
Pricilia bersama bayi mungilnya dan suaminya kini telah menunggu kedatangan Lalisa di negara Prancis tersebut. Pricilia pun tampak cemas karena sedari tadi tidak melihat Lalisa di bandara tersebut padahal seharusnya pesawatnya telah mendarat setengah jam yang lalu.
"Sayang, bagaimana ini?? Kenapa Lalisa belum nampak muncul juga?" Tanya Pricilia kepada suaminya tersebut.
"Tunggulah sebentar lagi sayang." Ucap George kepada istrinya tersebut.
"Sayang, lihatlah yang memakai kacatama dan masker itu terlihat seperti Lisa." Ucap Pricilia dengan antusias.
Dan benar saja jika sosok tersebut merupakan Lalisa. Pricilia pun nampak melambaikan tangannya dengan sangat senang.
Dengan langkah terburu-buru Lalisa pun menuju ke arah Pricilia tersebut. Keduanya pun bercipika cipiki dengan penuh haru.
"Ya ampun baby boy aunty ganteng banget, bule Prancis kecilku" Ucap Lalisa sambil menoel-noel pipi baby Pricil tersebut.
"Yasudah ayo segera menuju ke mobil dulu. Ngobrolnya di sambung nanti." Ucap suami Pricilia tersebut.
"Iya ayo kita ke mobil dulu, kamu pasti capek di perjalanan kan." Ucap Pricil sembari menarik tangan Lalisa karena terlalu rindu dengan sahabat nya tersebut.
Mobil pun melaju menuju kediaman Pricilia. Sepanjang perjalanan kedua nya pun mengobrol dengan sesekali tertawa melihat tingkah baby Kendrick yang lucu.
Tak lama kemudian, mobil pun sampai di kediaman mewah milik suami Pricila tersebut. Lalisa pun menempati kamar tamu untuk sementara waktu sampai ia benar-benar mendapatkan apartemen yang sesuai dengan keinginan nya.
Lalisa pun telah di rekomendasikan untuk bekerja di butik milik Tante suaminya Pricilia tersebut. Pricilia dan George sendiri telah mengakui jika desain-desain yang di rancang oleh Lalisa pun terlihat sangat bagus.
Maka dari itu George pun berani merekomendasikan Lalisa untuk bekerja di butik sang Tante sebagai desainer, walaupun tidak memiliki ijazah yang sesuai dengan bidangnya tersebut.
Tante nya George pun telah mengakui ketika pertama kali melihat karya-karya dari Lalisa jika Lalisa sebenarnya memiliki bakat menjadi seorang desainer. Sehingga sang Tante pun menyetujui untuk merekrut Lalisa menjadi bagian dari tim designernya.
Mendengar jika dirinya baru datang ke Prancis dan telah mendapatkan pekerjaan pun Lalisa menjadi sangatlah bahagia, hingga ia pun melupakan beban yang ia pikul untuk sesaat.
"Beneran aku diterima di butik milik Tante dari suami kamu yang terkenal itu??" Tanya Lalisa dengan antusias.
Bagaimana tidak sangat antusias jika butik yang Tante George miliki tersebut merupakan butik langganan dari para artis Hollywood. Yang seluruh design nya pun sangat di akui di penjuru dunia.
"Benar Lis. Besok kamu bisa bersiap-siap untuk mengikuti proses interview secara formalitas saja di butik milik Tante suamiku itu." Jawab Pricilia dengan antusias juga.
"Baiklah, aku akan berusaha semampuku agar tidak mempermalukan kamu di depan Tante kamu itu ya Pricil." Ucap Lalisa dengan antusias.
"Baiklah setelah ini kita pergi berbelanja keperluan kamu untuk interview besok. Jadi mari kita shopping bertiga dengan baby Ken kali ini ya??" Ucap Pricilia dengan raut muka gembira.
"No, Daddy kali ini kembali lah bekerja dulu. Aku ingin menghabiskan waktu ku bersama dengan sahabat ku ini. Kalau Daddy ikut kita nya jadi yang tidak merasa nyaman karena Daddy ikuti kemana-mana." Jawab Pricilia menolak ajakan untuk membawa serta suaminya tersebut.
"Baby Ken, lihatlah Daddy sekarang di acuhkan oleh mommy." Ucap George yang merajuk di depan anaknya yang belum bisa memahami apapun itu.
"Hih, Daddy jangan mengucapkan kata aneh-aneh di depan putra kita." Kata Pricil dengan menggendong putranya tersebut agak menjauh dari George.
Lalisa yang melihat keharmonisan keluarga kecil tersebut pun mendadak iri. Apakah ia nanti dapat memiliki keluarga kecil yang bahagia seperti itu?
Pricilia yang melihat raut muka dari Lalisa yang berubah menjadi sendu pun mendadak memahami apa yang sedang Lalisa pikirkan.
"Lisa sahabat ku, tidak ada salahnya dengan perjodohan. Asalkan di antara kita saling terbuka dan mencoba mengenal lebih dalam dan menerima pasangan kita." Ucap Lalisa dengan perlahan.
"Namun berbeda denganku, aku pun tidak pernah melihat rupa calon suamiku dengan kondisi nya saat ini. Aku hanya sempat mengenalnya sewaktu kecil. Namun kalau sudah selama itu tidak berkomunikasi dan mendadak mendapatkan kabar perjodohan dengan orang tersebut apakah kamu akan menerima dengan mudahnya Pricil? Menurut ku itu seperti membeli kucing di dalam karung, yang mana kita tidak bisa melihat kondisi kucing tersebut." Jawab Lalisa dengan panjang lebar.
Pricilia pun mencoba mengerti dengan kegelisahan Lalisa saat ini. Seharusnya orang tua mereka pun mendekat kan keduanya kembali, agar mengenal satu sama lain dan sama-sama saling menerima. Bukan hanya sekedar mengatakan jika mereka akan dijodohkan tanpa bertemu dan berkenalan kembali.
"Yasudah lah kita lupakan masalah kamu yang itu. Ayo kita bersiap berbelanja." Ajak Pricil dengan antusia.
Mereka pun nampak memasuki mobil dengan riang gembira sembari mengajak baby Ken mengobrol. Mobil pun melaju bersama sang sopir dan menuju sebuah pusat belanja terbesar dan terlengkap di kota tersebut.
Mereka pun tampak memasuki mall tersebut dengan riang gembira. Memasuki gerai satu ke gerai yang lain. Hingga sampailah ia di gerai skin care SK III. Ia pun mendadak rindu dengan suasana di perusahaan skin care tersebut di Indonesia.
Ia pun merasa bersalah karena mengakhiri kontrak dengan sepihak dan membayar pinalti dengan jumlah yang sangat besar hingga menguras hampir seluruh tabungan nya.
Namun Lalisa sama sekali tidak menyesal dengan keputusan yang telah ia ambil dengan menukar kebebasannya tersebut. Ia ingin mencoba peruntungan bekerja di negeri orang dengan harapan mendapatkan kebahagiaan yang baru walau dengan resiko harus berjauhan dengan keluarga nya saat ini.
"Mama, papa, kak Harley dan kak David. Maafkan keegoisan Lalisa. Doakan Lalisa agar Lalisa bisa membanggakan kalian semua." Ucap Lalisa di dalam hatinya tersebut.
"Amira, maafkan aku yang pergi tanpa memberitahu kamu. Aku harap kamu selalu dalam keadaan baik." Ucapnya dalam hati ketika mengingat semua kebaikan yang Amira berikan kepada nya tersebut.
"Hei, Lisa jangan melamun." Tegur Pricil sembari mendorong stroller milik baby Ken.
"Hehehe, iya maaf Cil, mendadak teringat dengan keluarga ku disana." Jawab Lalisa dengan sejujurnya.
"Yasudah,berarti tugas kamu berikutnya adalah membuat mereka semua bangga terhadapmu. Kamu disini berjuang ya bukan berlibur." Ucap Pricilia mengingat kan sembari tertawa.
"Iya iya, siap komandan." Jawab Lalisa dengan penuh semangat baru.