinggal di kampung terdekat


Hingga sampailah mereka di lereng gunung Lawu. Mereka bertiga mencari perkampungan yang berada di lereng gunung Lawu. Karena kabarnya, Ki Dipa menyamar menjadi seorang pemuka kampung untuk menyembunyikan indentitas dirinya yang asli yaitu seorang senopati Majapahit.


Setelah bertanya tanya pada beberapa penduduk yang mereka temui, Ki Rekso dan kedua temannya yakin kalau Ki Dipo ada di kampung yang mereka datangi.


Ki Rekso dan kedua temannya langsung menuju rumah kepala kampung.


Sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup besar tapi nampak sederhana. Yang hanya dihuni oleh Ki Dipo dan sepasang suami istri yang menjadi pembantunya mengurusi rumah.


Di depan rumah, mereka bertiga disambut oleh seorang laki laki tua yang masih tampak gagah.


Walau sedikit terkejut dengan kedatangan Ki Rekso dan kedua temannya karena bisa terbaca oleh Ki Dipa besarnya energi yang mereka bertiga miliki, tetapi Ki Dipa tetap pura pura belum tahu dan bertanya.


"Kisanak," tanya Ki Dipa, "siapa kalian bertiga ini ? Dan ada keperluan apa datang ke dusun ini ?"


"Ki Dipo," jawab Ki Rekso, "sebelumnya kami bertiga minta maaf karena telah mengganggu ketenteraman Ki Dipo. Tetapi saya yakin Ki Dipo sudah mengetahuinya. Saya Ki Rekso bersama Ki Kawungka dan Ki Pratanda. Dan Ki Dipa adalah senopati yang sangat dekat dengan Prabu Brawijaya."


Ki Dipa terdiam sesaat sambil memandangi wajah Ki Rekso dan kedua temannya.


"Kita bicara di dalam," kata Ki Dipa sambil melangkah masuk ke ruang tengah rumahnya.


\_\_\_ 0 \_\_\_