Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Menyelamatkan Ki Pradah IV


Keempat tokoh tua dunia persilatan, Ki Penahun, Ki Dipo Menggala, Ki Ageng Arisboyo serta Resi Nirartha Pradnya baru saja memperbaiki kuda kudanya, ketika tubuh Ki Pradah kembali melesat ke atas lagi dan melayangkan pukulannya kembali.


Baaammm !!!


Kembali lagi kurungan benang jiwa bergetar dengan hebat. Di keempat masing masing sudut, Ki Penahun, Ki Dipo Menggala, Ki Ageng Arisboyo dan Resi Nirartha Pradnya kembali terguncang seluruh tubuhnya hingga menggoyahkan kuda kudanya.


Bahkan di kedua sudut bibir mereka berempat terlihat mengeluarkan darah.


Dalam situasi yang mengharuskan keempat tokoh tua itu harus tetap berkonsentrasi penuh pada kurungan benang jiwa yang mereka bentuk, terjangan tubuh Ki Pradah pada kurungan benang jiwa terjadi beberapa kali di beberapa tempat, sehingga membuat kurungan benang jiwa itu mengalami retakan di beberapa tempat dan mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sedangkan keempat tokoh itu sudah maksimal dalam bertahan dan sudah kehabisan energi.


Sementara di dalam kurungan benang jiwa, melihat tubuh Ki Pradah menyerang langit langit dan beberapa tempat yang lain pada kurungan benang jiwa, Lintang Rahina segera menambah aliran energinya. Butiran sinar kuning keemasan segera meluap dari seluruh tubuh Lintang Rahina.


Selain sebagian yang membentuk bunga teratai di bawah kakinya, sebagian yang lain terpusat di kedua telapak tangan Lintang Rahina.


Ketika tubuh Ki Pradah kembali melesat ke atas, dengan sangat cepat, Lintang Rahina sudah menghadang di atasnya.


Tubuh Ki Pradah yang melesat cepat, tidak sempat berhenti, segera dipapaki Lintang Rahina yang meluncur ke bawah dengan pukulan telapak tangan ke arah dada kiri tubuh Ki Pradah.


Buuuggghhh !!!


Telapak tangan kanan Lintang Rahina tepat mengenai dada kiri tubuh Ki Pradah.


Telapak tangan kanan Lintang Rahina yang menempel di dada kiri Ki Pradah terus saja mendorong tubuh Ki Pradah ke bawah.


Mereka berdua meluncur ke bawah dengan sangat cepat dengan telapak tangan kanan Lintang Rahina tetap menempel di dada tubuh Ki Pradah.


Dbuuummm !!!


Terjadi luapan energi yang sangat besar dan suara ledakan yang sangat keras saat tubuh Ki Pradah terhempas di tanah. Luapan energi itu menyebar ke semua arah hingga membuat kurungan benang jiwa hancur dan keempat tokoh tua yang berdiri di tiap tiap sudut kurungan benang jiwa ikut terhempas dan terlempar ke belakang hingga beberapa depa.


Selain itu, timbul kepulan debu yang sangat tebal saat tubuh Ki Pradah terhempas ke tanah di halaman depan rumah Ki Pradah yang sudah rusak berantakan.


Saat kepulan debu itu menipis terlihat hempasan tubuh Ki Pradah menimbulkan lubang di tanah berbentuk lingkaran sedalam lutut dengan sampai lima depa.


----- o -----


Sementara itu di bawah puncak, pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Lian semakin sengit. Tubuh keduanya sudah penuh dengan luka. Pakaian mereka berdua pun sudah rusak di banyak bagian.


Pada awal awal pertarungan dengan menggunakan senjata, Sekar Ayu Ningrum masih sedikit kewalahan menghadapi serangan energi yang merembet lewat suara lengkingan seruling yang terkena angin. Sehingga sampai puluhan jurus, Sekar Habiskan untuk bertahan sambil mempelajari cara menghadapi serangan lawan.


Sekar Ayu Ningrum teringat saat dia bertarung melawan Prabu Wisa. Dengan menggunakan tehnik yang diajarkan kakeknya saat latihan di pantai, berlatih menghadapi dan menaklukkan hembusan angin pantai Parangtritis yang sangat kencang, Sekar Ayu Ningrum bisa mengalahkan Prabu Wisa.


Akhirnya Sekar Ayu Ningrum terpikir untuk menggunakan tehnik yang sama untuk menghadapi serangan energi suara dari Lian.


Sekar Ayu Ningrum mulai memfokuskan semua inderanya, menghadapi suara lengkingan seruling Lian, dia umpamakan seolah menghadapi hembusan angin pantai.


Perlahan, Sekar Ayu Ningrum tanpa menyadarinya tidak merasa terganggu lagi dengan datangnya serangan energi suara.


Saat mereka berdua masih mengadu kekuatan energi, terdengar suara ledakan keras yang sampai ke telinga mereka berdua.


Mereka berdua belum menyadari dari mana dan apa yang meledak begitu kerasnya, saat disusul dengan datangnya gelombang luapan energi yang sangat besar yang seketika menghempaskan tubuh mereka berdua sampai jauh dari tempat pertarungan mereka.


----- o -----


Di dasar lubang besar yang terbentuk karena ledakan akibat luapan energi, tubuh Ki Pradah meronta ronta disertai teriakan yang sangat keras.


Aarrrccchhh .... !!!


Dari telapak tangan kanan Lintang Rahina yang tetap menempel di dada kiri tubuh Ki Pradah yang tergeletak di dasar lubang, keluar butiran sinar kuning keemasan yang terus masuk ke tubuh Ki Pradah melalui dada kirinya. Hal inilah yang membuat tubuh Ki Pradah sangat kesakitan dan berteriak dengan kerasnya.


Butiran sinar kuning keemasan itu langsung menuju jantung, paru paru dan kepala Ki Pradah. Beberapa saat kemudian, butiran sinar kuning keemasan itu menyebar ke seluruh tubuh Ki Pradah.


Setelah butiran sinar kuning keemasan itu sudah menguasai organ organ vital dan tubuh Ki Pradah, tubuh Ki Pradah berhenti berteriak. Kemudian Lintang Rahina melepaskan telapak tangan kanannya dari dada kiri Ki Pradah.


Dalam posisi Lintang Rahina berdiri di samping tubuh Ki Pradah, aliran butiran sinar kuning keemasan tetap keluar dari telapak tangan kanannya.


Kemudian Lintang Rahina juga mengacungkan tangan kirinya sejajar dengan tangan kanannya. Dari telapak tangan kirinya juga mengeluarkan butiran sinar kuning keemasan yang diarahkan ke tubuh Ki Pradah. Membuat tubuh Ki Pradah terselimuti butiran sinar kuning keemasan seluruhnya.


Dengan merubah sedikit kuda kudanya, Lintang Rahina membuat tubuh Ki Pradah pelan pelan terangkat dari dasar lubang besar sehingga melayang dalam posisi terlentang.


Lintang Rahina mundur beberapa langkah, sehingga posisi berdirinya tidak lagi berada di tengah tengah dasar lubang, namun berdiri di agak kepinggir lubang.


Sambil melangkah mundur, Lintang Rahina menaikkan posisi kedua telapak tangannya sehingga tubuh Ki Pradah ikut melayang naik hingga setinggi dada Lintang Rahina.


Kemudian Lintang Rahina menarik tangan kanannya tepat ke depan dada dengan posisi jari merapat terbuka ke arah samping kiri. Sedangkan telapak tangan kirinya tetap menahan tubuh Ki Pradah melayang.


Dengan menambah aliran energi ke tangan kanannya dan disertai dengan membaca suatu mantera dari kitab 'Nafas Raja', Lintang Rahina mengeluarkan pendaran sinar putih pekat dari telapak tangan kanannya.


Sinar putih pekat itu dengan cepat menyelimuti telapak tangan kanannya sampai batas pergelangan tangan.


Kemudian Lintang Rahina mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah tubuh Ki Pradah yang masih melayang.


Blappp !!!


Pendaran sinar putih pekat itu menghantam tubuh Ki Pradah dan dengan cepat menyelimuti tubuh Ki Pradah.


Sehingga sekarang, tubuh Ki Pradah diselimuti dua sinar sekaligus yang masing masing keluar dari telapak tangan kanan dan kiri Lintang Rahina.


Beberapa saat kemudian, tubuh Ki Pradah terlihat menggeliat geliat kesakitan seperti ada sesuatu yang ditarik secara paksa dari tubuhnya. Matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar seperti orang berteriak, namun tidak keluar suaranya.


__________ 0 __________