
Waktu berjalan begitu cepat hingga matahari memunculkan dirinya memyinari alam semesta, Cahayanya yang hangat membuat seseorang menggeliat dalam tidurnya.
"aku ada dimana" Kata Arumi menatap sekeliling ruangan yang ia tempati. Ia merenun diArumi kamar sehingga sekelabat ingatannya waktu ia diculik dan lecehkan.
"Ya allah, apakah aku pantas bersama Adrian yang begitu sempurna sedangkan aku... " Arumi tidak sanggup meneruskan perkataannya. Air matanya terus menetes dipipi mulusnya.
"Aaakkhhhh.... " Teriak Arumi prestasi sekaligus menarik rambutnya.
Mendengar teriakan Arumi dengan cepat ia berlari menuju kekamarnya.
Brak...
"ARUMI......... "Teriak Adrian begitu syok melihat Arumi yang sudah tergeletak dilantai tak sadarkan diri. Ia juga melihat Arumi mencoba bunuh diri dengan mengiris tangannya yang sudah mengeluarkan banyak darah.
" Sayang bangun, hei jangan seperti ini. Jangan membuatku takut." Tidak ada Respon dari Arumi. dengan cepat Adrian menggendong Arumi alah bridal style.
siapkan Mobil" Teriak Adrian pada salah satu anak buahnya yang menjaga rumahnya.
"Baik Tuan" Pengawal itu dengan cepat berlari mengeluarkan salah satu mobil bosnya yang berada di gerasi.
Pengawal Adrian kembali turun untuk membukakan pintu mobil untuk bosnya.
"Silahkan masuk Tuan."
"Adrian memasukkan Arumi kedalam mobil terlebih dahulu. Setelah Arumi sudah masuk kedalam mobil, Ia pun masuk dan pahanya sebagai bantalan Arumu.
" Jalan Jon, Cari rumah sakit terdekat." Kata Adrian.
"Baik Tuan, Ini kain Tuan sebaiknya Tuan ikat tangan Nona Arumi agar darahnya tidak mengalir terus." Joni memberikan kain bersih pada Adrian untuk membalut luka Arumi yang terus mengeluarkan darah.
Joni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak perduli umoatan pengendara lain.
"Jon lebih cepat lagi bawah mobilnya." Bentak Adrian yang semakin kalut melihat Arumi semakin pucat.
"Astaga Tuan ini sudah sangat cepat." Ujar joni dalam hati.
15 menit kemudian, mereka sampai dirumah sakit.
Joni turun dari mobil untuk memanggil dokter yang bertugas dirumah sakit.
"Dokter... Dokter.... " Teriak Joni menaggil dokter,
"Panggilkan dokter Randy." Kata Adrian menatap tajam perawat yang belum bergerak sama sekali.
"Cepat panggilkan Randy. Aku tunggu 5 menit , kalau ia tidak keluar aku ratakan rumah sakit ini." Murka Adrian.
"Ba baik tuan." Gagap perawat.
Tak lama seorang dokter lari mendekati Adrian yang masih menggendong Arumi.
"Baringkan di brankar Ndri."
Setelah Arumi baring, Adrian mendorong Brangkat Arumi menuju Ruang UGD.
"Maaf tuan anda tidak boleh masuk."
"Apa-apaan ini, aku hanya mau menemaniya." Bentak Adrian yang membuat perawat itu takut.
"Ta tapi tuan... "
"Ndri, tunggulah diluar. Kalau kamu membuat ulah akan semakin lama kita menangani Arumi. Percayalah padaku, aku akan berusaha menyelamatkan Arumi." Kata Randy memotong perkataan perawat yang sedang berbicara dengan Adrian.
"Baiklah." Pasrah Adrian duduk diruang tunggu.
Ia terus mondar mandir didepan pintu ruang UGD. Sesekali menatap pintu yang masih tertup rapat.
"Cih, kenapa lam sekali, apa yang mereka kerjakan didalam." Omel Adrian yang membuat Joni menggelengkan kepalanya.
"Awas ajah kalau Arumi kenapa-napa, akan kubuat rumah sakit Rata dengan tanah."
Ceklek
Pintu UGD terbuka Dengan cepat Adrian menghampiri Randy.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Adrian Was was.
Randy menghela nafas panjang. "Ia masih kritis, Ia membutuhkan donor darah AB Positif. Sedangkan persediaan darah kami habis.
Deg