Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Yang Ke Dua II


"Ha ha ha ha ha....Akhirnya aku berhasil menguasai ilmu Lawa Laksa ! Adik adikku, tunggulah, aku akan mencari kalian dan mengajak kalian tinggal bersamaku. Ha ha ha ha.....!!!" teriak Warok Bandring Saloka.


Kemudian Warok Bandring Saloka masuk ke dalam goa untuk mengambil barang barang yang akan dibawanya selama dalam perjalanan.


Warok Bandring Saloka berencana, sebelum melakukan perjalanan mencari kepastian nasib adik adik seperguruannya, dia akan mampir ke perguruan Ki Rekso untuk berpamitan.


Setelah semuanya siap, Warok Bandring Saloka segera keluar goa dan kemudian bibirnya komat kamit membaca mantra untuk menutup goa dengan pintu gaib yang tak kasat mata. Sekejap saja, goa itu sudah tidak nampak, yang terlihat hanya dinding tebing pinggir pantai seperti biasa.


Tanpa menunggu lama, Warok Bandring Saloka melesat cepat ke arah pedalaman menuju perguruan Ki Rekso.


--- 0 ---


Sore hari, Lintang dan Ki Pradah sampai di suatu perkampungan di pesisir laut selatan. Segera saja mereka berdua mencari tempat untuk menginap dan sekaligus untuk mencari makan. Mereka berencana, besok paginya akan menyusuri sepanjang pantai selatan di sekitar daerah itu untuk mencari keberadaan goa dan Warok Bandring Saloka.


Pagi pagi sekali, bahkan matahari pun belum muncul, terlihat Lintang dan Ki Pradah sudah berjalan menyusuri pantai menuju ke arah timur.


Hingga di suatu tempat yang tebingnya lumayan tinggi dan curam, yang langsung bersentuhan dengan pantai, Lintang Rahina dan Ki Pradah merasakan ada keanehan. Setelah mereka memperkuat mata batin mereka, terlihat oleh mereka sebuah goa yang sudah kosong. Lintang Rahina dan Ki Pradah bisa merasakan kalau goa itu sudah kosong.


Sebenarnya pintu gaib bermantra yang dibuat Warok Bandring Saloka sudah tingkat tinggi. Hanya orang orang dengan kemampuan tingkat tinggi saja yang bisa menerobosnya.


Karena apa yang mereka cari sudah tidak ada di tempatnya, Lintang Rahina dan Ki Pradah langsung melanjutkan perjalanannya. Kali ini mereka menuju pedalaman lagi.


Karena melewati tebing tebing dan kemudian hutan jati, mereka berdua pun mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka. Sehingga yang terlihat hanyalah kelebatan dua bayangan, bahkan terkadang hanya terasa kesiuran anginnya.


--- 0 ---


Setelah melakukan perjalanan dengan ilmu meringankan tubuh, Warok Bandring Saloka sampai di tempat dia terakhir bertarung dengan Litang Rahina.


Maka Warok Bandring Saloka pun berkeliling daerah sekitarnya, siapa tahu bertemu orang atau penduduk sekitar yang bisa memberi informasi tentang nasib tiga adik seperguruannya.


Hingga diujung kampung kecil, Warok Bandring Saloka bertemu beberapa orang petani warga kampung itu.


"Heiii kalian, apakah kalian tahu, kemana perginya tiga orang yang terluka di padepokan sana ? Satu wanita dan dua pria," tanya Warok Bandring Saloka sambil menuding ke arah bekas padepokannya.


Salah seorang yang ternyata kepala dukuh di kampung itu menjawab, "Me...mereka sudah ma...mati Ki. I...itu kuburannya di pinggir hutan dekat padepokan....di ba....bawah pohon asam."


"Kalian tidak bohong ?" tanya Warok Bandring Saloka dengan agak gemetar menahan kekagetannya.


"Tid....tidak Ki....kami yang menguburkannya..." jawab kepala dukuh lagi.


"Baiklah....aku percaya pada kalian. Terimakasih telah merawat jasad mereka," kata Warok Bandring Saloka lagi.


Tanpa menunggu lagi jawaban mereka, dalam sekejab Warok Bandring Saloka lenyap dari hadapan mereka.


Mereka para penduduk kampung kecil itu merasa lega, karena Warok Bandring Saloka sudah pergi.


Sebenarnya, para penduduk yang ditanya oleh Warok Bandring Saloka tadi tidak sepenuhnya jujur tapi juga tidak sepenuhnya berbohong.


Di sekitar reruntuhan bangunan, mereka menemukan tiga orang yang masih hidup tapi dalam keadaan sekarat. Karena warga kampung itu tahu kekejaman dan perbuatan mereka, para warga kampung itu bukannya menolong. Tetapi malah mengeroyoknya mereka bertiga. Dengan senjata seadanya warga kampung yang datang itu melanpiaskan dendam dan kekesalan mereka dengan membacok, menusuk, memukul bahkan menendang tiga orang yang masih hidup itu. Karena luka lukanya yang sangat parah, mereka bertiga tidak bisa melawan dan hanya bisa melotot sampai mati.


Akhirnya semua mayat yang ada disitu dikuburkan dalam satu lubang besar sekali. Warga juga membakar semua bekas bekas reruntuhan bangunan.


--- 0 ---


Saat di perkampungan tempat Lintang Rahina dan Ki Pradah menginap, Lintang Rahina dan Ki Pradah juga mencari cari info tentang keberadaan Warok Bandring Saloka. Bahkan mereka dikejutkan dengan informasi munculnya sebuah perguruan baru di perkampungan sebelah, dekat arah pesisir.


Maka begitu Lintang Rahina dan Ki Pradah tidak menemukan keberadaan Warok Bandring Saloka, mereka berdua segera masuk ke pedalaman untuk mencari keberadaan perguruan baru itu.


Sesampainya mereka di dekat suatu bangunan pagar keliling seperti padepokan, Ki Pradah berhenti dan berkata, " Le Lintang, Kamu mencari di sekeliling bangunan itu. Biar kakek yang masuk dulu. Dan ini keris mu dulu, yang kakek simpan selama kamu belum sembuh."


"Iya kek, terima kasih kek," jawab Lintang Rahina.


Ki Pradah kemudian menuju ke pusat bangunan. Karena itu bangunan baru dan perguruan baru, sehingga murid murid yang mengetahui Ki Pradah masuk, hanya memandanginya saja.


"Hi hi hi hi.....ternyata kamu lagi. Pradah, kenapa kamu selalu mengganggu urusanku ?" tanya seorang kakek tinggi agak kurus berpakaian serba hitam.


"He he he.....ternyata benar.....kamu Rekso. Aku tidak mencampuri urusanmu. Aku hanya memastikan kamu tidak menjalankan rencanamu dengan teman teman yang kamu pengaruhi," jawab Ki Pradah.


"Kulakukan atau tidak, itu bukan urusanmu !!!" kata Ki Rekso lagi.


"He he he.....Kalau kalian tetap melakukannya.....aku yang akan mencegahnya," jawab Ki Pradah.


"Terserah kau saja. Kalau sudah tidak ada urusan di sini, silahkan pergi," kata Ki Rekso sambil tangan kanannya menunjuk ke arah jauh.


"He he he he....!!! Rekso.....aku tetap akan mengawasimu," terdengar suara tertawa Ki Pradah, meskipun Ki Pradah sudah melesat pergi dari hadapan Ki Rekso.


Setelah bertemu kembali dengan Lintang Rahina, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan.


Sepeninggal Ki Pradah, suasana lengang sejenak.


Ki Rekso memandang jauh dengan tatapan seolah olah menerawang. Ki Rekso berbicara sendiri.


"Aku akan tetap menjalankan apa yang sudah disepakati oleh teman teman. Apapun resikonya. Demi kejayaan kraton dan raja titisan dewa," kata Ki Rekso setengah berbisik.


"Tinggal satu langkah lagi....menemukan keturunan baginda raja yang dipilih oleh dewa," gumam Ki Rekso.


"Waktu yang disepakati dalam perjanjian akan segera tiba. Aku harus mempersiapkan diri, menyambut kedatangan teman teman."


Setelah menarik nafas panjang, Ki Rekso masuk kembali ke dalam rumah.


\_\_\_ 0 \_\_\_