
Setelah selesai belanja pakaian, Arsen mengajak Vania untuk membeli perlengkapan yang lain. Seperti sepatu, tas, makeup, dan segala keperluan yang biasa wanita gunakan. Sampai-sampai membuat Vania tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Apa dia ingin membeli seluruh isi mall ini?" Vania menggerutu dalam hati, tentu saja dia tidak berani bersuara karena takut dengan amukan laki-laki itu.
"Jalanmu lambat sekali!" seru Arsen dengan tatapan tajam yang terarah kepada Vania. Padahal dia sudah memelankan langkah kakinya, tetapu wanita itu tetap saja ketinggalan.
Vania melirik ke arah Arsen dengan kesal. Apa laki-laki itu pikir dia robot, yang tidak punya rasa lelah? Arsen sih enak, tinggal duduk dan menyuruh orang di sana sini, sementara dia sendiri harus mencoba semua yang laki-laki itu inginkan sampai membuat kakinya tremor.
"Untung saja kaki saya ini buatan Tuhan, jika tidak pasti sudah tidak bisa berjalan lagi, Tuan," sahut Vania sambil tersenyum lebar, tetapi suaranya penuh dengan penekanan karena merasa geram dan kesal.
"Diam! Sekarang ikut aku," bentak Arsen sambil menarik tangan Vania yanh sejak tadi tidak lepas dari genggaman tangannya.
Vania ingin sekali memukul kepala Arsen atau mulut laki-laki itu yang sudah sangat kurang ajar dan seenaknya saja, benar-benar manusia yang terkutuk.
"Padahal dari tadi aku mengikutinya, gak usah pala dibentak bisa 'kan?" gerutu Vania dengan pelan, lalu langkahnya terhenti saat melewati sebuah toko pakaian dan mainan anak-anak membuat langkah Arsen juga ikut terhenti.
Arsen langsung memalingkan pandangannya ke arah Vania dengan kesal, sementara Vania sendiri terus menatap ke arah toko itu karena teringat dengan Varo.
"Apa yang kau lakukan sih? Apa kau tidak-"
"Apa saya boleh meminjam uang Anda, Tuan?" potong Vania sambil menatap Arsen dengan sendu membuat Arsen langsung terdiam. "Terakhir kali saya membelikan pakaian untuk Varo saat dia berusia tiga bulan, saya bahkan tidak sempat membelikannya mainan." Dia lalu kembali melihat ke arah toko perlengkapan anak-anak itu.
Arsen ikut melihat ke arah toko tersebut selama beberapa saat, kemudian dia kembali melihat ke arah Vania yang terlihat jelas sedang menahan tangis. Sepertinya wanita itu tidak ingin menangis di hadapannya.
"Kau tidak bekerja, bagaimana kau bisa membayar utang?" tanya Arsen dengan datar.
Vania kembali medongakkan kepalanya untuk melihat Arsen. Dia memang harus seperti itu karena laki-laki itu sangat tinggi, sementara dia sendiri memiliki tubuh yang mungil.
"Saya akan bekerja untuk Anda, Tuan. Saya akan melakukan semua perintah Anda, tolong pinjami saya uang," pinta Vania dengan serius. Persetan dengan harga diri atau apapun itu, yang jelas dia sangat membutuhkan bantuan Arsen saat ini.
Arsen menyeringai tipis saat mendengar ucapan Vania. "Baiklah, aku harap kau tidak akan menyesal." Kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam dompet lalu memberikan sebuah black card untuk Vania. "Pakai kartu itu sepuasmu, maka aku juga akan memakaimu sepuasku."
Glek.
Vania langsung menelan salivenya dengan kasar saat mendengar ucapan Arsen, tetapi dia tidak punya pilihan lain dan terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, terima kasih, Tuan," sahut Vania seraya menggenggam black card pemberian Arsen.
Arsen lalu memberi waktu setengah jam pada Vania untuk membeli semua yang wanita itu inginkan, setelah itu Vania harus pergi ke lantai 8 untuk menemui asisten pribadinya agar di antar ke dalam ruangan.
"Dia benar-benar wanita yang menarik. Yah, tidak sia-sia aku memanfaatkannya," gumam Arsen. Dia lalu pergi menuju ruangannya yang berada lantai delapan dalam mal ini.
Tidak terasa, sudah setengah jam Vania memilih segala perlengkapan untuk Varo. Mulai dari pakaian, sepatu, mainan, dan lain sebagainya. Sampai tidak sadar jika uang yang telah dia habiskan mencapai dua ratus lima puluh juta rupiah.
"A-apa ini tidak salah?" seru Vania dengan tubuh gemetar saat melihat total dari belanjaannya. Sangking senangnya, dia sampai tidak melihat harga dari barang-barang yang ada di toko ini. Padahal toko ini adalah brand termahal yang ada di mal tersebut.
"Semuanya benar, Nona. Sistem kami tidak pernah salah melakukan perhitungan," sahut seorang wanita yang menjadi kasir.
Vania tersenyum miris sambil memikirkan uang yang sudah dia habiskan. Apakah nanti Arsen akan memarahinya karena sudah memakai uang sebanyak ini? Atau laki-laki itu malah akan langsung menyembel*ihnya?
"Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Pokoknya nanti aku langsung sujud saja dikakinya, lagi pula ini kan utang," gumam Vania. Dia lalu memberikan black card milik Arsen pada wanita itu, setelahnya pergi menuju lantai delapan sesuai dengan perintah Arsen dengan kaki gemetaran menahan takut.
Sementara itu, Arsen yang sedang memeriksa laporan keuangan langsung melihat ke arah ponselnya saat mendengar notif masuk. Dia lalu mengambil benda pipih itu dan melihat laporan dari jumlah uang yang dipakai oleh Vania.
"Hebat sekali. Bukan hanya lambat dan bod*oh, tapi dia juga boros," gumam Arsen sambil kembali meletakkan ponselnya ke atas meja.
Tidak berselang lama, Vania sampai di lantai delapan dan langsung berjalan ke arah salah satu ruangan sesuai dengan petunjuk Arsen. Terlihat ada seorang lelaki yang langsung berdiri dari kursi saat melihat kedatangannya.
"Selamat siang, Nona. Silahkan masuk, tuan sudah menunggu," ucap laki-laki bernama Morgan, dia adalah asisten pribadi Arsen.
Vania terdiam karena tidak mengenal laki-laki itu. "Maaf, Tuan. Anda siapa, dan tuan yang Anda maksud juga siapa?" Dia bertanya dengan bingung.
"Perkenalkan, nama saya Morgan. Saya adalah asisten pribadinya tuan Arsen, beliau sudah menunggu Anda di dalam," jawab Morgan sambil mempersilahkan Vania untuk masuk ke dalam ruangan.
Vania mengangguk paham. Dia lalu mengucapkan terima kasih sebelum masuk ke dalam ruangan Arsen walau merasa bingung kenapa asisten pribadi laki-laki itu ada di sini, bahkan sepertinya Morgan tadi sedang bekerja.
Morgan sendiri terus menatap Vania dengan tajam sambil memperhatikan penampilan wanita itu. Wajahnya lumayan cantik, tutur katanya juga sopan. Sifatnya belum terlihat, tetapi sepertinya wanita itu memiliki hati yang hangat.
"Tapi, bisakah wanita seperti itu melawan keluarga Adijaya? Apalagi tuan malah menjadikannya sebagai kekasih, dia pasti akan berhadapan dengan Belinda."
•
•
•
Tbc.