Dia Buah Hatiku

Dia Buah Hatiku
Bab 18. Apartemen Pribadi.


Vania langsung menutup mulutnya karena sudah kelepasan bicara, sementara Morgan menatap Vania dengan tajam karena merasa khawatir dengan pertanyaan yang wanita itu berikan pada Arsen.


"Nona, Anda tidak punya-" Morgan langsung menghentikan ucapannya saat melihat Arsen mengangkat tangan sebagai pertanda bahwa dia harus menghentikan apa yang ingin dikatakan.


Arsen menatap Vania dengan tajam membuat Vania merasa takut dan menyesal karena sudah bertanya. Seharusnya dia diam saja dan hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh laki-laki itu.


"Sepertinya kau sangat penasaran, yah?" ucap Arsen dengan pelan, tetapi suaranya terdengar sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Vania dan Morgan merinding.


Vania langsung menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Arsen. "Ti-tidak, saya sama sekali tidak penasaran. Tadi saya hanya salah bicara saja." Sangking paniknya dia sampai mengucapkan semua itu hanya dengan sekali tarikan napas.


Arsen tersenyum sinis lalu kembali menyesap minuman yang ada di hadapannya, sementara Vania menghela napas lega karena Arsen tidak lagi membahasnya.


Dari kejauhan, Belinda dan Ivan terus melihat ke arah Arsen dan Vania. Tidak peduli jika saat ini mereka sedang dikerumuni oleh orang-orang yang ingin mencari perhatian dan koneksi.


"Apa mereka benar-benar sepasang kekasih?" Belinda mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat merasa sesak. "Tapi kenapa Arsen bisa menjalin hubungan dengan wanita itu?" Dia benar-benar merasa tidak percaya. Padahal selama ini Arsen tidak pernah dekat dengan wanita manapun, bahkan laki-laki itu tidak punya teman seorang wanita.


Namun, Belinda tidak sadar jika waktu sudah berlalu dengan sangat lama sekali. Bahkan usia pernikahannya dan Ivan saja sudah berjalan tujuh tahun, itu artinya sudah lebih dari tujuh tahun yang lalu sejak dia memutuskan hubungan dengan Arsen karena memilih menikah dengan suaminya sekarang.


"Apa kau masih merindukan mantan kekasihmu itu?"


Belinda tersentak kaget saat mendengar ucapan Ivan. Seketika dia menoleh ke arah sang suami dengan wajah gugup sembari berusaha untuk tersenyum.


"Aku hanya sedang memikirkan wanita itu saja, Honey. Aku khawatir dia akan mengambil Brian," ucap Belinda dengan berbohong.


Ivan mendengus sinis. "Kau pikir siapa mereka? Tidak ada yang bisa mengambil apapun yang sudah menjadi milikku!" Dia berucap dengan penuh penekanan.


Belinda mengangguk paham dan sangat mengerti sekali dengan ucapan Ivan. Apa yang laki-laki itu katakan memang benar, tidak ada satu orang pun yang bisa melawan suaminya itu. Bahkan dulu Arsen juga tidak bisa melakukan apa-apa di hadapan keluarga Adijaya.


Ivan lalu mengajak Belinda pulang karena sudah tidak mood untuk berlama-lama di pesta itu. Apalagi dengan kehadiran Arsen yang kembali memantik kobaran api dalam dirinya, dan laki-laki itu bahkan bersama dengan wanita yang merupakan ibu kandung dari putranya.


"Aku yakin semua ini pasti bukan hanya kebetulan semata." Ivan mengepalkan kedua tangannya dengan sorot tajam yang terarah pada Arsen dan Vania. "Seharusnya dulu kuhancurkan saja dia sampai tidak bersisa. Beraninya sekarang dia menantangku?" Dia benar-benar geram dengan tingkah Arsen. Lihat saja, jika laki-laki itu berani mengusik hidupnya, maka jangan salahkan dia jika menghancurkan Arsen sampai menjadi debu.


Setelah menghabiskan waktu selama satu jam di pesta itu, Arsen lalu mengajak Vania untuk pergi. Namun, dia tidak membawa wanita itu ke rumah orangtuanya, tetapi ke sebuah apartemen yang berada tidak jauh dari tempat itu saat ini.


"Selamat malam, Tuan. Selamat beristirahat," ucap Morgan saat sudah sampai di parkiran apartemen milik Arsen.


Arsen menganggukkan kepalanya seraya turun dari mobil, sementara Vania tampak bingung karena tidak tahu sedang berada di mana saat ini.


"Ngapain kau dimobil aja? Turun!" seru Arsen dengan tajam membuat Vania bergegas keluar dari mobil.


Vania lalu melihat ke sekeliling tempat di mana mereka berada saat ini. "Inikan kawasan apartemen, apa yang akan kami lakukan di sini?" Dia merasa bingung dan takut secara bersamaan.


"Ikut aku!" perintah Arsen sambil berjalan masuk ke dalam apartemen itu.


Dengan sangat terpaksa, Vania mengikuti langkah Arsen yang sudah lebih dulu masuk ke dalam lift. Laki-laki itu tampak menahan tombol lift itu untuk menunggunya agar bisa pergi bersama.


Ting.


Pintu lift pun terbuka membuat Arsen segera keluar lalu berjalan ke arah pintu yang ada di sebelah kanan lift tersebut. Tentu saja Vania juga mengikutinya sembari memperhatikan ke sekelilingnya.


"Loh, kenapa cuma ada satu pintu saja di sini?" Vania meras heran karena hanya ada satu pintu saja dilantai ini.


"Cepat masuk!" seru Arsen yang sudah berdiri di ambang pintu, membuat Vania segera mendekatinya dan berlalu masuk ke dalam ruangan itu.


Kedua mata Vania membelalak lebar saat melihat isi dari apartemen itu. Dia tahu jika apartemen ini sangat bagus, tetapi tidak disangka jika isinya sangat mewah sekali.


Arsen menghela napas kasar saat lagi-lagi melihat Vania terpaku seperti itu. Entah sudah berapa kali Vania melakukan hal tersebut. Sebenarnya wanita itu berasal dari mana sih? Apa semua yang ada di dunia ini membuatnya terpaku seperti itu?


"Siapkan air panas untukku, aku mau mandi!" perintah Arsen membuat Vania seketika menatapnya dengan tajam. "Apa? Beraninya kau menatapku seperti itu?"


Vania langsung tersadar dan mengubah tatapan matanya. "Kalau gitu di mana kamar Anda, Tuan?"


Arsen menunjuk ke arah lantai dua untuk menjawab pertanyaan Vania, kemudian berjalan pergi menuju dapur.


Vania bergegas pergi ke arah yang ditunjuk oleh Arsen untuk segera menyiapkan air agar laki-laki itu bisa mandi. Perlahan dia membuka ruangan yang merupakan kamar Arsen, lalu indra penciumannya langsung mencium wangi mint yang sangat menyegarkan, sama dengan wangi tubuh Arsen.


"Jadi ini kamarnya," gumam Vania seraya masuk ke dalam kamar. Sesaat dia memperhatikan isi kamar itu, kemudian berlalu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air.


Setelah selesai, Vania segera berbalik dan hendak menemui Arsen untuk memberitahu laki-laki itu bahwa airnya sudah siap.


"Astaga!" Vania memekik kaget saat melihat Arsen sudah berdiri di hadapannya ketika dia berbalik, sementara Arsen hanya diam dengan tatapan tajam. "A-apa yang Anda lakukan?" Dia bertanya dengan tergagap saat melihat Arsen sudah bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek saja.


"Mandi. Kenapa, kau mau ikut?"


"A-apa?"





Tbc.