Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Bertemu Lagi


Sunu Magani berjalan ke arah lorong goa yang dihuni oleh ribuan kelelawar.


Tepat di mulut lorong, Sunu Magani mengeluarkan suara pekikan seperti suara kelelawar.


Ciiittttt !!!


Tiba tiba semua kelelawar yang berada di goa itu terbang ke arah Sunu Magani.


Sunu Magani segera mengangkat tangan kanannya, seketika dari tangan kanannya keluar banyak sekali serabut cahaya berwarna merah dan kemudian menggerakkan pergelangan tangan kanannya seperti membuat lingkaran.


Kelelawar kelelawar itu seperti lenyap saat terbang masuk ke lingkaran serabut cahaya berwarna merah.


Setelah tidak ada kelelawar yang tersisa, Sunu Magani menangkupkan kedua telapak tangannya dan kemudian kedua telapak tangan itu membuat gerakan tertentu. Dari antara kedua telapak tangan Sunu Magani keluar angin yang berputar. Angin yang berputar itu semakin lama semakin besar.


Sunu Magani mengarahkan angin berputar itu ke batu yang menjulang di tengah ruangan goa.


Batu itu tiba tiba terangkat ke atas. Kerangka yang berada di atasnya meluncur ke lobang bekas batu tadi dengan posisi tetap bersila. Disusul kemudian seluruh dinding dan atap goa runtuh menutupi kerangka yang berada di dalam lobang dan batu menjulang yang tadinya terangkat tiba tiba jatuh menghujam seperti membentuk sebuah makam dengan nisannya.


"Semua pesanmu telah aku laksanakan resi, semoga resi bisa beristirahat dengan tenang," kata Sunu Magani pelan sambil membungkukkan badan.


Setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh goa itu, Sunu Magani melangkah keluar goa.


Sampai di mulut goa, Sunu Magani mengeluarkan pekikan seperti suara kelelawar dan sesaat kemudian tubuhnya melesat ke arah utara, ke arah pedalaman.


 


Karena melakukan perjalanan dengan berjalan kaki biasa, maka Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bisa mendapatkan banyak informasi tentang keadaan suatu daerah dan masyarakatnya dan juga kabar kabar tentang dunia persilatan.


Salah satu kabar yang berhasil diperoleh Lintang Rahina adalah, munculnya seseorang berkekuatan iblis yang mampu menghancurkan satu kota sendirian. Dengan kekuatannya itu sudah berbuat semena mena dan menyengsarakan penduduk ataupun para pendekar yang menentangnya. Banyak pendekar yang ditundukkan secara paksa tunduk padanya, tetapi banyak juga pendekar pendekar yang secara sukarela mengikutinya. Sedangkan yang tidak mau mengikutinya banyak yang dilumpuhkan, ditahan bahkan ada yang dibunuh.


Sejak kemunculannya, belum ada pendekar yang bisa menghentikannya.


Mendengar hal itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melanjutkan perjalanan ke arah timur untuk mencari keberadaan pendekar berkekuatan iblis itu.


Dalam perjalanannya itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mendengar kalau banyak pendekar yang berkumpul di sekitar daerah Trowulan.


Mereka berdua pun segera menuju ke Trowulan untuk melihat kebenarannya dan melihat akan ada kejadian apa.


Setelah dua hari Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melakukan perjalanan dengan ilmu meringankan tubuh mereka, sampailah mereka di daerah yang mereka perkirakan menjadi tempat berkumpulnya para pendekar.


Mereka berdua mempercepat lari mereka saat mendengar di depan mereka agak jauh seperti ada pertarungan.


Beberapa saat kemudian, di depan mereka terlihat pertarungan dua orang wanita melawan seorang laki laki muda.


Lintang Rahina sangat mengenal mereka semua. Kedua wanita itu adalah Galuh Pramusita dan Ni Sriti. Sedangkan laki laki itu adalah Arga Manika.


Galuh Pramusita dan Ni Sriti bisa segera mengejar dan menemukan Arga Manika, dengan mencari kabar di sepanjang perjalanan mereka.


Mereka berdua sejak dari padepokan 'Wesi Kuning' terus mengejar dan mencari orang yang mereka sempat rasakan mempunyai energi yang sangat tinggi, yang telah mencelakakan banyak orang.


Galuh Pramusita dan Ni Sriti bisa dengan mudah menemukan dan mengikuti kemanapun Arga Manika pergi, karena di setiap tempat, Arga Manika selalu membuat kekacauan dengan menundukkan banyak sekali pendekar pendekar di tempat tempat yang dia lewati. Tetapi selalu saja Galuh Pramusita dan Ni Sriti terlambat untuk menghadangnya.


Begitu sampai di daerah Trowulan, Galuh Pramusita dan Ni Sriti mempunyai kesempatan untuk menyerang orang dengan energi yang sangat tinggi itu, saat orang itu sedang melesat ke tengah kota.


Mereka melihat ada yang berbeda dengan Arga Manika.


"Kakang Arga, kenapa kau melakukan semua kejahatan ini ?" teriak Galuh Pramusita ingin tahu saat mereka berdua sampai di depan Arga Manika.


"Siapapun yang menghalangiku, akan aku musnahkan !" jawab Arga Manika.


"Nduk, ini sudah bukan murni tubuh dan jiwanya. Hati hati, energinya sangat tinggi dan pikirannya sudah terpengaruh iblis," bisik Ni Sriti pada Galuh Pramusita.


"Iya Ni," jawab Galuh Pramusita.


Galuh Pramusita baru hendak berkata lagi saat lengan kanan Arga Manika tiba tiba timbul ledakan energi.


Blammm !!!


Lengan Arga Manika tiba tiba berubah menjadi dua dan panjangnya melebihi lengan manusia biasa. Lengan yang satu telapak tangannya berubah menjadi kepala ular sedangkan lengan yang lainnya jari jarinya memanjang dengan kuku kuku yang hitam dan juga panjang.


Tanpa memperdulikan kedua orang di hadapannya, Arga Manika segera melesat ke arah Galuh Pramusita dan Ni Sriti.


Kedua orang yang sudah sejak awal bersiap itu segera menghindari serangan awal Arga Manika berupa lemparan bola bola energi api. Sesaat kemudian mereka bertiga sudah saling serang.


Galuh Pramusita yang sudah paham akan sifat serangan bola api, menghindarinya dengan mudah dan dengan pedang di tangan kanannya, dia memainkan perubahan energi berbentuk api juga, tetapi berbeda dengan sifat energi api dari Arga Manika.


Dari ujung pedang Galuh Pramusita keluar energi api berbentuk ujung pedang yang bertubi tubi mencecar tangan kanan Arga Manika yang berwujud kepala ular.


Plasss ! Plasss ! Plasss !


Crasss !!!


Energi berbentuk pedang yang dilesatkan oleh Galuh Pramusita berhasil mengenai kepala ular dan menembusnya. Bahkan sabetan pedangnya berhasil membabat putus kepala ular itu. Kepala ular itu jatuh dan kemudian meledak.


Blarrr !


Arga Manika bukannya marah, sebaliknya, dia tertawa keras dan tiba tiba, lengan kanannya yang satu yang sudah putus, muncul kembali kepala ular yang lebih besar lagi.


Sedangkan Ni Sriti yang sudah mengeluarkan benang benang energinya, segera melesat dan benang miiknya mengarah ke lengan kanan Arga Manika yang berubah menjadi panjang dengan jari jari dan kuku kuku yang panjang.


Trikkk ! Trikkk ! Trikkk !


Tassssh !!!


Demikian pula serangan Ni Sriti. Benang benangnya mampu mengiris kuku kuku lengan kanan Arga Manika hingga putus, dan berhasil menyayat hingga putus pada pergelangan tangan kanan Arga Manika.


Tetapi, seperti halnya lengan yang satunya. Lengan yang berhasil diputus oleh Ni Sriti, tiba tiba muncul lagi lengan dengan ukuran yang lebih besar.


Ni Sriti memberi kode pada Galuh Pramusita untuk menyerang lagi dan bertukar sasaran.


Tetapi, setiap mereka berdua berhasil melukai ataupun membabat putus lengan kanan Arga Manika, tidak berapa lama , lengan itu akan tumbuh lagi.


___0___