
Vania berdiri di hadapan Arsen dengan kepala tertunduk saat sudah masuk ke dalam ruangan laki-laki itu, sementara Arsen sendiri menatap Vania dengan tajam.
"Banyak juga yah, belanjamu," sindir Arsen sambil tersenyum sinis seolah mengatakan jika Vania terlihat seperti orang yang tidak pernah belanja sebelumnya, membuat wanita itu langsung mendongakkan kepala lalu menatapnya dengan tajam.
"Saya hanya mengikuti perintah Anda untuk belanja sepuasnya, Tuan," balas Vania dengan tidak mau kalah. "Anda tidak lupa 'kan, kalau saya boleh menggunakan kartu Anda sepuasnya?" Dia tersenyum lebar dengan penuh makna, walau sebenarnya tanganya sedang begetar takut.
Arsen langsung tergelak saat mendengar ucapan Vania membuat Vania terkesiap. Tidak disangka Arsen bisa tertawa seperti itu, padahal selama mengenal laki-laki itu dia sama sekali tidak pernah melihat Arsen tersenyum, apalagi tertawa.
"Bagus, bagus sekali," seru Arsen seraya beranjak dari kursi untuk mendekati Vania, membuat Vania menelan salivenya dengan kasar.
Arsen terus mendekati Vania sampai tidak menyisakan sejengkal jarak pun di antara mereka. Untuk sesaat tatapan mata mereka saling bertemu dan terkunci, sampai akhirnya Vania melangkah mundur membuat Arsen menyeringai tipis.
"Saya pasti akan mengganti uang Anda," ucap Vania. Dia tidak tahan jika terlalu dekat dengan Arsen.
"Baiklah, kalau gitu kau harus membuktikannya," balas Arsen. Dia lalu kembali duduk dan menyuruh Vania untuk duduk di hadapannya.
Vania bergegas duduk di hadapan Arsen lalu meletakkan belanjaannya di lantai. Kemudian matanya melihat ke arah sebuah amplop yang ada di atas meja.
"Buka amplop itu!" perintah Arsen.
Dengan patuh Vania langsung membuka amplop itu dan terkejut saat melihat isi yang ada di dalamnya. "Va-Varo?" Dia langsung menatap Arsen dengan bingung karena melihat foto-foto Varo.
"Itu adalah tempat-tempat yang dikunjungi oleh anakmu. Kau baca saja sendiri," ucap Arsen dengan malas.
Vania kemudian memperhatikan foto-foto yang ada di tangannya. Walau dia merasa bingung kenapa Arsen bisa mendapatkan semua itu, tetapi dia merasa senang karena bisa melihat foto putranya.
"Ini sepertinya tempat les," gumam Vania saat memperhatikan foto di mana Varo berada. Ada juga beberapa foto di restoran, tempat bermain, dan tempat wisata yang sepertinya berada di pinggir danau.
Setelah selesai melihat foto itu, Vania segera bertanya pada Arsen apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus menemui putrnya di sana?
"Aku yang akan menemuinya, kau cukup memperhatikan saja," ucap Arsen.
Vania menunduk sedih karena tidak diperbolehkan untuk menemui putranya secara langsung, padahal dia ingin sekali memeluk putranya itu.
"Kau boleh menemuinya jika waktunya sudah pas," sambung Arsen membuat Vania langsung menatap dengan tidak percaya.
"Be-benarkah?" tanya Vania yang dijawab dengan anggukan kepala Arsen.
Seketika Vania tersenyum senang karena diperbolehkan untuk menemui Varo. Setidaknya dia punya harapan untuk bisa bersama dengan putranya, walaupun harus punya kesabaran seluas samudera untuk menghadapi sifat Arsen.
"Malam ini bersiaplah, kita akan menghadiri sebuah acara," perintah Arsen kemudian.
Tanpa bertanya, Vania langsung menganggukkan kepalanya membuat Arsen merasa aneh. Biasanya wanita itu akan selalu bertanya apapun yang dia perintahkan, tetapi sekarang hanya mengangguk sambil terus tersenyum lebar.
Arsen lalu menyuruh Vania untuk pulang dengan menggunakan taksi, sementara dia sendiri harus mengerjakan pekerjaannya yang tertunda akibat belanja perlengkapan wanita itu.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Sonya tengah serius memeriksa tentang keluarga Adijaya. Dia harus mencari celah atau kesalahan dalam keluarga tersebut, tidak mungkin 'kan, mereka tidak membuat kesalahan sama sekali?
Sonya terjingkat kaget saat mendengar panggilan seseorang. Dengan cepat dia mengganti tampilan layar laptopnya agar tidak dilihat oleh orang tersebut.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Sonya sambil mendongakkan kepalanya.
"Komandan memanggilmu ke ruangan," ucap laki-laki itu sambil menujuk ke arah ruangan atasan mereka.
Sonya mengangguk paham lalu bergegas pergi ke ruangan sang atasan. Dia segera mengetuk pintu sambil meminta izin untuk masuk.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Sonya saat sudah berada di dalam ruangan atasannya.
"Duduklah, saya ingin membicarakan sesuatu," sahut laki-laki itu.
Vania segera duduk di kursi yang ada di hadapan sang atasan. Sepertinya ada hal penting yang ingin atasannya bicarakan, mungkinkah sedang ada masalah?
"Sudah berapa lama kau bergabung dalam pekerjaan ini, Sonya?" tanya laki-laki bernama Tio.
Sonya mengernyitkan kening heran saat mendengar pertanyaan Tio. "Sudah hampir sepuluh tahun, Pak." Walau merasa bingung, tetapi dia harus tetap menjawabnya.
Tio mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau gitu saya tidak perlu lagi memberitahukan peraturan tidak tertulis padamu. Kau tahu 'kan, kalau kita tidak bisa mengganggu orang-orang yang berkuasa, dengan alasan apapun?"
Sonya benar-benar merasa tidak mengerti dengan apa yang Tio ucapkan. Sebenarnya apa maksud ucapan laki-laki itu, dan siapa yang sedang Tio maksud?
"Maaf Pak, saya tidak-"
"Tuan Adijaya itu orang yang berkuasa, tidak seharusnya kita mengusik beliau. Apalagi selama ini beliau telah banyak membantu masyarakat, juga pendidikan bagi para perwira. Saya yakin kau pasti bisa bertindak dengan baik untuk ke depannya," potong Tio dengan penuh penakanan.
Ah, Sonya baru mengerti sekarang. Ternyata sejak tadi Tio sedang menyinggung keluarga Adijaya, dan jujur saja dia tidak menyangka jika masalah itu akan sampai ke dalam pekerjaannya seperti ini.
"Ternyata apa yang kakak bilang tadi malam itu benar. Mereka tidak akan tinggal diam dengan apa yang terjadi, dan aku tidak menyangka bahwa hukum dan keadilan akan menunduk di hadapan kekuasaan seperti ini." Sonya tersenyum getir.
Tio lalu kembali menegaskan pada Sonya agar tidak membuat kesalahan dan menyinggung orang-orang yang berkuasa, tanpa alasan apapun.
Sonya sendiri malah tersenyum saat mendapat peringatan seperti itu dari sang atasan. Mereka yang seharusnya melindungi dan mengayomi masyakarat, kini malah lebih mementingkan orang-orang yang berkuasa.
"Maaf jika saya menyinggung anda, Pak. Tapi bagi saya tidak ada yang lebih penting dari pada menegakkan keadilan dan melindungi semua masyarakat. Tidak peduli mereka miskin atau kaya, berkuasa atau tidak. Bukankah seperti itu, isi dari pidato Anda setiap minggu?"
•
•
•
Tbc.