
Lalisa yang dalam kondisi pingsan pun dibawa ke rumah sakit kembali. Dikarenakan tubuhnya yang sangat panas dan tampak menggigil sembari mengigau menyebut nama Yudha terus menerus.
Amira pun menjadi sangat cemas. Telah di nyatakan boleh pulang oleh sang dokter tadi pagi, namun sore menjelang malam pun telah di rawat inap kembali di rumah sakit tersebut.
Mama dan papa Lisa pun segera menuju ke rumah sakit mendengar putri satu-satunya itu tergolek lemas di kamar bangsal rumah sakit tersebut.
"Mungkin Lalisa sangat terpukul pa. Mama pun tidak menyangka jika Yudha mengali kecelakaan yang sangat tragis dan merenggut nyawanya. Mama jadi merasa bersalah dengan Lisa pa. Mama saja merasa sesak dan sangat ingin menangis melihat berita yang tayang terus menerus tersebut. Apalagi putri kita yang memiliki perasaan mendalam terhadapnya." Kata mama di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Sedangkan sang papa hanya diam mendengarkan penuturan istrinya tersebut. Ia pun tidak menyangka jika umur sang pujaan hati putrinya tersebut sangatlah pendek.
Setelah sampai di rumah sakit tersebut. Mama dan papa Lalisa pun segera tergesa-gesa menuju ke ruang rawat inap putrinya tersebut. Kedua kakak Lalisa pun turut khawatir dengan keadaan Lalisa dan memutuskan untuk segera pulang dari luar kota untuk menghibur adik centilnya tersebut.
"Selalu dampingi Lalisa ya ma. Kakak takutnya Lalisa menjadi linglung dan tertekan apalagi sampai depresi ataupun yang lainnya lagi ma." Ucap kakak tertua Lalisa di dalam telepon tersebut.
"Iya nak, mama juga berfikir seperti itu. Maka dari itu mama segera bergegas menuju rumah sakit. Kamu dan adikmu berhati-hati lah di jalan." Sahut mama mengingat kan anak tertuanya tersebut.
"Baik ma, aku matikan telepon nya lebih dulu ma." Kata Harley sang kakak pertama.
Kini sampailah mama dan papa Lisa di ruang rawat Lalisa. Dengan tergesa keduanya pun mendorong pintu ruangan tersebut dengan cepat dan segera mendekati putrinya tersebut yang tampak sangat pucat.
"Mir, gimana kata dokternya?" Tanya mama Lisa dengan cemas.
"Kondisi mental Lalisa sedang terguncang ma. Dokter pun telah memberikan suntikan obat penenang kepada Lalisa. Namun seperti yang terlihat walaupun tertidur di bawah pengaruh obat penenang pun masih saja selalu mengigau mneyebutkan nama Yudha." Kata Amira sambil menunduk sedih.
Bagaimana pun juga Amira juga sudah mengenal Yudha yang menurutnya lelaki yang cukup baik dan terlihat tulus mencintai Lalisa.
Sedangkan di ujung selatan Korea, Yudha yang mendapat kabar dari anak buahnya membawa kabar bahwa Lalisa tak sadarkan diri di pemakaman dirinya hingga dilarikan kerumah sakit karena mengalami demam tinggi serta syok. Hingga kini Lalisa masih di rawat intensif di rumah sakit yang di kabarkan hingga mendapatkan suntikan obat penenang oleh dokter berkali-kali di karenakan ketika terbangun dari tidurnya ia pun selalu menangis pilu dan bahkan berteriak menyebut nama Yudha terus menerus hingga menyakiti dirinya sendiri.
Yudha yang mendengar penuturan anak buahnya yang masih ia tempatkan untuk melihat kondisi Lalisa pun menjadi sangat terpukul dan merasa bersalah yang sangat luar biasa.
"Maaf kan aku Lalisa hingga membuatmu menjadi seperti itu. Aku terpaksa harus menggunakan cara yang seperti ini. Karena di dunia ini aku tidak memiliki siapapun. Aku tidak sanggup untuk membunuhmu atas perintah dari ayahku. Dan maafkan aku jika aku baru mengetahui jika ayah yang selama ini sangat aku sayangi dan menuruti seluruh permintaan nya tersebut ternyata bukan lah ayah kandungku. Sebenarnya aku hanya anak adopsi yang di terlantar kan kedua orang tua ku di depan panti asuhan. Hatiku pun sangat terpukul mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Aku ingin menghilangkan sosok Yudha Bagaskara, dan menggantinya dengan sosok yang baru. Tunggulah aku sebentar lagi Lisa. Bertahanlah disana. Aku akan berjuang sekuat tenagaku disini. I miss you so much." Ucap Yudha dengan air mata yang mengalir deras ketika memandangi foto nya bersama dengan Lisa mengingat semua kenangan yang pernah mereka lalui.