
"Milikmu." Ucapnya datar.
"Apa.... " Teriak Arumi kaget mendengar perkataan Adrian.
"Jangan bercanda de kak." Arumi masih tidak percaya apa yang dikatakan oleh Adrian.
"Apa aku kelihatan bercanda." Ucap Adrian datar.
"Aku tidak mau, ini terlalu...."
"Kamu harus tinggal disini, aku tidak Terima penolakan." Ucap Adrian tegas tidak mau dibantah.
"Baiklah, tapi biarkan aku mencicil rumah ini sampai lunas."
"Baiklah, terserah kamu saja." Ucap Adrian Pasrah. "Aku pergi dulu, aku mau kekantor ada pertemuan penting dari Luar negeri." Pamit Adrian pada Arumi.
Sedangkan Arumi hanya mendengar kan apa yang diucapkan oleh Adrian. Ia sendiri bingung untuk pamit kepadanya dan menjelaskan mau kemana ia pergi, pacar bukan bahkan istri juga bukan itulah yang ada dalam pikiran Arumi.
Setelah Adrian pergi, Arumi mulai membereskan rumah yang akan ia tempati. hampir satu jam ia membersihkan rumah yang akan ia tempati membuatnya lelah. ia pun duduk di sofa untuk istirahat sejenak sebelum kembali membersihkan kamar yang akan ia tempati tidur.
Tok... Tok...
Arumi berjalan dengan malas kearah pintu untuk membukakan siapa yang datang bertamu siang-siang begini.
"Selamat siang bu." Ucap lelaki itu.
"Iya, cari siapa?" Tanya Arumi
"Apa benar ini rumah nyonya Arumi."
"Iya."
"Tanda tangan disini bu sebagai bukti kalau ibu sudah menerima barang yang kami antarkan." Ucap pemuda itu yang ternyata seorang kurir.
"Tapi, aku tidak memesan apa-apa Pak" Ucap Arumi bingung apa lagi ia melihat motor matic terparkir depan rumahnya.
"Ini kunci motornya." Ucap kurir itu lagi dengan menyerahkan sebuah kunci motor.
Arumi mengambil kunci motor itu dengan wajah bingung. "Terima kasih Pak" Ucap Arumi lagi dengan sedikit menunduk.
Setelah kurir itu pergi Arumi memandang kunci motor ditangannya dengan wajah bingung. "Siapa ya membelikan aku sebuah motor. atau pemuda itu yang membelikanku." Ucapnya dalam hati. Setelah lama berpikir siapa yang membelikan motor itu dan hanya satu nama tertuju di ingatannya yaitu Adrian karena hanya Adrian yang tahu rumah yang ia tempati sekarang. begitu yang ia pikirkan.
Sementara kurir yang mengantar motor itu, ia menelpon seseorang.
"Hallo bos, ia sudah menerimanya bos." Ucap kurir itu.
"Balik ke markas. dan kirim anggota menjaga wanitaku." Titah Adrian tegas dan langsung mematikan telponnya secara sepihak.
Sementara kurir itu mendengus kesel. "Untung bos."
Kurir itu adalah anggota Mafia yang menyamar sebagai kurir sesuai perintah Adrian untuk memberikan motor pada Arumi.
Sementara Adrian duduk di kursi kebesarannya sambil menunggu seseorang.
Tok.. Tok..
"Masuk"
Pemuda itu masuk menghampiri Adrian dengan sebuah map ditangannya.
"Lama amat lo masa cari data perempuan biasa saja membutuhkan waktu stengah hari." Ucap Adrian kesel pada pemuda didepannya.
"Sabar Bro, yang penting kan aku sudah mendapatkan sesuai perintah lo." Ucap pemuda itu santai dan langsung duduk didepan Adrian dengan wajah tengilnya.
Sementara Adrian membaca serius data-data Arumi.
"Thanks, Lo memeng bisa diandalkan." Ucap Adrian lalu kembali membaca data-data Arumi kembali.
"Jadi ia diceraikan oleh suaminya karena mandul." Ucap Adrian dengan tangan mengepal.
"Hai semua." Teriak pemuda itu langsung masuk keruangan Adrian.
"Jerry, berisik. ini bukan hutan." Ucap Pemuda itu sedangkan Adrian hanya memutar bola matanya malas melihat kedua temannya yang selalu biking rusu kalau datang ke kantornya.
"Tam, lo juga ada disini?" Tanya Jerry pada Tama yang masih dusuk santai didepan Adrian yang serius membaca Map yang diberikan oleh Tama.
Jerry adalah sahabat Adrian seorang Casanova sekaligus kaki tangannya di Mafia dan ia bertugas merakit senjata bahkan membuat racun untuk musuh-musuhnya.
Sedangkan Tama juga orang kepercayaannya Adrian. Ia seorang hacker handal.