
Arumi berdiri dari kursinya menuju keruangan Adrian. Sebelum masuk keruangan Adrian ia lebih dulu mengetuk pintu.
Tok.. Tok.. Tok...
"Masuk" Ujar dari dalam.
Ceklek.
Pak ada benerapa...
"Sayang jangan terlalu formal bicara sama calon suamimu sendiri." Ujar Adrian yang langsung memotong perkataan Arumi.
Adrian menarik tangan Arumi sehingga Arumi duduk di pangkuannya.
"Kak lepas, nanti ada yang lihat." Ujar Arumi dengan pipi memerah karena malu.
"Jangan banyak gerak umi kamu bisa membangungkannya." Mendengar apa yang dikatakan Adrian, Arumi langsung diam tidak banyak gerak.
"Bicaralah sayang..." Ujar Adrian mengelus rambut Arumi yang begitu halus dan lembut.
Adrian terus membelai rambut Arumi sampai Adrian terpesona melihat leher putih Arumi. Adrian menjilat leher Arumi sehingga meninggalkan bekas.
"aaaaakkhh.." tanpa sadar Arumi mendesah menikmati sentuhan Adrian. Apalagi sudah lama ia tidak mendapat sentuhan itu.
"k.. kak.." Gagap Arumi ketika Adrian terus mencium lehernya bahkan tangan Adrian sudah menyusup masuk kedalam baju Arumi.
"Umi aku mengiginkanmu." Bisik Adrian yang sudah tidak tahan. Apa lagi ular Cobranya sudah tegak.
Dengan cepat Adrian menggendong Arumi masuk kekamar pribadinya.
"Tapi kita belum menikah, Tahan dulu ya setelah kita menikah kamu bebas menikmati tubuhku." Ujar Arumi lembut sambil mengelus pipi Adrian dan ia bisa melihat mata Adrian sayu karena hasrat tertahan.
"Baiklah, aku kekamar mandi dulu." Sebelum ia pergi kekamar Mandi ia mengecup bibir Arumi yang selalu menggoda dimatanya.
Arumi hanya melihat kepergian Adrian menuju kekamar Mandi. Ia tahu Adrian akan menuntaskan hasratnya dikamar mandi. Tapi apa boleh buat ia tidak mau melakukan sebelum ada ikatan pernikahan diantara mereka berdua.
,
"Kemana si mas Rizal kenapa tidak angkat telponku." Marah Mawar dan melempar handphonenya di kasur.
Drrrttt.. Drrrttt....
"Ada apa?" Ujar Mawar ketus.
"Sayang... jangan marah-marah, aku kangen dengan sentuhan." Ujar seseorang disebrang telpon. "Aku tunggu diapartemenku." Ujar orang itu lagi lalu mematikan telponnya secara sepihak.
Mawar mengambil tas dan kunci mobilnya untuk pergi menemui seseorang sekalian perbaiki Moodnya yang rusak karena suaminya tidak mengangkat telponnya.
"Jangan salahkan aku Mas, kalau aku mencari kepuasan diluar. karena kamu terlalu sibuk diluar sehingga melupakan istri dirumah." Ujar Mawar dalam hati dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Mawar tidak butuh waktu lama untuk sampai diapartemen orang yang ia mau temui.
Mawar hanya butuh 15 menit untuk sampai diapartemen seseorang yang akan ia temui.
Tok.. Tok.. Tok..
Ceklek.
Setelah pintu terbuka pemuda itu langsung menarik tangan Mawar untuk masuk kedalam Apartemennya.
"Aku sangat merindukanmu sayang." Ujar pemuda itu langsung mencium bibir Mawar dengan lembut dan mawar juga membalas ciuman Pemuda itu dan mereka saling membelit lidah.
"Aaaahh" Mawar mendesah menikmati cumbuan pemuda yang selalu membuatnya melayang.
Pemuda itu menghentikan aksinya lalu menatap Mawar dengan mata sayu
"Apa anak kita baik-baik saja." Ujar pemuda itu meraba perut Mawar yang agak membuncit.
"Iya anak kita baik-baik saja, Karena kepergianmu tanpa kabar, aku harus terpaksa menika dengan Mas Rizal agar anak yang aku kandung tetap mempunyai seorang Ayah."
"Itu lebih baik sayang, kamu tau sendirikan, aku tidak mau terikat hubungan dengan siapapun karena aku suka kebebasan." Ujar pemuda itu lalu kembali mencium Bibir merah Mawar yang selalu menggodanya.
"Sebut namaku sayang Dandy, " Bisik Dandy sensual yang membuat Mawar meremang.
Dengan cepat Dandy menggendong Mawar alah Bridal Style menuju ke kamarnya lalu ia membaringkan Mawar dengan pelan karena ia tahu Mawar sedang mengandung. Dandy mencium bibir Mawar bahkan ********** sehingga terjadilah hubungan terlarang mereka.