
Putri Kalistra telah memulihkan pernafasannya, tatkala Putri Dyah Pawatu yang menyusul, tiba di belakangnya.
"Anda tidak apa apa, Putri Kalistra ?" tanya Putri Dyah Pawatu sambil mendekat.
Mendengar pertanyaan itu, Putri Kalistra membalikkan badan.
"Aku baik baik saja, Putri Dyah Pawatu," jawab Putri Kalistra, "Untunglah Putri Dyah Pawatu tidak terlempar ke tempat yang jauh, dalam ledakan tadi."
Teringat ledakan, Putri Kalistra segera teringat dengan pohon keabadian, yang dipercayakan kepadanya untuk penjagaannya. Juga teringat akan dua tamunya yang lain, yaitu Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
"Putri Dyah Pawatu, kita cari pohon keabadian dan juga sepasang anak muda dari tlatah wetan itu," kata Putri Kalistra.
"Putri Kalistra, apakah Putri sudah mengetahui, kira kira di mana keberadaan pohon keabadian itu ?" tanya Putri Dyah Pawatu.
"Terakhir kita melihat pohon keabadian, pohon itu akan dipindahkan oleh sekelompok biksu. Kalau tidak salah mereka adalah para biksu dari pegunungan Himalaya," jawab Putri Kalistra, "Maka kemungkinannya, pohon keabadian berada disana."
Ssttt ... pegunungan Himalaya berada di daratan besar. Sangat jauh dari sini. Apa mungkin kita bisa langsung menemukannya ?" tanya Putri Dyah Pawatu lagi.
"Putri Dyah Pawatu tenang saja. Kami bangsa siluman, punya cara sendiri untuk pergi ke tempat yang sangat jauh !" jawab Putri Kalistra.
Putri Dyah Pawatu, terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Putri Kalistra.
Putri Dyah Pawatu masih berdiam diri saat kemudian terdengar suara suitan yang menyerupai suara lengkingan, tatkala Putri Kalistra meniup sebuah alat seperti peluit sebesar ibu jari.
Tiba tiba di depan mereka sudah berdiri empat siluman berwujud manusia dengan mengenakan pakaian prajurit.
"Paman senopati sekalian ! Aku percayakan keselamatan dan urusan istana kepada kalian. Tolong diurus dengan baik. Aku akan mencari pohon keabadian !" kata Putri Kalistra.
Setelah menjawab seperlunya apa yang menjadi perintah Putri Kalistra, keempat senopati kerajaan gaib itu segera melesat pergi.
"Ayo Putri Dyah Pawatu, kita pergi sekarang," kata Putri Kalistra setelah di situ yang ada hanya mereka berdua, "Berpeganganlah padaku, kita akan perginke alam lain."
Dengan mantera tertentu disertai gerakan tangan tertentu, dari telapak tangan kanan Putri Kalistra keluar sebutir sinar. Butiran sinar itu semakin lama semakin besar. Ketika butiran sinar itu setinggi manusia, Putri Kalistra menarik tangan kanannya ke dalam, sinar setinggi manusia itu langsung menyelimuti tubuh kedua Putri itu.
Kemudian, sinar yang menyelimuti tubuh mereka itu melesat ke atas dengan sangat cepatnya, membawa serta tubuh Putri Kalistra dan Putri Dyah Pawatu. Ketika mencapai ketinggian tertentu, sinar itu tiba tiba lenyap dari pandangan.
-----*-----
Sekar Ayu Ningrum tertidur di suatu tempat tidur di dalam salah satu ruangan di tenda yang sangat besar. Di depan pintu masuk ke kamar Sekar Ayu Ningrum, duduk berlutut sepuluh orang berpakaian serba putih yang bibirnya bergerak gerak mengucapkan suatu mantera yang selalu diulang ulang.
Tenda itu berbentuk kerucut dengan ujungnya yang sangat tinggi. Di bagian bawahnya sangat luas dan disekat sekat menjadi beberapa ruangan. Itu adalah tenda yang digunakan sebagai istana darurat.
Di luar kamar tempat Sekar Ayu Ningrum tertidur, terdapat ruangan yang menjadi pusat dari tenda itu. Dalam ruangan itu tampak singgasana yang kosong. Sementara di depan singgasana, duduk berlutut banyak orang laki laki dan perempuan. Semuanya terdiam.
Di dalam kamar tempat Sekar Ayu Ningrum terbaring, tiba tiba bunyi bacaan mantera sepuluh orang berpakaian serba putih itu semakin keras, ketika tubuh Sekar Ayu Ningrum yang terbaring, tiba tiba mengeluarkan pendaran sinar putih keperakan hingga menyerupai kabut.
Ketika Sekar Ayu Ningrum mulai terbangun, kesepuluh orang berpakaian putih menghentikan bacaan manteranya.
Perlahan Sekar Ayu Ningrum bangkit berdiri. Semua orang tertunduk tidak ada yang berani memandangnya.
Sekar Ayu Ningrum baru berniat hendak berjalan ketika tubuhnya melayang ke arah deretan kursi di sebelah kanan dan kiri singgasana.
Selain seluruh tubuhnya mengeluarkan pendaran sinar putih keperakan seperti kabut, kedua mata Sekar Ayu Ningrum juga berwarna putih semua.
"Siapa kalian ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
Semua orang tetap duduk berlutut dan menunduk. Kemudian, seorang gadis muda yang sangat cantik yang duduk berlutut paling depan, beringsut sedikit ke depan.
"Dewi, maafkan kami yang meminta pertolonganmu. Namaku Esana Tara dan mereka adalah rakyatku. Kami terusir dari negeri kami, oleh orang orang yang merebut negeri kami," kata Gadis muda yang bernama Esana Tara.
Kemudian Esana Tara menceritakan tentang negerinya dan dirinya.
Esana Tara adalah anak dari seorang raja sebuah negeri di bawah pegunungan Himalaya.
Saat ayahnya meninggal karena sakit, Esana Tara yang seharusnya menjadi pewaris tahta, tetapi dia justru diburu dan diancam dibunuh oleh pamannya.
Untungnya orang orang yang setia padanya memperingatkannya dan mengajaknya melarikan diri menyelamatkan nyawanya.
Walaupun termasuk golongan orang orang yang sakti dan disegani, namun karena kalah dalam jumlah, terpaksa Esana Tara melarikan diri.
Saat Esana Tara bercerita itu, Sekar Ayu Ningrum merasakan getaran energi Lintang Dahina di belakang orang orang yang berlutut itu.
Setelah Esana Tara selesai bercerita, Sekar Ayu Ningrum menyuruh Esana Tara untuk memanggil semua yang masih berada di belakang.
Dengan segera Esana Tara melakukan apa yang diminta oleh Sekar Ayu Ningrum. Semua orang yang tidak ikut duduk berlutut dipanggil dan disuruh berdiri di belakang. Saat itulah, Sekar Ayu Ningrum melihat Lintang Rahina yang berdiri di samping seorang tua yang energinya dirasakannya sangat tinggi.
"Esana Tara, aku akan memberikan kekuatan kepadamu, dan akan aku bebaskan negerimu. Aku hanya minta diantar oleh rakyatmu yang aku tunjuk !" kata Sekar Ayu Ningrum.
Kemudian Sekar Ayu Ningrum memilih dan menyuruh yang dipilih untuk berdiri di dekatnya.
Sekar Ayu Ningrum menunjuk Lintang Rahina yang berdiri di dekat orang tua yang mengaku sebagai kakeknya.
"Kamu ! Majulah dan berdiri di sampingku !" kata Sekar Ayu Ningrum.
Begitu Lintang Rahina sudah berada di dekatnya, Sekar Ayu Ningrum berkata pada Esana Tara.
"Esana Tara, berdiri dan bersiaplah ! Akan ku beri kau kekuatan !"
Segera saja Esana Tara berdiri dan sedikit mendekat pada Sekar Ayu Ningrum.
Melihat Esana Tara sudah siap, Sekar Ayu Ningrum mulai mengeluarkan energinya.
Tangan kanannya yang terbuka jari jarinya ditarik ke atas dengan telapak tangan kanannya menghadap ke atas.
Tiba tiba dari telapak tangan kanannya, keluar cahaya putih keperakan. Cahaya itu langsung melesat ke arah Esana Tara dan kemudian masuk ke dada.
Proses pengiriman energi kekuatan itu segera berlangsung. Begitu sinar putih keperakan mengenai dadanya, Esana Tara merasakan tubuhnya bergetar hebat. Tubuhnya terasa seperti dibanjiri oleh energi yang meluap.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_