
Setelah melihat Varo pergi, Arsen langsung menjauh dari Vania membuat wanita itu menghela napas lega. Dia lalu mengajak Vania untuk pergi dari tempat itu sebelum Varo melihat mereka.
Vania melirik ke arah kelas Varo dengan sendu. Dia ingin sekali kembali melihat putranya itu, tetapi dia juga tidak bisa melanggar perintah Arsen atau laki-laki itu akan murka dan membatalkan kesepakatan mereka.
"Setelah ini kita mau ke mana lagi, Tuan?" tanya Vania saat mereka sudah kembali masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak ingin kekasihku tidak punya baju," seru Arsen dengan tajam. Lain yang ditanya, lain pula jawabannya.
Vania menatap Arsen dengan bingung dan tercengang. Bisa-bisanya laki-laki itu mengatainya tidak punya baju, apa Arsen tahu kalau saat ini dia sedang memakai bajunya Sonya?
"Sa-saya punya baju kok," ucap Vania dengan tergagap. Wajahnya memerah karena menahan malu. Semalam dikatai rambut berminyak, sekarang dikatai tidak punya baju. Terus, besok dikatai apa lagi?
Arsen hanya diam karena malas menanggapi ucapan Vania. Dia lalu segera melajukan mobilnya menuju mall untuk membelikan perlengkapan wanita itu, dia tidak mau jika Vania terlihat buruk, apalagi di mata wanita yang sangat dia benci.
"Lihat saja, aku pasti akan membuatmu menyesal karena sudah mengkhianatiku." Arsen mencengkram kemudi mobilnya dengan kuat saat mengingat wajah wanita yang dia cintai, tetapi wanita itu jugalah yang telah menghancurkan cintanya sampai tidak bersisa.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Arsen bergegas keluar dari mobil dengan diikuti oleh Vania, terlihat wanita itu sedang memperhatikan kesekitar tempat yang dipenuhi dengan banyak orang.
"Ikut aku!" perintah Arsen sambil melangkah pergi untuk masuk ke dalam mall.
Vania mengangguk lalu mengikuti langkah Arsen tanpa bertanya. Dia yakin laki-laki itu pasti akan membelikan baju untuknya, tetapi jika dia sendiri yang disuruh membayar bagaimana?
"Aku sama sekali tidak punya uang, aku bahkan tidak mendapatkan hakku saat menikah dulu," gumam Vania sambil mengepalkan kedua tangannya penuh dendam.
Arsen yang mendengarkan gumaman Vania hanya melirik saja, dia lalu masuk ke dalam salah satu toko yang sedang dilewati.
"Selamat datang, Tuan?" sambut seorang wanita yang merupakan manager di toko itu, dia sengaja turun langsung untuk menyambut sang pemilik mall.
Arsen menganggukkan kepalanya untuk menanggapi sapaan wanita itu, terlihat karyawan yang lain juga menundukkan kepala padanya membuat Vania terdiam kaku melihat pemandangan itu.
"Siapkan pakaian untuknya," ucap Arsen sambil melirik ke arah Vania yang berdiri di sampingnya.
Wanita itu mengangguk. "Baik, Tuan." Dia lalu beralih mendekati Vania sambil tersenyum ramah. "Mari, Nona. Saya akan menunjukkan beberapa koleksi terbaru di toko ini, semoga Anda menyukainya."
Vania tersenyum dengan canggung saat mendengar ucapan ramah wanita itu, sementara beberapa pengunjung yang ada di toko itu tampak memperhatikan mereka.
"Te-terima kasih," ucap Vania. Dia lalu mengikuti langkah wanita itu menuju sebuah ruangan di mana sudah tersedia berbagai macam gaun dan pakaian yang lainnya.
Arsen sendiri duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu sambil menatap ponselnya yang sejak tadi bergetar. Terlihat sudah banyak sekali email dari sang asisten yang berisi laporan keuangan, dia harus segera memeriksanya atau sang asisten akan menerornya.
Sementara itu, di ruang ganti terlihat Vania sedang mencoba beberapa gaun yang diberi oleh wanita tadi. Sebenarnya dia merasa sangat syok dan tercengang saat melihat harga dari gaun-gaun itu, bahkan seumur hidupnya dia tidak pernah membeli gaun semahal dan semewah ini.
"Harganya sama dengan sepeda motor," gumam Vania sambil menatap harga dari gaun yang akan dia pakai. Memang sih, gaunnya sangat bagus dan juga mewah, tetapi harganya benar-benar membuat jiwa miskinnya meronta-ronta.
"Apa Anda sudah selesai, Nona?"
Vania terperanjat kaget saat mendengar ucapan manager tadi. "Se-sebentar." Dia bergagas memakai gaun itu dengan sangat hati-hati.
"Wah, Anda sangat cantik sekali, Nona. Gaun itu sangat cocok ditubuh Anda," puji manager itu dengan kedua mata berbinar kagum.
Wajah Vania langsung bersemu malu saat mendengar pujian wanita itu. "Te-terima kasih." Dia lalu segera mendekati Arsen yang tetap sibuk dengan ponsel.
"Saya sudah selesai mencobanya, Tuan," ucap Vania membuat Arsen langsung mendongakkan kepala untuk melihatnya.
Seketika pupil mata Arsen sedikit melebar saat melihat penampilan Vania yang tampak sangat cantik dengan gaun mewah itu, tidak disangka ternyata wanita itu bisa terlihat seperti ini hanya karena sebuah gaun.
"Coba yang lain," perintah Arsen seraya menunduk untuk kembali fokus pada ponselnya.
Vania yang berharap mendapat sedikit saja pujian dari Arsen terpaksa gigit jari. Jangankan memuji, laki-laki itu bahkan tidak berkata apakah gaun itu cocok untuknya atau tidak.
"Cih, memang apa yang bisa kuharapkan darinya sih?" gumam Vania dengan kesal. Dia lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam ruang ganti.
Senyum tipis terbit dibibir Arsen ketika mendengar gumaman Vania. Entah apa maksud wanita itu, tetapi dia merasa sedikit terhibur dengan hobi Vania yang suka bergumam tidak jelas.
Vania lalu mencoba semua gaun yang diberi oleh wanita itu padanya, tidak lupa beberapa kemeja, celana, jaket dan juga pakaian lain yang telah di sediakan. Sampai tenaganya terasa habis karena lelah mencoba semua itu.
"Ini gaun terakhir, aku sudah tidak kuat lagi," seru Vania dengan tubuh lemas, bahkan kedua kakinya sudah gemetar karena sudah hampir dua jam dia berdiri terus tanpa istirahat.
Vania lalu kembali menunjukkan gaun terakhirnya pada Arsen. Gaun selutut berwarna lilac dengan tali dibagian pinggang, juga bahu terbuka dengan bentuk sabrina yang membuat tampilannya tampak modis dan elegan.
Kali ini Arsen benar-benar terpana saat melihat penampilan Vania. Dia lalu beranjak dari sofa dan mendekati wanita itu membuat Vania menatap bingung.
"Gaunmu cantik, aku suka," ucap Arsen, tangannya terangkat ke belakang tubuh Vania lalu menarik ikat rambut wanita itu hingga rambut Vania tergerai indah.
Vania tersentak kaget dengan apa yang Arsen lakukan, sementara Manager dan beberapa karyawan yang berada di dalam ruangan itu bergegas keluar untuk memberi waktu agar mereka bisa berduaan.
"Te-terima kasih," ucap Vania dengan tegang. Terserahlah jika laki-laki itu malah mengatakan gaunnya cantik dari pada wajahnya yang cantik.
Arsen kembali tersenyum tipis. Dia lalu memanggil manager tadi agar kembali masuk ke dalam ruangan itu. "Bungkus semua pakaian yang tadi dia pakai, lalu berikan semuanya pada asisten pribadiku." Dia lalu menggenggam tangan Vania dan membawanya pergi dari tempat itu setelah memberikan perintah.
"Baik, Tuan. Selamat jalan," ucap Manager itu sambil menundukkan kepalanya, begitu juga dengan beberapa karyawannya.
Vania membulatkan kedua matanya saat ditarik oleh Arsen, dia juga merasa kesal saat mendengar perintah laki-laki itu pada Manager tadi.
"Kalau dia memang ingin membeli semuanya, kenapa aku harus susah payah mencobanya sih? Dasar Bedeb*ah gila!"
•
•
•
Tbc.