
"Hehehe, apakah aku akan diam saat melihat gadisku, saudara ipar, kakakku dan adik kecilku dibunuh? Tentu saja tidak." Bola Qi besar yang sebelumnya berada di atas kepala Tetua Besar Klan Dewa tiba-tiba menghilang.
Tetua Klan Dewa terkejut, dia segera mengarahkan pandangannya pada asal suara, di sana seorang pemuda berambut biru gelap menggunakan pakaian santai muncul dalam pandangan Tetua Besar Klan Dewa, pemuda itu tidak sendiri di sampingnya terdapat sosok gadis cantik berpesona dewasa yang sangat luar biasa sempurna.
"Kalian datang juga." Su Lihwa menarik napas lega.
"Pengendali Jiwa!" Han Xiao menatap pada tubuh Jiwa Tetua Besar Klan Dewa.
Mata biru gelap Han Xiao menjadi sangat dalam, rantau biru gelap keluar dari tangan Han Xiao dan mengikat erat Tetua Besar Klan Dewa, seketika itu juga Tetua Besar Klan Dewa tidak bisa menggerakkan tubuhnya, kekuatan jiwanya terus terhisap hingga sangat lemah, saat ini jiwanya turun hingga menyamai Jiwa Kaisar Abadi pertama tahap awal.
"Siapapun yang berada di sini dapat membunuhmu." Han Xiao tersenyum lebar, tetapi senyum Han Xiao sangat mengerikan bagi Tetua Besar Klan Dewa.
"Biarkan aku yang membunuhnya! Pasti akan membanggakan bukan membunuh Tetua Besar Klan Dewa? Hahaha biarkan aku yang melakukannya!" Qin berteriak penuh semangat, gadis itu terbang melesat menuju Han Xiao.
"Han'gege ayo pinjamkan Pedang Jiwa! Aku ingin membunuhnya!" pinta Qin dengan penuh harap.
Han Xiao terkekeh, dia membentuk Pedang Jiwa dari kekuatan Pengendali Jiwa dan memberikannya kepada Qin.
Jiwa Tetua Besar Klan Dewa menjadi dipenuhi oleh teror, tidak mengatakan dirinya kini memiliki jiwa yang hanya pada tingkat Alam Kaisar Abadi pertama tahap awal, saat ini dia tengah dalam pengekangan Han Xiao! Tetua Besar Klan Dewa yakin dirinya akan menjadi sepotong tahu jika Qin menyerangnya.
Sebagai Tetua Besar Klan Dewa yang agung dan tinggi, dia benar-benar tidak pernah menyangka dirinya akan jatuh hingga sedemikian rupa oleh seorang anak kecil yang bahkan Kultivasinya sangat jauh darinya.
Qin berjalan perlahan menuju Tetua Besar Klan Dewa dengan pedang jiwa yang berada di tangan kanannya, saat Tetua Besar Klan Dewa hendak membuka mulutnya untuk berkata sesuatu, itu sudah terlambat, Qin sudah menebaskan pedang jiwa yang langsung menghancurkan Jiwa Tetua Besar Klan Dewa tanpa menyisakan bahwa Istana Takdir miliknya. Dibawah teknik pengendalian Jiwa, bahkan Tetua Besar Klan Dewa tidak bisa mengendalikan Istana Takdirnya untuk melarikan diri. Jika saja dia bisa menyelamatkan Istana Takdirnya, maka dia masih memiliki kesempatan untuk hidup. Namun, sayang dibawah kendali Han Xiao, dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun.
Ketika Tetua Besar Klan Dewa mati, cahaya emas bersinar sangat terang hingga sangat menyilaukan.
Dalam sekejap pemandangan di sekeliling yang merupakan ruang angkasa berubah menjadi pemandangan yang sangat indah bagaikan surga, ini adalah pemandangan yang hanya didapat di Bintang Cahaya Ungu!
"Aku rela menjadi budakmu, jangan bunuh aku!" Sebuah teriakan lantang menggetarkan Bintang Cahaya Ungu, seorang pria berteriak penuh teror ketakutan.
"Hehehe, pak tua kau belum mati." Suara tawa riang membuat pria itu menghentikan teriakannya, matanya dipenuhi teror serta kebingungan ketika melihat pemandangan yang sangat indah disekelilingnya.
"Apakah ini surga?" ujar pria tersebut penuh rasa penasaran.
"Qin, sepertinya kau memukul kepalanya terlalu keras." Gadis berjubah hitam di samping gadis cantik yang memegang koin emas tertawa kecil.
"Bukan aku, kemungkinan besar karena Lihwa'jiejie membakar akal sehatnya." Gadis yang memegang koin emas itu menggelengkan kepalanya menolak perkataan gadis berjubah hitam yang tak lain adalah Su Lihwa, sedangkan gadis ini adalah Qin.
"Sadarlah pak tua, jika tidak kau akan mati dua kali." Sekarang suara riang terdengar bersamaan dengan bunyi pukulan.
Pria itu segera tersadar dan rasa penasaran dari matanya hilang, matanya menatap pada pemuda berambut biru gelap yang tak lain adalah Han Xiao.
"Kau! Kenapa kau ada di sini?!" seru pria itu.
"Aku di sini untuk menonton pertunjukan." Han Xiao tersenyum riang pada pria yang tak lain adalah Tetua Besar Klan Dewa.
Deg!
Sorot mata Tetua Besar Klan Dewa langsung terarah pada Qin.
"Ya, yang kau rasakan tadi adalah Jalan Takdir, itu yang akan kau alami jika melawan kami, tidak bisa dirubah bagaimanapun kau akan mati walau kau sudah mengetahui masa depan dan mempersiapkan dirimu, ada cara lain yang bisa membunuhmu lebih kejam." Qin tersenyum manis, tetapi senyum manis yang sangat cantik itu bagaikan Iblis dari kedalaman neraka bagi Tetua Besar Klan Dewa.
"Apa yang kau inginkan dengan memperlihatkan Jalan Takdir padaku?" Tetua Besar Klan Dewa sudah kembali mendapatkan kecerdasannya, dia tahu bahwa bagaimanapun caranya dia pasti akan mati. Namun, musuhnya ini memperlihatkan Jalan Takdir, pasti ada hal yang diinginkan oleh pihak musuh.
"Aku? Tidak, biarkan Han'gege yang menjelaskan." Qin menggelengkan kepalanya dan menatap Han Xiao sebagai gantinya.
Tetua Besar Klan Dewa menatap Han Xiao Lalau Shen Yaozu yang berdiri patuh di belakangnya, karena tadi adalah Jalan Takdir, mereka berdua tidak benar-benar mati.
"Kau yang mengendalikannya?" Tetua Besar sekarang tahu bahwa Han Xiao memiliki kekuatan untuk mengendalikan Jiwa dan itu sangat dalam hingga bahkan Shen Dao tidak merasakannya, tiba-tiba wajah Tetua Besar menjadi sangat buruk.
"Jangan bilang kau jugalah yang merencanakan memanggil Pemimpin Klan dan aku untuk melakukan perjalanan kemari." Tetua Besar merasakan amarah tetapi juga merinding, berapa besar nyali orang ini untuk merencanakan hal seperti itu?
"Rencanamu sangat baik, tapi apakah benar-benar mutlak? Aku telah masuk kedalam jebakan, tetapi masih ada Pangeran dan Pemimpin Klan, mereka akan berurusan denganmu!" ketus Tetua Besar Klan Dewa.
"Hahaha! Apakah maksudmu Pangeran kecil ini?"
BAM!
Tetua Besar Klan Dewa terhantam oleh sesuatu, ketika dia melihat dengan jelas, itu adalah anak kecil berusia lima tahun yang jatuh kedalam pelukannya, seluruh tubuhnya dirantai dan pada leher anak kecil itu terdapat kalung rantai seperti hewan peliharaan. Mata Tetua Besar menjadi sangat dalam dan terkejut.
"Pangeran!" seru Tetua Besar.
"Sepertinya Ne Zha akan datang terlambat, baiklah aku akan menyelesaikan tugasku terlebih dahulu." Han Xiao melangkah maju, tekanan mengerikan melonjak darinya, jubah merah darah keluar secara perlahan membalut tubuh Han Xiao. Delapan Pulau juga keluar dan berputar di atas kepala Han Xiao, lalu Pedang Delapan Kejahatan muncul di tangan Han Xiao dengan seluruh mata pada Pedang terbuka.
"Kau keturunan Zi Yao!" pekik Tetua Besar dan Shen Gu bersamaan saat melihat Delapan Pulau dan Pedang Delapan Kejahatan pada Han Xiao.
"Ibuku sangat terkenal ya." Han Xiao terkekeh ringan.