Dia Buah Hatiku

Dia Buah Hatiku
Bab 5. Perebutan Varo atau Brian.


Vania terduduk di atas lantai sambil menatap sang putra dengan berlinang air mata. Dia benar-benar merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa melihat wajah putranya, bahkan kebahagiaan itu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.


"Varo-"


"Siapa kau?" tanya anak lelaki itu dengan tajam. Tangannya sibuk mengibas-ngibaskan bahunya karena merasa tidak suka dengan pelukan yang dilakukan oleh wanita asing itu.


Vania langsung mengusap air matanya sambil tersenyum cerah saat mendengar pertanyaan anak lelaki itu, sementara Belinda tampak mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


"Ini mama, Nak. Ini mama," jawab Vania sambil menepuk dirinya sendiri. Lagi-lagi air mata kembali menetes karena tidak sanggup menahan gejolak perasaan yang sedang bahagia.


Anak lelaki itu mengernyitkan kening bingung dan tidak mengerti dengan apa yang wanita asing itu katakan, dia lalu berlari menghampiri sang mama yang berdiri tidak jauh darinya.


"Mama, dia siapa?" tanya anak lelaki itu sambil memeluk tangan mamanya dengan erat, sementara Vania terus melihat ke arah putranya tersebut.


Belinda berusaha untuk menahan emosi karena tidak mau mengamuk di depan putranya. "Pergilah ke kamar, Brian. Kau pasti lelah, kan?" Dia mengusap puncak kepala Brian dengan lembut.


Brian mengangguk lalu kembali menatap wanita asing itu dengan sinis. Sesaat kemudian dia berbalik dan hendak pergi ke kamar sesuai dengan apa yang mamanya katakan.


"Tu-tunggu, Sayang. Mama mau bicara denganmu, Mama-"


"Tutup mulutmu!" bentak Belinda dengan tajam karena merasa tidak tahan dengan kelancangan Vania membuat semua orang yang ada di tempat itu terlonjak kaget, terutama Brian yang langsung melihat mamanya dengan heran. "Berani sekali kau menyentuh dan memanggil anakku dengan sebutan seperti itu, hah!" Dia kembali berucap dengan sarkas.


Vania bergegas bangun dari lantai tidak peduli jika saat ini pantatnya berdenyut sakit karena tadi didorong dengan kuat, sementara Sonya yang sejak tadi diam segera mendekati Vania.


"Aku mamanya, dan dia adalah putraku," balas Vania dengan suara bergetar. Dia yang akan kembali mendekati Varo langsung di halangi oleh Belinda.


"Lancang sekali kau berkata seperti itu, apa kau gila, hah?" bentak Belinda kembali dengan murka, suaranya membuat beberapa pembantu bergegas datang ke tempat itu. "Kalau sekali lagi kau berani menyentuh putraku, maka aku sendiri yang akan mematahkan tanganmu!" Ancamnya dengan tidak main-main.


Vania langsung menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Belinda, sementara Sonya berusaha untuk menenangkan Vania agar suasana tidak bertambah buruk.


"Dia benar-benar putraku, dia adalah Varoku. Aku, aku mamanya. Aku adalah mamanya," ucap Vania dengan penuh penekanan. Dengan cepat dia mengambil sebuah foto di saku celananya lalu menunjukkan foto itu pada Belinda. "Lihat, ini adalah foto Varo. Dia adalah putraku." Dia menunjuk ke arah foto lalu menunjuk ke arah Brian jugaz untuk memberitahu bahwa Brian dan Varo adalah orang yang sama.


Belinda terdiam dengan kedua mata membelalak lebar saat melihat foto yang ditunjukkan oleh Vania. Benar, itu adalah foto Brian pada saat berusia satu atau dua tahun. Bagaimana mungkin foto itu ada bersama Vania? Apa wanita itu benar-benar ibunya Brian?


"Tidak, Brian bukan putramu. Dia adalah anakku!" bantah Belinda dengan tajam. "Sekarang cepat pergi dari sini!" Dia menunjuk ke arah pintu keluar untuk mengusir Vania dan Sonya.


Beberapa pembantu yang ada di tempat itu tampak saling pandang karena merasa bingung dengan apa yang terjadi saat ini, lalu salah satu di antara mereka segera menghubungi asisten pribadi tuan Adijaya untuk mengatakan tentang keributan yang sedang terjadi.


"Dia benar-benar putraku, dia adalah Varo. Lihat, wajah mereka sama," hardik Vania sambil menunjuk-nunjuk ke arah foto yang sedang dia pegang. "Buk Ra sudah memberitahuku bahwa Varo ada di sini, aku sudah pergi ke panti asuhan. Jadi dia adalah anakku, dia putraku!" Dia menatap Varo dengan sendu.


"Hentikan omong kosongmu dan cepat pergi dari sini!" usir Belinda kembali. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang Vania katakan. Sampai kapan pun Brian adalah putranya dan akan selalu bersama dengannya.


Vania terus meyakinkan Belinda bahwa Brian adalah benar-benar putranya, dia bahkan sampai menunjukkan surat peninggalan buk Ra agar wanita itu percaya dan mau memberikan Brian padanya.


Begitu juga dengan Sonya yang berusaha untuk berbicara baik-baik dengan Belinda, dia juga meyakinkan Brian bahwa Vania adalah mama kandungnya.


"Aku mohon percayalah padaku, dia benar-benar anakku. dia-"


Tiba-tiba datanglah beberapa petugas keamanan ke dalam rumah itu, mereka langsung memegangi Vania dan Sonya membuat kedua wanita itu tersentak kaget.


"Seret mereka keluar dari rumahku sekarang juga!" perintah Belinda pada semua petugas keamanan.


Semua petugas keamanan menganggukkan kepala mereka dan segera membawa Vania dan Sonya untuk keluar dari rumah itu. Tentu saja Vania memberontak dan berusaha untuk melepaskan pegangan mereka.


"Tidak, lepaskan aku! Aku mau bersama dengan Varo, aku mau membawa anakku!" teriak Vania sambil berusaha untuk melepaskan kedua tangannya dari cengkraman petugas keamanan. Namun, tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan mereka semua.


"Varo, ini mama, Sayang. Mama datang untuk menjemputmu, mama sangat merindukanmu!" teriak Vania sambil terus berusaha untuk melepaskan diri. "Mama mohon kemarilah, Varo. Mama tidak bisa hidup tanpamu, mama mohon. Varo, Varo!" Teriakannya menggema di halaman rumah membuat semua orang yang ada di tempat itu menatap dengan iba.


Brian sendiri terus menatap ke arah Vania yang sudah keluar dari rumah. Semua ucapan wanita asing itu terasa berputar-putar dalam kepalanya hingga dia tersentak kaget saat dipeluk oleh sang mama.


"Maafkan mama, Sayang. Mama tidak bermaksud untuk membuatmu takut," ucap Belinda sambil memeluk Brian dengan erat. Dia lalu melerai pelukannya sambil menatap putranya dengan hangat.


"A-apa maksud wanita itu, Ma? Apa benar kalau aku-"


"Tidak, Sayang. Semua itu tidak benar, dia hanya orang gila yang mau mengacau di rumah kita, jadi jangan dengarkan apapun yang dia ucapkan, hem," pinta Belinda dengan penuh penekanan. Dia lalu membawa Brian ke kamar agar tidak lagi memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Sementara itu, Vania terus memberontak dan memohon agar dilepaskan. Namun, petugas keamanan itu sama sekali tidak peduli dengan ucapannya.


"Aku mohon lepaskan aku! Aku ingin bersama dengan anakku, aku ingin bersama dengannya!" teriak Vania kembali dengan tubuh mulai lemas karena terus memberontak dan membuat energinya terkuras abis.


Bruk.


Tubuh Vania dan Sonya tersungkur ke atas tanah karena didorong dengan kuat oleh pertugas keamanan saat sudah berada di luar gerbang.


"Pergi kalian, jangan pernah kembali ke sini lagi!" ucap salah satu dari pertugas keamanan pada, dia lalu menutup gerbang itu agar mereka tidak bisa kembali masuk.


Vania langsung merangkak ke gerbang untuk menahan gerbang itu agar tidak tertutup. "Tidak, aku mohon jangan lakukan ini. Aku mohon biarkan aku masuk, aku ingin bersama dengan putraku. Aku ingin bersama Varo!" Dia memukul-mukul gerbang yang terbuat dari besi itu dengan kuat tanpa memperdulikan tangannya sendiri.


"Hentikan, Vania. Kau tidak boleh seperti ini," ucap Sonya sambil berusaha untuk menghentikan Vania, tetapi wanita itu tidak mau mendengar ucapannya.


"Tidak, aku mohon biarkan aku masuk. Biarkan aku bersama dengan Varo, aku ingin putraku!"


Plak.


"Aku bilang hentikan!"





Tbc.