Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 30. Bendera kuning


...🍀🍀🍀...


"Hey ngomong apa LO!" sentak Juna marah pada Gara yang bicara seolah ia dan Naya akan berpisah suatu saat nanti.


"Apa gue salah? Jodoh kan nggak ada yang tau, lagian kita masih belasan tahun. Siapa tau nanti Naya nikahnya sama gue." ucap Gara dengan seringai di bibirnya. Juna muak melihat tampan Gara yang cool dan bisa dekat dengan Naya.


"Lo benar-benar ya!"


"Jun sabar Jun! Udah yuk balik, Naya sama yang lain pasti udah nunggu. Kita kelamaan di luar," kata Damar sambil melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah 1 siang.


"Lo bener, ini udah waktunya makan siang. Istri gue belum makan, gue mau beliin dia nasi warteg dulu." kata Juna teringat dengan Naya yang pasti belum makan.


"Kita beli bareng-bareng, bukan buat Naya doang. Yuk, kita ke warteg." Damar memegang bahu Juna, kedua sahabat itu pun kembali berbaikan setelah tadi terlibat bangku hantam.


"Ck, kekanakan banget." decak Gara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat kelakuan Juna dan Damar. Mereka bertiga pun pergi ke warteg lebih dulu sebelum pulang ke rumah Damar.


****


Setelah dua jam pergi, Damar, Gara dan Juna kembali ke rumah Damar. Juna mentraktir makanan untuk Damar, karena rencana dari pria itu telah membuat Juna menikah dengan Naya dan bagi Juna, hal itu adalah yang terbaik.


Saat mereka sampai di halaman belakang rumah Damar, mereka bertiga sama sekali tidak melihat keberadaan Naya disana. "Loh! Lusi, Naya mana?" tanya Damar pada Lusi yang masih duduk duduk di saung itu bersama Andra.


"Naya tadi pulang duluan pas udah terima telpon dari tetangganya." jelas Lusi.


"Ada apaan emang? Lo tau kenapa? Kemana Naya pergi?" tanya Juna cemas.


Tanpa banyak bicara, Juna langsung berlari keluar dari rumah itu. Ya, dia akan pergi ke rumah ibu Naya saat itu juga. Gara juga meminta teman-teman yang lain untuk pergi ke rumah Naya. Feeling-nya tidak enak, entah kenapa.


Gara, Damar, Choki, Bian, Andra dan Lusi menyusul Juna yang pergi ke rumah Naya. Beberapa menit kemudian , akhirnya Mereka sampai di gang rumah Naya. Meskipun Juna sampai lebih dulu beberapa detik dari teman-temannya yang lain.


"Loh? Kok banyak orang ya? Ada bendera kuning juga." kata Bian saat ia memarkirkan motornya di depan gang, sebab ada banyak orang berpakaian hitam dan memakai peci berjalan masuk ke gang rumah Naya.


"Iya, apa ada yang meninggal?" tanya Choki yang turut bicara. Ia melihat bendera kuning pertanda bahwa di sana ada yang meninggal.


Gara dan Juna berlari cepat ke arah rumah Naya. Entah kenapa feeling mereka tidak baik soal ini. Tapi semoga saja bukan seperti apa yang mereka pikirkan. Damar, Lusi, Choki, Bian dan Andra juga menyusul.


Begitu Gara dan Juna sampai didepan rumah Naya lebih dulu. Terlihat banyak orang disana yang memberikan ucapan belasungkawa pada Naya yang tengah menangis sambil memeluk jenazah seseorang.


"Neng Naya yang sabar ya, ikhlasin ibu Ningsih." ucap seorang wanita paruh baya pada Naya. Ia menepuk pelan tangan Naya, ia kasihan pada Naya yang sekarang sebatang kara.


"Makasih Bu...hiks...hiks..." Gadis cantik itu menangis, buliran air matanya terus jatuh tanpa henti.


Gara, Juna dan teman-teman yang lainnya terdiam di depan rumah Naya. Mereka tertegun melihat Naya menangis di sana sambil memeluk jenazah itu.


"Nyokapnya Naya--meninggal?" tanya Bian tak menyangka.


...****...


Maaf guys upnya dikit banget, aku lagi stuck ide buat novel ini 😪😪