
Pada pagi hari berikutnya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera melanjutkan perjalanannya ke arah barat.
Sama seperti hari sebelumnya, mereka berdua merasakan ada beberapa getaran energi mengikuti mereka. Bahkan, kali ini ada tiga titik getaran energi yang mereka berdua rasakan, mempunyai energi yang sangat kuat.
Namun, selama hanya mengikuti dan tidak membuat perjalanan mereka terhambat, mereka biarkan saja.
Setelah berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh selama setengah hari, mereka tiba di perbatasan tlatah Pasundan.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tidak menghentikan lari mereka. Terus saja mereka memasuki tlatah Pasundan. Karena mereka berusaha, sore hari sudah tiba di perbatasan hutan Panjalu.
Saat mulai memasuki tlatah Pasundan, mereka berdua merasakan ada sedikit keanehan. Tiga titik getaran energi yang sejak awal berangkat selalu mengikuti mereka, begitu mereka masuk tlatah Pasundan, tiga titik getaran energi itu menghilang.
----- * -----
Sementara itu, jauh di belakang Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Setelah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum memasuki tlatah Pasundan, dan mulai melakukan perjalanan menuju hutan Panjalu, ketiga titik getaran energi yang mengikuti mereka berdua, berhenti.
Tepat di perbatasan, tiga orang yang mempunyai energi yang sangat besar, yaitu Ki Rowangbala, Nyi Lanjar Wangi dan Ki Aswa Kumara sedang berbincang dengan seorang anak kecil.
Mereka bertiga itulah, tiga titik getaran energi yang membuntuti perjalanan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum hingga ke perbatasan.
"Kalian sudah melakukan tugas yang diberikan oleh putri Dyah Pawatu dengan baik. Sampai di sini, biar aku yang melanjutkan. Sekarang, kerjakan tugas yang kedua, yang sudah dimulai oleh Ki Buyut Jalu Wisesa. Cepat susul dan bergabung dengan dia. Tenang saja, obatku sudah bekerja pada mereka !" kata anak kecil itu.
"Baiklah Ki Ujang Galih, kami serahkan padamu. Kami akan segera kembali ke timur," jawab Ki Rowangbala.
Kemudian, tanpa mengulur waktu, Ki Rowangbala, Ki Aswa Kumara dan Nyi Lanjar Wangi segera melesat lagi menuju ke arah timur.
Setelah ketiganya sudah jauh meninggalkan tempat ini anak kecil yang dipanggil dengan nama Ki Ujang Galih segera membalikkan badan. Matanya menatap jauh ke arah depan dengan bibir yang tersungging sebuah senyuman.
"Aku harus bisa memisahkan mereka !" Ki Ujang Galih berbisik pelan.
Sesaat kemudian, tubuhnya tiba tiba lenyap dari tempatnya berdiri karena begitu cepatnya ilmu meringankan tubuhnya.
Ki Ujang Galih adalah sekutu utama sekaligus orang yang sangat dipercaya oleh Putri Dyah Pawatu.
Sebenarnya usianya sudah tua, sama seperti Ki Buyut Jalu Wisesa yang juga orang kepercayaan Putri Dyah Pawatu.
Tubuhnya, wajah, suara dan semuanya menjadi seperti anak kecil, karena akibat dari ilmu yang dimilikinya.
Ki Ujang Galih menekuni dan ahli dalam ilmu racun yang dikombinasikan dengan kemampuan mengendalikan dan memanfaatkan siluman dengan melakukan ritual tertentu yang membutuhkan tumbal atau pengorbanan.
Saat mempelajari ilmu silat yang menggunakan racun sebagai senjata utamanya, ternyata berakibat tubuh Ki Ujang Galih perlahan berubah menjadi seperti anak kecil. Selain itu, racun yang berada di dalam tubuhnya membuat Ki Ujang Galih bisa membuat tingkat energinya tidak bisa dibaca oleh orang lain. Apalagi kalau orang itu energinya setingkat atau bahkan di bawahnya, tidak akan bisa membaca getaran energinya.
Sedangkan bagi orang lain yang tingkat energinya di atasnya, juga tidak semuanya bisa dengan cepat membaca tingkat energinya.
Selain ahli dalam hal penggunaan racun, Ki Ujang Galih juga ahli dalam ilmu meringankan tubuh.
Dengan semua kemampuannya itu, membuat Ki Ujang Galih sangat disegani oleh orang orang dunia persilatan.
Bahkan selama ini belum ada tokoh dunia persilatan yang mampu mengalahkannya, kecuali Putri Dyah Pawatu.
Karena hal itulah, Putri Dyah Pawatu menjadikannya sebagai orang kepercayaannya bersama sama dengan Ki Buyut Jalu Wisesa.
----- * -----
Mereka berdua tiba di kaki gunung yang terlihat menjulang tinggi, hanya berjarak sehari dengan Lintang Rahina.
Di suatu tempat yang pemandangannya sangat indah, mereka berdua mendengar suara tangisan anak kecil.
Setelah mereka berdua mencari cari, akhirnya mereka menemukan seorang anak laki laki kurus tergeletak di dasar jurang yang tidak terlalu dalam. Anak laki laki itu kelihatannya kelaparan dan sudah hampir pingsan.
Segera saja Ki Jagad Anila menolong dengan mendudukkan anak laki laki itu dan kemudian memberinya minuman dan makanan.
Setelah menghabiskan minuman dan makanan yang diberikan padanya, anak laki laki itu terlihat agak segar dan cukup bertenaga untuk berbicara.
"Ngger, siapa kamu dan dimana kamu tinggal ?" tanya Ki Jagad Anila.
"Sa ... saya Ujang, kek" jawab anak kecil itu.
"Kenapa kamu bisa sampai di sini ngger ?" tanya Ki Jagad Anila lagi.
"Saya mencari kambing saya yang hilang, kek" jawab Ujang.
"Dimana kira kira hilangnya, ayo kami bantu," kata Ki Jagad Anila lagi. Sementara Ki Jagad Dahana yang sejak awal masih diam saja melihat ke beberapa tempat seolah sedang memastikan sesuatu.
"Di sana kek !" jawab Ujang sambil berdiri dan menuding ke arah hulu.
Kemudian tanpa menunggu lagi, Ujang berjalan menyusuri dasar jurang menuju ke arah hulu dengan diikuti oleh Ki Jagad Anila dan Ki Jagad Dahana dari belakang.
Setelah beberapa saat, sampailah mereka ditempat yang cukup luas. Terlihat sebuah kolam yang cukup besar dengan airnya yang hangat.
Kolam itu airnya cukup melimpah hingga sampai mengalir membentuk aliran sungai kecil.
Begitu luasnya tempat itu, sehingga sudah tidak terlihat seperti jurang lagi. Namun lebih seperti dataran dengan kolam air hangat yang dikelilingi oleh tebing tebing.
Udara di tempat itu dipenuhi dengan uap air hangat yang baunya cukup menyengat dengan bau belerang.
Tiba tiba, Ki Jagad Anila dan Ki Jagad Dahana merasakan adanya getaran energi siluman.
Segera saja Ki Jagad Anila melesat ke suatu tempat di antara kolam dengan dinding tebing. Disitu Ki Jagad Anila melihat, ada siluman berwujud anjing hutan yang sedang menjilati sisa sisa tulang.
Segera saja Ki Jagad Anila menyerang siluman anjing hutan itu. Hanya butuh waktu sebentar, Ki Jagad Anila berhasil membunuh siluman itu.
Kemudian, oleh Ki Jagad Dahana, tubuh siluman anjing hutan itu dimusnahkan dengan cara membakarnya dengan energi api.
Setelah siluman itu musnah, Ki Jagad Anila mendekati Ujang yang kembali menangis meratapi kambingnya yang tinggal tulang belulang.
Ki Jagad Anila berusaha menghibur Ujang dan memberinya uang yang cukup untuk membeli seekor kambing sebagai pengganti kambing yang hilang.
Begitu senangnya Ujang, hingga mengucapkan terimakasih berulang ulang dan kemudian berlari kencang menuju ke arah bawah sambil tertawa senang.
Sedangkan Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila untuk beberapa waktu masih berdiri di pinggir kolam air hangat yang selalu mengeluarkan asap yang memenuhi wilayah di sepanjang tempat yang dikelilingi tebing.
Kemudian, mereka berdua pun meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan.
__________ ◇ __________