
Melihat Ni Luh Pawitra terhuyung huyung dan terluka, Sekar Ayu Ningrum segera bangkit dan bersiap dengan pedang di tangan kanan.
Terlihat semua kepala leak sudah terlepas dari ujung selendang Ni Luh Pawitra. Bahkan satu selendang hancur ujungnya.
Sementara bertepatan dengan itu, kesadaran Lintang Rahina sudah sepenuhnya kembali berada di alam dunia.
Segera terlihat oleh Lintang Rahina, keadaan tempat pertarungan Sekar Ayu Ningrum dan Ni Luh Pawitra. Lintang Rahina segera mendekati Sekar Ayu Ningrum.
"Cukup adik Sekar," kata Lintang Rahina sambil tangan kanannya menyapok ke arah kepala leak yang menggigit leher siluet harimau.
Plasss ! Plasss !
Pelan saja Lintang Rahina menggerakkan tangannya dan mengenai kedua kepala leak, tetapi kepala leak itu meluncur dengan cepat ke arah Ni Luh Pawitra. Dengan cepat, Ni Luh Pawitra menangkap kedua kepala leak dengan dua selendangnya.
Tiba tiba terdengar suara yang nadanya pelan tetapi seolah dekat di telinga orang yang mendengarkannya.
"Jagad Dewa Bathara ! Ni Luh Pawitra, tolong hentikan ! Apa yang sebenarnya kamu inginkan ?" kata salah seorang yang datang.
Ni Luh Pawitra terkejut mendengar suara itu.
"Resi Nirartha Pradnya, jangan menghalangi aku !" pekik Ni Luh Pawitra.
"Apa kamu ingin membuat kekacauan di 'tanah dewa' ini ?" kata Resi Nirartha Pradnya, "Kamu belum tahu siapa anak muda ini."
Ni Luh Pawitra menundukkan kepalanya. Dia bukannya takut pada Resi Nirartha Pradnya, karena ilmu silat mereka pada tingkat yang sama. Tetapi Ni Luh Pawitra punya perasaan segan pada Resi Nirartha Pradnya.
Sebenarnya Ni Luh Pawitra adalah anggota keluarga kerajaan Bali. Dia menjadi salah satu sesepuh di keluarga kerajaan Bali dan menjadi salah satu pelindung kerajaan Bali.
Sedangkan Resi Nirartha Pradnya adalah salah seorang resi pada masa kerajaan Majapahit. Dia memilih berpindah ke arah timur untuk menyebarkan ajaran spiritual yang dia anut. Bersama beberapa rekan sesama resi, dia menyeberang ke timur dan sampai di kerajaan Bali.
Jauh hari sebelum pergi ke timur, dalam semedinya, Resi Nirartha pradnya mendapatkan petunjuk agar pergi ke sebrang wetan dan mengajarkan ilmunya disitu. Selain itu, juga mendapatkan tugas untuk menjaga datangnya sebuah pusaka yang akan dibawa oleh seseorang yang terpilih. Pusaka yang telah mengandung aura dan energi dari langit itulah yang kelak akan melindungi dan menjaga kehidupan spiritual di tempatnya yang baru. Karena itulah, Resi Nirartha Pradnya bisa merasakan kapan dan dimana pusaka itu akan datang.
Dengan mengajak dua resi temannya, Resi Nirartha Pradnya menjemput datangnya pusaka itu, setelah dia bisa merasakan dimana dan dibawa siapa pusaka itu.
Di kaki Gunung Agung itulah Resi Nirartha Pradnya dan kedua resi temannya bertemu Lintang Rahina yang dihadang oleh Ugra Asipatra dan Resi Jalada Mawa dan Mahiya Keswari.
Setelah Resi Nirartha Pradnya menyuruh Lintang Rahina pergi membawa sejata pusaka itu ke puncak, Resi Nirartha Pradnya dan kedua Resi temannya menghadapi Ugra Asipatra dan Resi Jalada Mawa serta Mahiya Keswari.
"Jagad Dewa Bathara, Resi Jalada Mawa, kenapa kamu melakukan hal ini ? Bukankah tugas kita mengajak melakukan kebajikan dalam jalan darma ?"
"Resi Nirartha Pradnya, kamu tidak usah turut campur urusanku !" jawab Resi Jalada Mawa sambil melayangkan serangan pukulan ke arah Resi Nirartha Pradnya, karena jengkel, kesempatan untuk mendapatkan senjata pusaka tertunda.
Resi Nirartha Pradnya hanya menghindari serangan serangan dari Resi Jalada Mawa.
Beberapa saat, Ni Luh Pawitra hanya menyaksikan pertarungan itu. Kemudian terbersit dalam pikirannya, untuk menyusul kedua anak muda yang pergi membawa senjata pusaka.
Kemudian, tanpa berkata kata, Ni Luh Pawitra melesat ke arah puncak ke arah perginya Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Sementara itu, Resi Nirartha Pradnya dan dua resi yang lain masih menghadapi Resi Jalada Mawa dan Mahiya Keswari serta Ugra Asipatra sampai beberapa saat. Melihat jalannya pertarungan, Resi Nirartha Pradnya berpikir, dua temannya mampu menahan mereka bertiga.
Akhirnya Resi Nirartha Pradnya memutuskan untuk menyusul ke arah perginya Ni Luh Pawitra dan menyerahkan pada kedua temannya untuk menahan ketiga lawannya. Sebelum Resi Nirartha Pradnya berkata, salah seorang resi temannya sudah berkata padanya.
"Kakang Resi Nirartha, susullah kedua anak muda itu, biar kami berdua menghadapi mereka."
"Baiklah adi berdua, kuserahkan mereka pada kalian," jawab Resi Nirartha Pradnya sambil membuat suatu gerakan serangan yang memaksa Resi Jalada Mawa menghindar mundur. Hal itu dimanfaatkan oleh Resi Nirartha Pradnya untuk melesat pergi ke arah perginya Lintang Rahina.
Resi Nirartha Pradnya tiba di tempat Lintang Rahina tepat saat Ni Luh Pawitra bertarung dengan Sekar Ayu Ningrum, dan kemudian menegur Ni Luh Pawitra.
Kemudian Resi Nirartha Pradnya menceritakan secara singkat pada Ni Luh Pawitra, tentang senjata pusaka dan tujuan Lintang Rahina datang ke tempat itu, sebagai orang yang terpilih membawa senjata pusaka itu.
Walaupun Resi Nirartha Pradnya belum pernah bertemu Lintang Rahina, tetapi berdasarkan petunjuk yang diterimanya saat bersemedi, dia bisa merasakan dari energi yang terpancar dari pusaka itu kalau Lintang Rahina lah orang yang terpilih.
Mendengar cerita dari Resi Nirarrha Pradnya, Ni Luh Pawitra akhirnya menyadari kekeliruannya.
Karena rasa sayang dan pedulinya pada ketenteraman kerajaan, Ni Luh Pawitra sempat berpikiran gelap, untuk merebut senjata pusaka itu dan mengambil energinya karena dia takut kalau sampai senjata itu jatuh ke tangan orang jahat yang bisa membahayakan kerajaannya.
"Maafkan aku anak muda. Ini aku lakukan karena terdorong perasaan takut senjata pusaka itu jatuh ke tangan yang salah," kata Ni Luh Pawitra, "Sekarang lanjutkan menyelesaikan tugasmu. Aku akan membantu semampu yang aku bisa."
"Terimakasih atas pengertian Ni Luh," jawab Lintang Rahina.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan selanjutnya, anak muda ?" tanya Resi Nirartha Pradnya.
"Mohon petunjuknya guru Resi," jawab Lintang Rahina.
"Jagad Dewa Bathara. Saya yakin kamu sudah mendapatkan petunjuk," jawab Resi Nirartha Pradnya, "Sekarang kamu tetaplah berjalan ke arah matahari terbit. Kalau kamu merasakan senjata pusaka itu bergetar, cari arah kemana yang membuat senjata itu semakin bergetar. Jika getarannya semakin kuat dan mengeluarkan suara berdengung, kamu keluarkan dan kamu pegang senjata pusaka itu. Ikuti arah kemana senjata itu ingin lepas dari tanganmu. Jangan lepaskan, sampai benar benar senjata itu terlepas dari tanganmu dan melayang. Di tempat senjata itu melayang, di situlah kamu menentukan pilihanmu, untuk membiarkan senjata itu tetap melayang atau kamu memegangnya. Karena saat itulah senjata itu akan mendapatkan lagi energi dari alam."
"Terimakasih atas petunjuknya guru Resi," jawab Lintang Rahina.
"Sekarang lanjutkan perjalananmu. Kami akan menyelesaikan sedikit urusan di sini. Tetapi kami akan berusaha menyusulmu," kata Resi Nirartha Pradnya lagi.
"Terimakasih guru Resi," jawab Lintang Rahina.
Setelah berpamitan, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera menuju ke arah timur dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
___◇___