
Pagi ini keadaan fisik Lalisa sudah membaik, demamnya pun sudah turun. Namun seperti yang terlihat jika keadaan batin Lalisa masih terguncang. Ia pun lebih banyak diam, melamun dan sesekali menangis sesenggukan.
Berkali-kali Amira, mama dan papa Lisa mencoba untuk mengajak Lisa berbicara dan mengalihkan perhatian nya. Namun yang terlihat seperti tidak ada tanggapan lain lagi selain diam, melamun dan menangis. Hal tersebut pun membuat kedua orang tua Lalisa sangat kebingungan dengan keadaan putrinya tersebut.
Kedua kakaknya Lisa pun telah tiba di ruang perawatan Lalisa. Melihat kedua orangtuanya menangis kebingungan pun segera kedua kakaknya Lisa tersebut mendekat ke tempat tidur Lalisa.
"Dek, kak Harley dan kak Davidson ada disini. Cerita ke kakak apa yang kamu rasakan saat ini? pasti kakak dengan siap mendengarkan semua keluh kesahmu." Kata kak Harley yang kemudian di ikuti oleh kak David yang membelai dengan halus adik kecilnya yang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa tersebut.
Lalisa pun mendongak ke atas menatap wajah kedua kakaknya tersebut dan tangisnya pun semakin pecah.
"Huhuhu.. Huhuuhu.. kak.." Jawab Lalisa dengan tersedu-sedu.
"Kak, hati ak.. aku.. Sa sakiit sekali kak."Jawab Lalisa dengan terbata-bata.
"Huhuhu... Huhuhu.." Lalisa pun tidak sanggup membendung lagi air matanya di depan kedua kakaknya yang selalu menyayanginya tersebut.
Kedua kakaknya tersebut pun merangkul adiknya menjadikan keduanya tempat sandaran ternyaman untuk adik tersayang nya tersebut.
"Yang namanya kelahiran, jodoh dan kematian merupakan takdir dari Allah dek. Kita sama sekali tidak bisa merubah hal tersebut. Kita harus berikhtiar dan menerima semua dengan lapang dada atas ketentuan Allah tersebut." Jawab kak David.
Lalisa pun melihat dan menatap wajah kakaknya tersebut.
"Tapi kenapa mama dan papa jahat sekali terhadapku kak. Kenapa mama dan papa harus menjodohkan aku dengan orang yang tidak aku cintai kak? Kenapa aku tidak boleh memilih bersama dengan orang yang aku cintai kak? Kenapa dia meninggalkan ku untuk selama-lamanya? Kenapa harus aku yang di jodohkan? Kenapa kalian sama sekali tidak mengerti perasaan ku? Huhuuhuu.. Huu..Huuu..Huuu.. Kenapa harus aku yang mengalami sakit ini kak? Apa kalian semua sama sekali tidak menyayangiku??Kenapa???" Ucap Lalisa dengan air mata yang berurai menahan rasa yang akhir-akhir ini harus ia pendam seorang diri.
"Kalian semua sama sekali tidak menyayangiku. Huhuhu. Untuk apa aku hidup di dunia ini. Huuhuuhu.." Ucapnya lagi.
"Sudah sudah.. Ayo kita makan dulu, kita cari jalan keluar lagi nanti setelah kamu selesai makan. Nanti biar kakak-kakak kamu yang berunding dengan mama dan papa." Bujuk Harley terhadap adiknya.
"Kakak janji kan? Enggak bohong sama Lisa kan?" Tanya Lisa dengan penuh harap.
"Apa selama ini kakak pernah membohongi Lisa? Tidak kan? Jadi cobalah percaya dengan kakak. Yuk kakak suapin." Jawab Harley mengusap air mata adik kesayangannya tersebut dengan penuh kasih sayang.
Akhirnya Lalisa pun mau tersenyum kembali setelah mendengar penuturan kakaknya tersebut.
"Lisa sayang kak Harley dan kak David." Ucap Lalisa dengan memeluk kedua kakaknya dengan penuh haru.
Harley pun menyuapi Lalisa sedikit demi sedikit hingga makanan pun habis tidak tersisa. Kemudian David pun membawakan jus alpukat dan air putih untuk segera di minum oleh adiknya tersebut.
Setelah Lalisa menghabiskan semuanya lantas Lalisa pun kembali merengek kepada kedua kakaknya tersebut.
"Kak..?" Tanya Lisa.
"Ma, Pa.. Kali ini dengarkan saja keinginan Lalisa. Lisa bicaralah dari hati ke hati kepada kami semua. Jangan takut untuk mengungkapkan semuanya." Terang Harley.
"Pa.. Ma.. Maafkan Lisa. Lisa tidak ingin dijodohkan dengan orang yang Lisa tidak cintai dan tidak kenal. Kami hanya kenal semasa waktu kami kecil. Namun Lisa tidak tau bagaimana jika calon suami pilihan papa itu apakah benar tulus mencintai Lalisa atau tidak. Hati manusia bisa berubah sewaktu-waktu. Lisa telah kehilangan seseorang yang Lisa cintai untuk selamanya pa. Lisa seperti kehilangan separuh kekuatan Lisa untuk bertahan hidup. Papa pernah jatuh cinta kan? Namun Papa tidak pernah dijodohkan dan merasakan patah hati seperti Lisa saat ini kan pa? Tolong bantu Lisa kali ini saja pa. Kalau papa mau mendengarkan dan mengabulkan keinginan Lisa untuk membatalkan perjodohan ini, Lisa akan berbakti kepada papa dan mama seumur hidup. Lisa akan mengundurkan diri dari dunia hiburan. Lisa akan belajar keluar negeri untuk persiapan membantu papa dan kak Harley serta kak David untuk mengelola perusahaan. Please pa, kabulkan keinginan Lisa." Tutur Lisa memohon kepada kedua orang tuanya.
Papa Lisa pun diam tak bergeming. Sang mama pun berusaha menyadarkan lamunan suaminya tersebut.
"Pa.. Jawablah. Kita semua menunggu keputusan papa." Mama Lisa pun menyenggol lengan suaminya.
"Ehem.. Tapi membatalkan perjanjian tidak semudah itu Lisa. Papa tidak enak dengan sahabat papa itu." Jawab sang papa.
Raut muka Lalisa pun berubah menjadi lebih sendu dari pada sebelumnya.
"Baiklah kalau papa tidak menyayangi Lisa. Kalian semua pulanglah. Aku biar disini sendiri saja. Aku tahu kesibukan kalian masing-masing." Jawab Lisa dengan raut muka datar berusaha untuk tegar agar air matanya tidak jatuh kembali di hadapan seluruh keluarga nya.
Harley, David dan mama pun serempak menoleh melotot tajam ke arah papa nya tersebut.
"Mir, tolong pulanglah dan ajaklah keluarga ku untuk segera pulang juga. Kalian pasti capek dan lelah. Kemarilah lagi esok hari." Ucap Lalisa kepada sahabat nya tersebut sambil memejamkan mata.
"Dek, biar kak David dan kak Harley menemani kamu disini ya. Kakak rindu dengan kamu." Ucap David.
"Tidak perlu kak. Kakak bisa datang kembali esok hari saja. Aku hanya ingin menjernihkan pikiran dan perasaanku saja. Aku berjanji disini bisa menjaga diri. Lagi pula selalu ada suster yang mendampingi Lisa di sini jika membutuhkan sesuatu." Jawab Lisa meyakinkan kakaknya tersebut.
"Beneran kamu bisa menjaga diri kamu sendiri disini?" Tanya Harley.
"Apa Lisa pernah berbohong dengan kakak?" Jawab Lisa dengan lugas seperti perkataan kakaknya ketika berusaha menenangkan sang adik.
"Baiklah, kakak percaya dengan Lisa. Ayo kita keluar semuanya dari sini." Ucap Harley.
"Nak, mama tetap jagain kamu disini ya?" Tanya mama berusaha memohon.
"Tidak ma. Mama pulanglah terlebih dahulu. Besok pagi kesinilah kembali membawakan makanan kesukaan Lisa ya ma." Jawab Lisa dengan tersenyum.
"Yasudah besok mama akan membawakan makanan enak-enak untuk kamu. Cepatlah sembuh." Ucap sang mama.
Lalisa pun tersenyum mengangguk kepada sang mama namun enggan menatap sang papa. Mereka semua pun keluar dari ruang rawat inap dan tinggallah Lalisa seorang diri di ruangan tersebut.
Lisa pun kembali menumpahkan semua air matanya seorang diri. Terisak-isak menahan rasa sakitnya kehilangan seseorang yang amat ia cintai dan sang papa yang sama sekali tidak mau mendengarkan keinginan nya tersebut.
"Baiklah jika ini adalah keinginan papa." Kata Lisa dengan mengusap derai air matanya. Lisa pun segera mengemas barang berharganya. Menunggu waktu malam tiba setelah dokter memeriksanya.