
Vania seketika memundurkan tubuhnya saat mendengar ucapan Arsen, sementara Arsen sendiri malah merasa tidak bersalah dan dengan santainya masuk ke dalam bathtub.
"Kenapa kau diam di sana? Apa kau benar-benar ingin ikut mandi?" tanya Arsen dengan nada cibiran saat Vania hanya diam di sudut kamar mandi.
Vania langsung membantah ucapan Arsen sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Kemudian dia pamit untuk keluar dari tempat itu sebelum terjadi sesuatu yang iya-iya.
"Mau ke mana kau?" seru Arsen membuat langkah Vania kembali terhenti.
Vania lalu menoleh ke arah Arsen sambil menahan geram. "Saya harus keluar dari sini karena tidak ingin man--"
"Cuci rambutku!"
Vania tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena langsung dipotong begitu saja oleh Arsen. Dia lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, mencoba untuk tetap sabar menghadapi manusia terkutuk itu.
Vania kemudian berbalik lalu mendekati Arsen dan duduk di dekat kepala laki-laki itu. "Saya akan mulai mencuci rambut Anda." Perlahan dia memegang kepala Arsen dan membasuhnya dengan air.
Arsen memejamkan kedua mata saat mendapat pijatan lembut dikepalanya. Dia menikmati sentuhan tangan Vania yang sepertinya sudah biasa melakukan hal seperti ini. Mungkinkah dulu wanita itu pernah bekerja menjadi tukang cuci rambut?
"Rambut siapa saja yang sudah kau cuci?" tanya Arsen tiba-tiba tanpa membuka kedua matanya.
Pijatan Vania terhenti saat mendengar pertanyaan Arsen. "Maaf, apa maksud Anda?" Dia sama sekali tidak mengerti.
Kedua mata Arsen langsung terbuka dan seketika dia berbalik untuk melihat ke arah Vania, membuat wanita itu terkesiap karena wajah mereka sangat berdekatan.
"Rambut siapa saja yang sudah kau cuci? Sepertinya kau sangat berpengalaman, yah," ucap Arsen dengan penuh penekanan.
Napas Arsen terasa menyapu wajah Vania karena sangking dekatnya mereka, hingga membuat tubuhnya merinding dan bergetar.
"Sa-saya mencuci rambut Varo, putra saya," jawab Vania sambil memundurkan tubuhnya, tetapi ternyata punggungnya sudah menyentuh dinding.
Arsen terus menatap Vania dengan tajam membuat tubuh Vania semakin bergetar. Kemudian tatapannya tertuju ke arah bibir Vania yang tampak sangat menggoda, dia bahkan masih ingat dengan rasa manis dari bibir itu.
Perlahan Arsen mulai memajukan wajah hingga hidungnya dan hidung Vania saling bersentuhan. Tangannya terulur memegang wajah wanita itu dan bersiap untuk melummat bibir Vania dengan hasrat yang mulai membara.
Namun, Vania memalingkan wajah untuk menolak ciuman Arsen. Seluruh tubuhnya bahkan bergetar hebat dengan air mata yang mengalir diwajahnya membuat Arsen terkesiap.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Arsen dengan heran dan bingung, apalagi melihat wajah Vania yang berubah pucat dan pias. "Hey, Vania."
"Lepaskan aku!" teriak Vania sambil menepis tangan Arsen yang akan menyentuh bahunya, padahal laki-laki itu hanya berniat untuk menenangkannya.
Sementara itu, Vania sendiri meringkuk di dinding dengan tubuh gemetaran. Ingatan demi ingatan tentang apa yang terjadi di masa lalu terasa berputar-putar dalam kepalanya, Bahkan dia merasa mual saat melihat tangannya sendiri seolah tangan itu sedang berlumuran darah.
"Hey, Vania! Apa yang terjadi?" tanya Arsen dengan panik seraya memegang kedua bahu Vania. Dia lalu mengguncang tubuh wanita itu yang hanya diam sambil menatap ke arah tangannya sendiri. "Jawab aku, Vania!" Bentaknya dengan kuat sambil memaksa Vania untuk melihat ke arahnya.
Vania menatap Arsen dengan sayu dan terisak. Kepalanya terasa pusing seperti akan meledak, dan perutnya juga terasa bergejolak seakan ingin memuntahkan semuanya.
"Aku, aku membunuhnya. Aku membunuhnya," ucap Vania dengan gemetaran. Sesaat kemudian tubuhnya menjadi lemas dan tidak sadarkan diri.
"Vania, Vania!" teriak Arsen sambil menggoyang-goyang tubuh Vania yang terjatuh dalam pelukannya.
Dengan cepat Arsen membawa Vania keluar dari kamar mandi lalu membaringkannya di atas ranjang. Kemudian dia mencari ponsel untuk menghubungi Morgan dengan wajah pias dan juga panik.
"Tidak, aku harus menghubungi Dokter dulu," gumam Arsen sambil membatalkan panggilan untuk Morgan, dia lalu segera mencari nomor Dokter pribadinya untuk memberitahu tentang apa yang sedang terjadi saat ini.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Brian sedang terlelap di ranjang mewahnya. Namun, tiba-tiba dia terbangun karena merasa sesak napas seperti ada yang menimpa dadanya.
"Aargh!" Brian berteriak dengan kuat untuk melepaskan rasa sesak yang menghunjam dada. Padahal sebelum tidur tadi dia tidak merasa sesak atau sakit, tetapi kenapa sekarang dadanya seperti ini?
Brak.
Tiba-tiba pintu kamar Brian dibuka dengan paksa sampai membuat suara benturan yang cukup keras.
"Ada apa, Sayang?" seru Belinda seraya berlari menghampiri putranya dengan cemas dan khawatir, apalagi tadi mendengar suara teriakan dari kamar sang putra.
"A-aku tidak apa-apa, Ma. Hanya saja dadaku terasa sesak, aku-"
"Honey ... Honey cepat kemari!"
•
•
•
Tbc.