
...🍀🍀🍀...
Pak Ferdi, Juna, Gara, Andra, Choki dan Bian turun dari bus untuk mencari Naya di sekitaran rest area, pasti Naya tidak jauh-jauh dari sana. Kelima pria itu mencemaskan Naya, bahkan mereka juga yang membantu Naya untuk tidak di bully lagi. Entah karena kasihan atau bagaimana. Mungkin karena gadis itu adalah anak yang baik.
"Gimana ndra? Di mesjid ada nggak?" tanya Gara pada Andra, sahabat Naya juga.
"Gak ada Gar," jawab Andra cemas. "Aku coba cari ke warung dekat dekat sini deh." kata Andra lagi.
"Oke, gue ikut lo!" Gara dan Andra mencari Naya ke warung-warung yang ada di rest area itu. Siapa tau gadis itu ada disana.
Bian dan Pak Ferdi juga sibuk bertanya kesana-kemari tentang keberadaan Naya. Sementara Juna dan Choki hendak pergi ke toilet wanita di rest area itu. Sungguh, Juna sangat mencemaskan Naya lebih dari dua mencemaskan Ghea. Tapi kenapa? Kenapa dia begitu peduli pada gadis bernama Kanaya Wulandari itu?
Sementara itu di dalam bus, Ghea tengah bicara dengan Ria dan Mona. Mereka tampak berbisik-bisik, dimana semua orang di bus sedang ribut ribut dan sibuk sendiri.
"Kalian yakin dia aman di toilet? Kalian yakin dia gak bakalan ngadu apa-apa ke guru?" tanya Ghea pada kedua temannya. Ia yang selalu berwajah lembut, kini menunjukkan wajah kelamnya. Tatapan Ghea menyeramkan kepada kedua temannya, mereka sudah tau sifat asli Ghea.
"Dia bakalan ngadu, tapi--emang orang-orang bakal percaya? Dia gak akan punya bukti." kata Ria sambil tersenyum menyeringai.
"CCTV gimana?"tanya Ghea lagi.
"Aman, gue udah beresin ke petugasnya." cetus Mona.
"Oke, semoga aja dia jera dan gak gangguin cowok gue lagi." Ghea tersenyum jahat, ia menyilangkan kedua tangannya di dada. Namun hatinya masih gelisah sebab Juna malah ikut-ikutan mencari Naya.
Juna dan Choki berjalan menuju ke toilet wanita, sebelum mereka masuk kesana. Mereka melihat Damar yang sedang memapah Naya. Hah? Damar? Mereka bahkan baru ngeh jika Damar juga tidak ada di bus. Rupanya Damar disini dan pria itu memakaikan jaketnya pada Naya.
"HEY! Lo kenapa?" tanya Juna dengan suara meninggi karena cemas. Ia melihat gadis itu menundukkan kepala dengan berurai air mata, tangan Damar masih memapahnya.
"Bisa pelanin suara lo? Lo gak lihat situasi?" tegur Damar pada Juna.
Tak berselang lama kemudian, Gara, pak Ferdi dan Bian juga datang menghampiri Naya disana. Mereka lega karena Naya sudah ditemukan.
"Naya? Apa yang terjadi sama kamu?" tanya Pak Ferdi pada Naya. Namun gadis itu tidak bergeming, hanya isak tangis yang terdengar.
Sementara itu semua orang tampak menunggu jawabannya. Disisi lain Damar terlihat marah, ia melihat semua kejadiannya saat lewat di toilet wanita. Dimana Ria, Mona dan kedua siswi dari kelas lainnya keluar dari toilet wanita sambil tertawa-tawa. Tak lama setelah itu Damar mendengar suara teriakan Naya meminta tolong. Dan Damar pun menolong Naya. Rasa bersalah Damar semakin menguar manakala ia mendengar gadis-gadis itu mengatakan pada Naya untuk menjauhi Juna. Karena dirinya Naya dan Juna jadi menikah, seandainya Naya tau semua ini dia pasti membencinya. Biarlah ini jadi rahasia dan Damar akan menebus rasa bersalahnya dengan melindungi Naya.
"Naya kamu kenapa? Ada yang luka?" tanya Ferdi cemas pada salah satu anak muridnya ini.
"Sa-saya gak apa-apa pak." jawab Naya seraya menyeka air matanya.
Gara dan Juna menatap Naya dengan sendu, mereka tahu saat ini mereka tidak bisa bertanya kepada gadis itu. Bukan saat yang tepat.
...****...