
Vania terdiam dengan tatapan tajam saat mendengar ucapan laki-laki itu, sementara Arsen sudah berbalik dan akan pergi ke arah belakang.
Namun, Arsen tidak jadi melangkahkan kakinya saat merasa jika Vania hanya diam dan tidak mengikuti apa yang dia katakan.
"Kau tidak dengar ucapanku?" tanya Arsen dengan tajam sambil melirik ke arah belakang.
Vania menghela napas kasar dan berusaha untuk menekan emosinya. "Saya minta maaf jika sudah berkata kasar pada Anda, jadi tolong lupakan perbuatan saya tadi." Dia memilih mengalah karena tidak ingin membuat Sonya dan kedua orangtua wanita itu kecewa.
Tatapan Arsen semakin menajam saat mendengar ucapan Vania. Namun, smirik sinis muncul dibibirnya karena merasa benar-benar tertarik dengan wanita itu.
"Aku tidak pernah melupakan ucapan orang-orang sepertimu, jadi aku tidak menerima permintaan maaf darimu," ucap Arsen dengan penuh penekanan.
Vania benar-benar tidak habis pikir dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Sebenarnya apa sih, yang Arsen inginkan darinya? Kenapa terus saja membuat ribut dan menyulut emosi?
"Saya tidak tahu apa yang sebenarnya Anda inginkan, tapi saya menahan diri karena menghargai Sonya dan orangtua Anda," balas Vania dengan tidak kalah tajam.
Mereka berdua lalu saling bertatapan selama beberapa detik, sampai akhirnya tatapan mereka terhenti saat mendengar panggilan Sonya.
"Vania, kau di sana?" teriak Sonya yang merasa aneh karena Vania belum juga kembali dari kamar mandi.
"I-iya, Sonya. Sebentar!" balas Vania. Dia segera berbalik karena tidak ingin Sonya melihatnya bersama dengan Arsen.
"Nanti malam kutunggu di kamar, kalau kau tidak datang, maka akan kupastikan bahwa kau tidak akan mendapatkan anakmu lagi," ucap Arsen membuat langkah Vania lagi-lagi terhenti. Wanita itu melirik ke arahnya dengan tajam, terlihat jelas gurat kemarah diwajah Vania.
Arsen lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi ke halaman belakang tanpa menghiraukan kemarahan Vania, sementara Vania sendiri berlalu pergi menemui Sonya dan yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, Vania dan yang lainnya beranjak bubar dari ruangan itu karena malam sudah semakin larut dan saatnya untuk istirahat di kamar masing-masing.
"Istirahatlah, Vania. Jangan pikirkan apapun untuk malam ini, kau harus pikirkan kesehatanmu juga," ucap Sonya saat sudah berdiri di depan kamar yang di tempati oleh Vania, dan kamar itu itu berada tidak jauh dari kamarnya sendiri.
"Tentu saja, Sonya. Kau juga istirahatlah, besok kau harus bekerja, 'kan?" balas Vania sambil mengusap bahu Sonya.
Sonya mengangguk lalu beranjak pergi ke kamarnya, begitu juga dengan Vania yang segera masuk ke dalam kamar itu.
Vania lalu membaringkan tubuhnya ke atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Pikirannya kembali tertuju pada Varo yang membuat air mata kembali menetes. Namun, dengan cepat dia mengusap air mata itu karena tidak mau lagi menangis.
"Selamat malam, Sayang. Mimpi indah yah," gumam Vania sambil memejamkan kedua matanya seraya membayangkan wajah sang putra. Wajah tampan yang sama persis dengan wajah mendiang suaminya, tetapi mata dan senyuman Varo sangat mirip dengannya. "Mama sangat merindukanmu, Sayang. Mama sangat merindukanmu." Dia memeluk dirinya sendiri seolah sedang memeluk sang putra tercinta.
Lama Vania berada dalam posisi itu sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan agar bisa mengambil Varo dari tangan Adijaya. Namun, seketika kedua matanya terbuka saat mengingat tentang ucapan Arsen beberapa saat yang lalu.
"Sebenarnya apa sih, mau laki-laki itu? Kenapa dia terus saja mengusik hidupku?" ucap Vania dengan kesal. Dia lalu meninju-ninju bentak seolah sedang memukul wajah Arsen. "Apa dia seperti itu karena tidak suka aku tinggal di sini?" Dia menghentikan pukulannya karena merasa lelah.
Yah, Vania yakin jika Arsen tidak menyukai keberadaannya sehingga laki-laki itu terus mencari gara-gara. Namun, dia tidak bisa bergantung pada orang lain selain Sonya.
"Ayah, ibu. Kenapa hidupku sangat menyedihkan seperti ini," gumam Vania dengan terisak. Selama ini dia tidak pernah menangis sambil menyebut kedua orangtuanya, tetapi saat ini hidupnya benar-benar hancur dan dia merasa tidak berdaya.
Sejak dulu Vania tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Baik sebelum menikah, maupun setelah menikah dengan lelaki yang katanya sangat mencintainya.
Dulu, Vania berpikir bahwa suatu saat nanti hidupnya pasti akan membaik jika dia bertahan dan terus bersabar. Namun, lama-kelamaan keadaan semakin tidak terkendali sampai-sampai mengancam nyawa putranya, hingga akhirnya tanpa sadar dia membunuh sang suami dengan kedua tangannya sendiri.
Sudahlah, tidak ada gunanya mengingat apa yang terjadi di masa lalu. Kini Vania harus menatap ke depan dan fokus pada Varo saja, fokus mendapatkan putranya kembali dan hidup berdua dengan Varo.
"Baiklah, aku akan menemui Arsen. Bila perlu aku akan berlutut dikakinya agar membiarkan aku tinggal di sini dan meminta bantuan keluarganya untuk mendapatkan Varo kembali," gumam Vania sambil beranjak keluar dari kamar.
Vania lalu berjalan menuju kamar Arsen yang berada di ujung lorong lantai dua. Dia mengetuk pintu kamar itu dengan pelan agar tidak membuat yang lain terbangun, sampai tidak berselang lama pintu kamar itu terbuka juga.
"Masuk dan kunci pintunya!" perintah Arsen saat sudah membukakan pintu untuk Vania, dia lalu berjalan ke arah sofa dan duduk dengan angkuh.
Vania menelan salivenya karena merasa takut, tetapi dia harus bertahan dan mengikuti kemauan laki-laki itu. Persetan dengan apa yang Arsen lakukan, walau harus bersekutu dengan iblis sekalipun, dia akan tetap melakukannya demi Varo.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Vania setelah mengunci pintu dan berdiri di hadapan Arsen.
Arsen terdiam selama beberapa saat sambil memperhatikan penampilan Vania dari atas sampai bawah, tentu saja membuat Vania merasa risih.
"Aku tahu kalau kau sedang berencana untuk melawan keluarga Adijaya, tapi apa kau pikir bisa menggunakan adikku untuk melawan mereka?" ucap Arsen dengan tajam, suaranya terdengar dingin dan menusuk.
"Saya tahu kalau saya tidak berhak melakukan ini, tapi hanya Sonya sajalah yang mau membantu saya. Saya berjanji akan membalas semua kebaikan keluarga Anda, saya hanya menginginkan anak saya saja, hanya itu," balas Vania dengan suara bergetar dengan dipenuhi rasa sakit dan putus asa.
Arsen tersenyum tipis. "Kau pikir Sonya bisa melawan mereka? Kau tidak tahu siapa keluarga Adijaya, mudah saja bagi mereka menghilangkan nyawa seseorang. Kau pikir bisa merebut sesuatu yang sudah menjadi milik mereka, hah?"
Vania menggertakkan giginya dengan mata memerah. "Aku tidak merebut, tapi aku mengambil anakku sendiri. Dia darah dagingku, aku berhak bersama dengannya, bukan mereka!" Bantahnya dengan sarkas.
Arsen langsung tergelak mendengar ucapan Vania. Kemudian dia beranjak dari sofa dan berjalan mendekati wanita itu.
"Kalau gitu buatlah kesepakatan denganku, maka aku akan membantumu untuk mendapatkan putramu kembali."
•
•
•
Tbc.