Dia Buah Hatiku

Dia Buah Hatiku
Bab 11. Memasang Umpan.


Vania membulatkan kedua matanya saat mendengar ucapan Arsen, sementara Arsen sendiri sudah keluar dari mobil dan menatap Vania dengan kesal karena wanita itu malah diam dan bukannya bergegas keluar.


"Apa kau mau di dalam saja?" bentak Arsen membuat Vania terjingkat kaget.


Vania tersadar dari lamunan dan bergegas keluar dari mobil sebelum Arsen semakin murka, dasar laki-laki pemarah!


"Ma-maaf," ucap Vania saat sudah berdiri di hadapan Arsen membuat laki-laki itu kembali berdecak kesal. Dia lalu mengikuti langkah Arsen yang masuk ke dalam tempat itu.


Vania menatap ke seluruh sekolah yang ada di depan matanya dengan kagum. Bagaimana mungkin sekolah dasar saja sangat mewah seperti ini? Sungguh sangat jauh berbeda dengan sekolah dasar tempatnya dulu menimba ilmu.


"Anda sudah datang, Tuan?" sapa seorang wanita paruh baya saat melihat kedatangan Arsen membuat langkah laki-laki itu terhenti, sementara Vania yang terlalu fokus memperhatikan ke sekitar tempat tidak sengaja menabrak tubuh Arsen yang berhenti di depannya.


Dug.


Vania tersentak kaget saat kepalanya menubruk punggung Arsen, membuat laki-laki itu langsung menoleh ke belakang dengan tatapan tajam penuh murka.


"Maafkan saya, saya tidak sengaja menabrak Anda," ucap Vania dengan panik. Dasar bod*oh, kenapa dia tidak melihat jika tadi laki-laki itu berhenti sih?


Arsen benar-benar tidak habis pikir dengan wanita yang saat ini ada di hadapannya. Sudah lambat, bod*oh, teledor pula. Apa tidak ada sedikit saja hal berguna yang ada dalam diri Vania? Sepertinya dia sudah salah membuat kesepakatan dengan wanita seperti Vania.


"Sudahlah, hentikan omong kosongmu itu. Sekali lagi kau buat masalah, siap kau!" ancam Arsen sambil memalingkan wajahnya ke arah depan.


Vania menghela napas lega saat mendengar ucapan Arsen. Walaupun menyeramkan, tetapi setidaknya saat ini laki-laki itu membiarkan kesalahannya.


"Dalam kesepakatan 'kan aku adalah kekasihnya, tapi kenapa dia malah memperlakukan aku seperti musuh sih?" Vania benar-benar tidak habis pikir, bahkan perlakukan laki-laki itu jauh lebih buruk dari sekedar menganggapnya musuh.


Mereka berdua lalu dipersilahkan masuk ke dalam pekarangan sekolah, terlihat para anak-anak sedang belajar di kelas mereka masing-masing.


"Kau boleh melihat anakmu dari jendela, tapi jangan sampai dia melihatmu," ucap Arsen saat sudah sampai di depan sebuah kelas di mana Varo berada.


Kedua mata Vania langsung berbinar-binar saat mendengar ucapan Arsen. "Terima kasih, terima kasih banyak, Tuan." Dia benar merasa senang karena bisa melihat putranya.


Perlahan Vania mendekatkan wajahnya ke jendela untuk melihat keberadaan sang putra. Dia memperhatikan ke seisi kelas, lalu tatapan matanya terhenti saat melihat sosok Varo yang sedang duduk sambil berpangku tangan di ujung kelas.


"Varo, putraku," gumam Vania dengan kedua mata berkaca-kaca. Dia merasa sangat bahagia karena bisa melihat putranya lagi walaupun dengan cara seperti ini, kedua tangannya terkepal erat karena ingin sekali memeluk Varo dengan erat.


Arsen yang sejak tadi memperhatikan Vania tampak menatap dengan prihatin. Walau dia bukan orang yang lemah lembut dan bertutur kata baik, tetapi dia merasa bersimpati dalam hal seperti ini.


Varo sendiri tampak diam sambil memperhatikan buku yang ada di hadapannya. Namun, seketika dia menoleh ke arah jendela saat merasa jika sejak tadi ada seseorang yang sedang memperhatikannya.


"Siapa dia?" gumam Varo saat bersitatap mata dengan Arsen. Apakah sejak tadi laki-laki itu yang memperhatikannya? Tetapi kenapa? Dia merasa bingung dan heran.


Arsen tersenyum tipis saat terus ditatap dengan tajam oleh Varo, sementara Vania tampak berjongkok di bawah jendela sambil memegangi dadanya yang berdebar keras karena takut ketahuan oleh Varo. Dia takut jika putranya tahu maka dia tidak akan bisa melihat Varo lagi.


"Ayo, kita pergi!" ajak Arsen sambil melangkah pergi dari tempat itu membuat Vania langsung menatap dengan kaget.


"Se-sebentar," seru Vania dengan suara pelan, dia lalu bergegas menyusul kepergian Arsen yang sudah sedikit jauh. "Tunggu sebentar, saya masih ingin melihat Varo." Dia berhasil menyusul Arsen bahkan berdiri tepat di hadapan laki-laki itu, membuat langkah Arsen terhenti. "Saya mohon sebentar lagi saja, saya ingin-"


"Tidak, sudah cukup!" potong Arsen dengan penuh penekanan.


Vania menggigit bibir bawahnya dengan tatapan sayu saat mendengar ucapan Arsen. "Saya janji tidak akan melakukan apapun, saya janji tidak akan membuat masalah. Saya mohon biarkan saya melihatnya sebentar saja." Dia menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan penuh harap.


Arsen menghela napas kasar. Dia bukannya tidak mau mengizinkan Vania untuk melihat Varo lebih lama, tetapi mereka punya batas waktu untuk berkeliaran di tempat ini.


"Kau harus mengikuti apa yang aku katakan, jadi diam dan ayo pergi!" ucap Arsen dengan tajam membuat Vania langsung lemas. Namun, tiba-tiba dia melirik ke arah belakang saat mendengar langkah seseorang.


"Baiklah, maaf kalau saya-" Vania tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Arsen. Laki-laki itu lalu membawanya pergi ke suatu tempat untuk bersembunyi. "A-apa yang terjadi?" Dia bertanya dengan panik dan cemas.


"Diam!" Arsen langsung menutup mulut Vania dengan tangannya sambil mendorong tubuh wanita itu agar bersandar di dinding, membuat tubuh mereka kini saling menempel tanpa jarak.


Kedua mata Vania membelalak lebar karena terkejut dengan apa yang Arsen lakukan saat ini, sementara Arsen sendiri tampak melihat ke arah kanan di mana Varo berada.


Ternyata Varo keluar dari kelas dengan alasan ingin ke toilet, dia merasa penasaran dengan laki-laki yang memperhatikannya tadi.


"Ke mana dia?" gumam Varo dengan bingung. Sesaat yang lalu dia melihat laki-laki itu ada di sini bersama seorang wanita, tetapi tiba-tiba saja pergi dan langsung menghilang.


Arsen tersenyum tipis saat mendengar gumaman Varo. Ternyata rencananya berhasil. Dia ingin membuat anak itu penasaran dan mencari keberadannya karena rasa penasaran anak-anak itu sangat tinggi.


"Baiklah, semua berjalan lancar. Besok aku harus sudah bicara dengan anak itu."





Tbc.