
Disisi yang lain dan di waktu yang sama, Yudha pun sama sekali tidaklah fokus dengan take syutingnya. Hingga berkali-kali ia mendapatkan teguran dari sang sutradara.
Syuting pun menjadi berjalan sangat lama menjelang subuh baru usai take untuk satu episode. Sedangkan take berikutnya akan di lanjut kan pukul 8 pagi.
Dengan kondisi lelah dan mata mengantuk, akhirnya Yudha pun memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya hingga terbuai ke alam mimpi.
*****
Pagi harinya tersebut sang CEO tersebut telah sampai di ruang perawatan Lalisa sembari membawa banyak buah tangan untuk Lalisa.
Dengan senyum mengembang pun Jimmy menyapa mama Lisa seolah-olah ia baru mengenal mama Lisa tersebut.
"Selamat pagi Tante. Perkenalkan saya Jim atasan di perusahaan skin care yang sedang memiliki kontrak dengan Lisa." Ucap Jimmy seraya mengulas senyum.
"Astaga, tampan sekali kamu nak. Melebihi ketampanan suamiku." Ucap mama Lisa dengan senyum lebar.
"Apa mama bilang?? Lebih tampan anak muda ini dari pada papa?? Sudah jelas lebih ganteng papa sewaktu muda gitu lho. Mentang-mentang papa sekarang sudah sedikit beruban terus jadi di banding-bandingkan nih." Seru sang papa yang datang dari arah pintu.
"Wong koyo ngene kok di banding-bandingke. Saing-saingke yo mesti embuh." Sela asisten Chris sambil bersiul bernyanyi.
Seketika sementara semua yang berada di dalam ruangan tersebut serempak memandang asisten Chris.
"Astaga anak muda. Kenapa kamu jadi bernyanyi lagu itu. Hahaha." kata mama Lisa.
"Maaf Tante, saya reflek menyanyi lagu tersebut jika mendengar kata di banding-bandingkan. Soalnya di manapun saya berada pasti sesekali lagu tersebut yang terdengar sedang di putar dimana-mana." Jawab asisten Chris dengan jujur dan polosnya.
"Hahaha. Tidak masalah anak muda. Kamu kalau seperti itu malah terlihat lucu." sahut mamanya Lisa lagi.
"Aduduh.. Kamu diam-diam mengamati anak muda yang bernama Chris ini iya Mira? Lumayan tampan juga kalau seandainya kacamata besar nya itu di lepas di ganti softlens." Jawab mama Lisa sembari mengamati asisten Chris.
"Hish.. Tante, kan Mira setiap hari bertemu jadi mau tidak mau selalu bertemu dan bertatap muka, jad juga selalu harus menyapa kan Tante. Kalau boleh memilih sih mau saya berjodoh dengan tuan Jim sih tante. hehehe." Jawab Amira dengan melihat tuan Jim sembari tersenyum-senyum sendiri.
"Maaf nona Mora, tuan saya yang tampan sejagat raya tersebut sudah memiliki calon istri. Jadi nona Mira jangan lagi berkhayal yang tidak-tidak dengan tuan saya." Seru aisten Chris dengan santai namun terdengar sangat menohok untuk Amira.
"Hish, asisten Chris salah paham. Saya kan cuma mengagumi saja. Bukan untuk yang berkhayal yang tidak-tidak seperti yang ada dalam pikiran anda." Jawab Amira tak kalah menohok.
"Sudah-sudah. Apa benar kamu sudah memiliki calon istri nak?" Tanya mama Lisa ke arah Jimmy.
"Sudah Tante, saya sudah memiliki calon istri yang sangat cantik." Jawab Sang CEO dengan senyum yang sangat menawan.
"Iya kan sudah dijodohkan dengan putri Tante yang sangat cantik dan bertalenta ini." Gumam Jimmy sembari menatap penuh senyum ke arah Lalisa.
"Ehemm.. Jaga mata anda tuan, jangan tersenyum melihat Lalisa seperti itu, takutnya nanti ada salah paham antara calon istri anda terhadap Lisa." Ucap Amira dengan raut muka tidak senang melihat sikap Jimmy yang terkesan play boy.
"Tidak ada larangan untuk tuanku jika ingin memandang dan tersenyum kepada nona Lisa ya nona Amira." Jawab asisten Chris.
"Ataga, tuan Jim. Kenapa sekertaris anda terlihat sangat sensitif sekali jika aku berkata." Kata Amira mencoba mengadu di hadapan Jimmy.
"Tuan Jim, ini sudah hampir waktunya anda bertemu dengan klien. Mari segera kita akhiri kunjungan ke nona Lisa pagi ini." Papar sang asisten.
"Baiklah. Kami permisi dulu semuanya. Segera lekas sembuh ya Lalisa." Pamit Jimmy di hadapan semua orang yang berada di ruang tersebut.
"Baik tuan, terimakasih untuk doa dan kunjungan nya. Hati-hati dijalan." Jawab Lisa sembari tersenyum hangat kepada Jimmy.