
"He, perempuan mandul kalau jalan itu pakai mata. kamu lihat ini baju mahal ku kotor karena ulahmu" Amuk Bu Widya dengan menunjuk-nunjuk Arumi.
Arumi mengangkat wajahnya dan menatap mantan Ibu mertuanya dengan Tajam.
"Anda yang seharusnya jalan pakai matya, karena andalah yang menabrakku."
Adrian tersenyum miring dengan keberanian calon istrinya.
"Dasar mandul tidak tahu diri." Hina Bu Widya.
"Apa ibu itu tidak tahu dia sedang berhadapan dengan siapa." Ucap salah satu tamu yang datang.
"Emeng laki-laki itu terkenal sehingga kita harus mengenalnya dan takut sama dia." Ujar wanita itu dengan ketus sekaligus menatap hina Arumi.
"Jaga ucapan anda, kalau tidak... "
"Kalau tidak kamu mau apa." Tantang Bu Widya menatap jijik melihat Arumi. "Mending kamu pergi dari sini, kamu jangan menganggu anak dan menantukku." Usir Bu Widya sehingga Arumi merasa terhina dan merasa tidak enak sama Adrian.
"Ayo sayang kehadiran kita tidak diharapkan disini." Ajak Adrian menarik tangan Arumi keluar dari hotel dan Arumi hanya pasrah mengikuti Adrian.
"Pak Adrian, kenapa cepat sekali pulang."
"Kehadiran kami tidak diharapkan." Ujar Adrian datar dan kembali melanjutkan langkahnya lalu pak Handoko menatap kearah pengantin.
Beberapa tamu undangan yang mengenal Adrian pengusaha terkenal kejam menatap Iba Bu Widya mengenai nasibnya yang akan terjadi karena berani menyinggung calon istri sang pengusaha no 1 didunia.
Sementara Arumi dan Adrian berada di restoran cepat saji untuk sekedar mengisi perutnya karena tidak sempat makan dipesta.
"Sayang aku ke toilet dulu ya."
"Iya Kak."
Setelah mendapat persetujuan dari Arumi. Adrian bangkit dari tempat duduknya, Namun ia bukan menuju ke toilet melainkan ia pergi ke tempat sunyi untuk menelpon seseorang.
"aku mau kamu memberi pelajaran pada seseorang. Aku akan mengirimkan fotonya."
"Baik Tuan"
Adrian menyeringai setelah ia selesai menelpon anggotanya. "Ini baru hukuman kecil karena berani menghina orang yang aku cintai." Ucap Adrian dalam hati dengan mengenggam handphonenya.
"Maaf sayang nunggu lama, toiletnya antri." Bohong Adrian lalu duduk didepan Arumi.
"Tak apa, kak. Ayo makan kak"
Setelah selesai makan, mereka beraiap untuk pulang.
"Kak, antarin aku kerumah ya. Tidak baik kalau kita satu rumah apa lagi kita belum ada ikatan pernikahan.
"Sayang kerumah aku ajah ya." Ucap Adrian memelas dan berusaha membujuk Arumi agar Arumi mau ikut bersamanya.
"Aku yakin kak, dan aku akan tetap tinggal disini sampai masa iddaku." Ucap Arumi tegas.
"Baiklah, tapi selesai masa iddamu kita menikah ya." Ucap Adrian memelas yang diangguki Arumi.
Cup
Adrian mengecup bibir Arumi lalu berlari keluar menuju mobilnya sebelum ia kena marah oleh Arumi.
"Ad.. ria... n..." Teriak Arumi mengelegar. "Awas ya besok aku hukum kamu berani mencuri ciuman dariku."
Sementara Adrian tersenyum sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Namun dipertengahan Adrian menyadari kalau ia diikuti oleh seseorang. Ia mengambil senjatanya yang berada di laci mobilnya.
"Sial.. "
Adrian menamba kecepatan mobilnya dan begitupun orang yang mengikutinya.
Adrian membuka kaca mobilnya dan bersiap menembak yang berani mengikutinya.
Dor
Dor
Dor.
Sreettt,,, Duarrr...
Mobil yang mengikuti Adrian oleng karena terkena tebakan sehingga menabrak pembatas jalan.
"Sial," Marah Adrian karena masih ada yang mengikutinya. Adrian kembali melesatkan tembakannya.
Dor
dor
dor
Braak.
Mobil itu oleng sehingga menabrak pohon.
Adrian kembali melihat kebelakang. Merasa sudah aman Adrian memutar mobilnya untuk menuju kediamannya.