
...🍀🍀🍀...
Setelah itu Naya dan Juna memutuskan untuk pura-pura bertengkar didepan orang lain untuk menjebak Ghea. Dan selama itu, Ghea sangat dekat dengan Juna. Naya pura-pura sakit hati akan kedekatan Juna dan Ghea.
Damar, Choki, Bian, Andra dan Lusi yang tidak tau apa-apa tentang rencana Juna dan Naya, selalu menghibur Naya kala melihat Juna dan Ghea menunjukkan kemesraan secara terang-terangan.
"Nay, kamu yang sabar ya." Lusi menepuk bahu Naya seraya menghiburnya.
"Aku nggak apa-apa kok Lus, santai aja." kata Naya sambil membaca buku. Daripada memikirkan Juna dan Ghea yang memang membuatnya cemburu, dia memilih membaca buku karena sebentar lagi ujian kelulusan.
"Beb, ternyata kamu ada disini! Aku cariin kamu dari tadi." tiba-tiba saja Damar merangkul bahu kekasihnya. Sejak jadian, pasangan Lusi dan Damar jadi bucin. Damar bahkan sangat menyayangi Lusi, dia tak mau jauh-jauh dari gadis itu walaupun beda kelas.
"Damar, apa-apaan sih? Malu di lihatin orang-orang." Lusi mencebikkan bibirnya, dia menepis tangan Damar yang merangkulnya. Gadis itu terlihat malu-malu.
"Dilihatin orang-orang siapa? Disini cuma ada Kanaya." kata Damar yang sekarang beralih jadi menggenggam tangan Lusi, ia tidak malu walaupun ada Naya disana.
"Ya tetep aja malu, Mar."
Naya hanya terkekeh geli melihat Damar yang begitu mencintai Lusi, namun dia senang karena Damar dan Lusi masih berhubungan baik sampai saat ini. Walaupun mereka berpacaran, mereka tidak sampai melakukan hal-hal lebih dari pelukan dan pegangan tangan.
"Beb, makan ke kantin yuk!" seru Damar mengajak dengan manja pada Lusi.
"Aku mau nemenin Naya disini, Mar." kata Lusi enggan pergi meninggalkan Naya sendirian disana.
"Ya udah, Naya ikut kita juga yuk. Lo juga belum makan kan?" tanya Damar pada Naya.
"Nggak apa-apa, kalian pergi aja. Aku masih mau sendiri disini." ucap Naya pada kedua temannya itu.
Akhirnya Lusi dan Damar pergi meninggalkan Naya seorang diri di taman belakang sekolah, tempat dimana gadis itu selalu menyendiri ketika membaca buku atau dalam pikiran suntuk.
"Juna pasti lagi sama Ghea...kapan sih kita harus pura-pura marahan kayak gini? Apa benar Ghea dan keluarganya terlibat dalam kasus kecelakaan ibu? Gimana kalau ternyata Ghea saudara aku?" gumam Naya yang tak dapat membayangkan bila Ghea adalah saudaranya. Sekalipun dia tidak pernah membayangkan itu. Dia malah berharap tidak punya hubungan apapun dengan Ghea dan keluarganya.
Tiba-tiba saja ada eskrim cone yang masih terbungkus menempel di pipinya dan terasa dingin. Sontak saja Naya memasang kuda-kuda dan bersiap untuk memukul orang itu. "Hey--"
"Nay, ini aku." Juna tersenyum kemudian tangannya menggenggam tangan Naya, dia pun mengambil tempat duduk disamping gadis itu.
"Junjun?"
"Jangan berisik, kita ngomong ditempat lain yuk." ajak Juna seraya menggandeng tangan Naya. Naya pun menurut, mereka pun masuk ke dalam gudang yang tak jauh dari sana.
"Kenapa? Kamu kesel ya kita gini terus? Sabar ya sayang, sebentar lagi selesai kok." ucap Juna pada gadis itu, sambil membuka kertas yang menutupi eskrim cone coklat tersebut. Dia menyodorkannya pada Naya.
"Makasih Jun." Naya melahap eskrim itu pelan-pelan.
"Aku juga mau dong!" kata Juna seraya mendekatkan wajahnya pada Naya.
"Bukannya ini buat aku ya? Lagian kenapa kamu beli satu, kalau kamu mau eskrimnya juga." ucap Naya pada pria itu.
"Aku emang sengaja beli satu, biar dimakan berdua kan jadinya so sweet." celetuk Juna yang sontak saja membuat Naya tertawa kecil. Dia kembali memanggil nama Juna dengan Arjuna gombal Mahardika. Mereka pun makan eskrim bersama-sama dengan Juna yang menceritakan tentang buku harian Ghea, disana dia membaca sekilas tentang Ghea yang belajar naik mobil bersama Entis supirnya. Namun saat dia membaca bagian dia menabrak sesuatu, buku harian itu di robek oleh Ghea dan tidak ada kelanjutannya.
"Terus kamu tau nggak pak Entis itu kemana?" tanya Naya penasaran. Naya ingin tau penabrak ibunya bukan menuntut apa-apa, dia hanya ingin orang itu meminta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahannya.
"Kata mamanya sih, pak Entis udah berhenti kerja dan pulang kampung." jelas Juna yang membuat cewek itu tertegun cukup lama. Naya melamun dengan bibir yang belepotan, Juna gemas melihat itu.
Pria itu pun mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Naya, ia mengusap bibir yang belepotan coklat itu dengan bibirnya. "JUNA!"
Juna tersenyum genit setelah dia melakukan tindakan yang dianggap mesum oleh Naya itu. Padahal kan mereka sudah sah.
"Ssstt...jangan berisik, nanti ada yang denger." kata Juna seraya mengecup bibir Naya yang sudah menjadi candunya itu.
"Ish...dasar..." Naya tersenyum malu-malu dengan tindakan yang dilakukan oleh Juna saat ini. Dia senang karena hubungannya dan Juna sekarang sangat baik, meskipun dulu seperti kucing dan tikus.
****
Sepulang sekolah, Naya akan pergi bekerja paruh waktu seperti biasanya. Namun Naya dikagetkan dengan kehadiran Yuna dan Arman disana, kedua orang tua Ghea. Mereka menatap Naya dengan mata berkaca-kaca, Ghea berada dibelakang Naya dan berjalan bersama dengan Juna.
"Mama...papa!"
Ghea berlari mendekati papa dan mamanya yang berada di depan gerbang sekolah. Namun langkahnya terhenti saat melihat kedua orang tuanya memeluk Naya sambil menangis, Ghea tercengang dan bukan hanya gadis itu saja yang kaget.
Juna, Damar, Gara, Choki, Bian, Lusi dan Andra juga terkejut kenapa kedua orang tua Ghea memeluk Naya sampai seperti itu.
"Sial! Jangan bilang kalau Naya benaran anak kandung Tante Yuna sama om Arman?" gumam Juna yang terdengar oleh Gara yang berdiri tepat disampingnya.
"Apa?" Gara tersentak kaget saat mendengarnya.
...****...