Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Dua Iblis Tertawa


Di saat bersamaan, Lintang Rahina yang sudah mengetahui kelemahan Rei Karai, mencecar Reo Karai dengan serangan jarak dekat. Dengan situasi begitu, Reo Karai tidak bisa dengan leluasa menggunakan senjatanya yaitu alat musik petik. Misal pun sempat memetik dawainya juga menjadi kurang akurat untuk mengarah ke sasaran serang.


Apalagi ditambah dengan Lintang Rahina yang mulai menggunakan tehnik 'Nafas Raja'. Terlihat tubuh Lintang Rahina mulai mengeluarkan pendaran energi yang bersinar dan berwarna kuning keemasan. Pendaran energi itu mulai merembes keluar dari tubuhnya dan kemudian menyebar ke tempat berlangsungnya pertarungan, hingga akhirnya pendaran energi itu menyelimuti seluruh padang rumput di punggung gunung itu.


Pendaran energi yang memenuhi tempat bertarung itu membuat Reo Karai semakin tertekan. Reo Karai merasakan seperti ada yang menekan pundaknya, sehingga membuat gerakannya menjadi lebih lambat.


Hingga pada suatu kesempatan, serangan pedang Lintang Rahina tidak isa lagi dihindari oleh Reo Karai. Dengan punggung alat musiknya, Reo Karai menangkis tebasan pedang Lintang Rahina.


Blaaammm ! Blaaammm !


Dua kali menangkis tebasan ledang Lintang Rahina, tubuh Reo Karai terdorong mundur hingga sekitar sepuluh langkah hingga kedu kakinya membentuk dua garis memanjang ke belakang.


Karena sejak awal Lintang Rahina tidak berniat membunuh lawannya, maka saat lawannya terdorong mundur, Lintang Rahina tidak mengejar dan melanjutkan menyerang.


Terlihat, Reo Karai masih berdiri walau tubuhnya agak limbung dan terlihat gemetar. Bajunya compang camping dan ada beberapa luka di tubuhnya. Nafasnya .emburu dan tidak beraturan. Senjatanya terlihat terkoyak pada bagian punggungnya.


Reo Karai merasakan, aliran energinya kacau, sehingga dia buru buru mengatur pernafasannya untuk menetralkan aliran energinya.


Saat Kei Sama dan Reo Karai sedang berusaha memulihkan kondisinya tiba tiba terdengar suara tertawa terkekeh. Suara itu terdengar seperti dekat di telinga. Tetapi Lintang Rahina merasakan energi yang sedang menuju ke tempat ini masih jauh.


Merasakan juga ada beberapa energi yang mendekat, metika lawannya terjatuh, Sekar Ayu Ningrum segera mendekat ke Lintang Rahina.


Tepat saat suara tertawa itu berhenti, di sebelah Reo Karai, agak jauh, telah berdiri dua orang laki laki paruh baya.


Dua orang laki laki yang baru datang itu wajah dan tubuhnya sangat mirip. Tubuhnya pendek bulat dengan wajah yang juga bulat. Kepalanya pelontos. Wajahnya selalu tersenyum.


Kek keh keh keh ... Reo Karai dan Kei Sama, dua penguasa Pulau Sumbawa," kata salah satu si kembar, "Apakah benar benar kemampuanmu telah menurun ? Melawan bocah saja sampai ngos ngosan !"


"Kalian Dua Iblis Tertawa, jangan ikut campur urusanku !" jawab Reo Karai.


"Kek keh keh keh !!! .... Reo Karai, Kei Sama ! Kalau memerlukan bantuanku, Jangan sungkan sungkan untuk berbicara !" kata salah satu dari Dua Iblis Tertawa.


"Anak muda, bagaimana kalau kalian bermain main dengan kami ?" tanya Dua Iblis Tertawa.


"Kalian ! Dua orang pendek ! Aku belum mengijinkan kalian !" teriak Reo Karai.


"Kek keh keh keh ... sudahlah, kami tahu, kalian sudah tidak berdaya," kata Dua Iblis Tertawa.


Tanpa peduli lagi dengan jawaban Reo Karai, Dua Iblis Tertawa segera mendekat ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


"Adik Sekar, biar kakang yang menghadapinya," kata Lintang Rahina.


Sekar Ayu Ningrum hanya tersenyum dan mundur di belakang Lintang Rahina.


"Kek keh keh keh ... anak muda, kamu ingin menghadapi kami sendirian saja ?" kata Dua Iblis Tertawa, "Jangan salahkan kami kalau kamu sampai kenapa kenapa !"


Tiba tiba Dua Iblis Tertawa sudah bergerak mendekat ke arah Lintang Rahina dan melakukan serangan. Yang satu melenting ke atas melakukan tendangan ke arah kepala atau leher Lintang Rahina. Yang satunya lagi meluncur ke bawah melakukan sapuan kaki.


Diserang dua orang dengan cara mendadak, tidak membuat Lintang Rahina panik. Dengan sedikit melompat, Lintang Rahina menghindari serangan sapuan kaki dengan bergerak ke arah datangnya lawan yang menyerang kakinya.


Dan dengan memindahkan sedikit tubuhnya ke samping kiri, Lintang Rahina bisa menghindari serangan tendangan ke arah kepalanya.


Buuummm !!!


Tendangan dari Dua Iblis Tertawa yang mengarah ke kepalanya mengenai tanah dekat Lintang berdiri tadi, sehingga menimbulkan suara berdebum yang keras. Tanah yang terkena tendangan itu terlihat berlubang sedalam lutut dan lebarnya sekitar satu depa.


Kek keh keh keh .... !"


Sambil tertawa, Dua Iblis Tertawa kembali melesat ke arah Lintang Rahina dan menghujani Lintang Rahina dengan tendangan berkali kali.


Biarpun tubuh mereka pendek dan gemuk, sehingga badannya seperti bulat, namun gerakan mereka berdua sangat lincah dan cepat. Tendangan mereka berdua juga secepat kilat.


Mereka berdua adalah kembar, semuanya sangat mirip sehingga sulit dibedakan. Mereka berdua berkulit putih, mata mereka agak sipit. Mereka mendapatkan julukan Dua Iblis Tertawa, karena merska selalu tersenyum dan tertawa. Saat dalam pertarungan pun mereka tertawa. Tetapi mereka sangat kejam. Tidak ada musuh musuh mereka yang mereka biarkan hidup. Cara membunuh musuh pun, mereka sangat kejam. Tidak ada musuhnya yang mati dengan tubuh yang utuh.


Di dunia persilatan, mereka hanya dikenal dengan julukannya, Dua Iblis Tertawa. Tetapi hampir tidak ada yang tahu, mereka berasal dari mana atau dari perguruan mana atau murid siapa.


Hanya ada kabar burung, mereka berasal dari tempat yang sangat jauh, dari seberang lautan sebelah utara. Ada yang menyebut, mereka berdua datang dari daratan Tiongkok, ada juga yang menyebut mereka berasal dari kerajaan Mugunghwa (Korea).


Lintang Rahina menghindari setiap serangan, dengan tenang. Hingga pada suatu saat, tendangan dari salah satu Dua Iblis Tertawa, mengarah ke dadanya. Menghadapi serangan itu, Lintang tidak menghindar, tetapi menangkis dengan kedua tangannya yang disilangkan di depan dada.


Blaaammm !!!


Sreeettt !!!


Saat menangkis tendangan dengan kedua lengannya, timbul ledakan yang keras karena bertemunya dua energi. Terlihat salah satu dari Dua Iblis Tertawa terpental ke belakang sampai bergulingan sehingga seperti menggelinding.


Dua Iblis Tertawa yang terjatuh tadi mencoba berdiri walau dengan agak sempoyongan. Segera yang satunya melesat mendekat dan menyentuh punggungnya.


Entah apa yang dia lakukan pada saudaranya, Dua Iblis Tertawa yang terjatuh tadi tiba tiba sehat kembali seperti sedia kala.


Dengan cepat mereka berdua menyerang lagi dengan tendangan kaki mereka yang banyak sekali variasinya. Dan setiap Lintang Rahina menangkis tendangan mereka, mereka akan terlempar seperti bola menggelinding. Tetapi hal hal yang aneh terjadi lagi. Setiap salah satu dari mereka terluka, Dua Iblis Tertawa yang satunya akan segera mendekati dan menyentuh punggungnya. Dalam sesaat, mereka akan menjadi sehat kembali. Hal ini terulang beberapa kali.


Merasa beberapa kali serangan mereka tidak membuahkan hasil, mereka pun merubah tehnik serangan mereka.


Kemudian mereka berdua mengeluarkan senjatanya. Tangan kanan mereka memegang pisau sepanjang lengan dengan bilah yang tebal. Sedangkan tangan kiri mereka memegang cakar dari baja.


"Kek keh keh keh ... apa kita akan langsung berpesta ?"


__________ 0 __________