Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 26. Gara yang blak-blakan


...🍀🍀🍀...


BRUGH!


BRUGH!


Entah keberanian yang muncul dari mana, Naya memukul perut Juna dan menendang sebelah kaki Juna.


"Aww....sakit Nay!" pekik Juna sambil merasakan sakit di bagian perut dan kaki kirinya.


"Juna, kamu gila ya? Kamu bisa ngomong lebih keras lagi nggak?!" sungut Naya sarkas. Matanya melihat kesana kemari, takutnya ada yang mendengar ucapan Juna.


"Oh...yang gue bilang kalau lo istri gue?" Juna tersenyum dan malah sengaja mengatakannya, padahal Naya sudah mengisyaratkan pada Juna untuk diam.


"Juna! Nanti ada orang yang denger." Naya melotot pada Juna. Sumpah demi apapun, Juna sudah merasa Naya sangat cantik meski sedang marah seperti ini. Kenapa dia tidak menyadarinya dari dulu dan hanya melihat gadis itu sebagai mata empat, culun dan kampungan? Selain hati yang baik, Naya juga cantik.


'Gila, kenapa gue baru sadar kalau lo tuh cantik banget Nay. Lo juga baik, lo cewek mandiri yang paling gue kenal dan lo nggak manja. Nyesel gue baru tau sekarang, eh--tapi gue nggak nyesel karena gue udah sadar sekarang kalau lo berharga' batin Juna, dengan tatapan mata begitu dalam pada Naya.


"Ck, gak dewasa banget sih." decak Gara mengejek Juna yang menurutnya memiliki sikap kekanakan.


"Apa lo bilang! Jadi maksud lo, gue kekanakan? Gitu?" sentak Juna emosi. Pria itu memang aslinya emosian.


"Emang kan?" sarkas Gara dengan pandangan dinginnya. Ia tidak suka pada Juna yang seenaknya mengklaim Naya sebagai istrinya, setelah memperlakukan Naya dengan apatis selama ini. Gara tidak terima, sebab ia ada rasa lebih pada Naya.


"Lo--dasar pebinor-" Juna marah dan menarik kerah baju Gara, tangannya sudah bersiap untuk memukul wajah pria itu.


"Juna stop!!" teriak Naya seraya mendorong tubuh Juna menjauh dari Gara. Juna menatap Naya dengan kecewa, ia tidak percaya bahwa istrinya lebih memperhatikan pria lain. "Gar, kamu nggak apa-apa?"


"Its okay Nanay." jawab Gara santai. Juna semakin kesal karena Gara memanggil Naya dengan nama panggilan khusus mereka berdua. Pria itu merasa istrinya lebih akrab dengan Gara dan memang benar kan?


"Sialan lo Gar, berani lo lihatin istri gue kayak gitu? Mau gue colok mata lo!" ancam Juna seraya menunjuk nunjuk wajah Naya.


"Juna, cukup ya! Kenapa sih kamu kekanakan banget?"


"Gue? Kekanakan lo bilang?" tanya Juna tepat didepan wajah nya. "Jadi lo bela dia?" tanyanya lagi.


"Ya, Gara bicara benar. Dan aku bukan bela dia, memang kamu kekanakan kok." cetus Naya tegas. Mulai sekarang ia tak akan mudah luluh oleh sikap Juna. Apa yang Juna lakukan barusan padanya, apa yang di katakan Juna padanya. Naya tak akan percaya begitu saja.


Juna tampak kecewa dengan jawaban Naya, jadi apa yang dia ungkapkan dan ia lakukan barusan. Tidak membuat Naya percaya padanya. Mereka masih seperti orang asing. Walaupun sebenarnya ada rasa diantara mereka saat tadi berciuman. Lebih tepatnya Juna mencium Naya, gadis itu juga tidak menolak.


"Lo nyalahin gue? Gue kekanakan?"


"Ya! Kamu kekanakan karena kamu selalu sesuka hatimu Jun. Sembarangan kamu bilang tentang status kita dan kamu lupa, kalau sedang di tempat umum! Kalau orang-orang tau gimana? Kamu nggak mikir bagaimana masa depan kita--ah salah, maksudku masa depanku." cecar Naya kesal dengan sikap Juna yang selalu sembarangan.


"I-itu..."


Gara tersenyum puas melihat Naya dan Juna bertengkar. Lalu ia pun mengajak Naya untuk pergi dari sana tanpa mempedulikan Juna yang kini berdiri mematung disana dengan perasaan campur aduk. "SIAL! Kenapa sih lo nggak bisa percaya sama gue? Kenapa juga gue harus emosi kayak gini didepan dia? Oke fine, gue bakal ubah strategi biar lo bisa percaya sama gue. Lo istri gue Nay, nggak ada yang bisa membantah itu."


Setelah meninggalkan Juna sendiri disana dengan wajah sedih, terbesit rasa bersalah di hati Naya karena sudah menegur suaminya sekeras itu. Ia berharap Juna tidak lama-lama marah padanya.


"Nay, kita makan yuk? Kamu pasti belum makan malam." ajak Gara yang melihat Naya tiba-tiba melamun.


"Eh? Maaf Gar,kayaknya aku langsung ke kamar aja."


"Gak seru dong udah dandan kayak princess gini tapi malah mau balik ke kamar." kata Choki yang tiba-tiba datang lalu merangkul baju Naya dengan SKSD.


"Iya sayang banget, udah cantik cantik gini malah balik ke kamar. Mending balik ke pesta aja Nay." kata Bian ikut bicara. Walaupun geng Thanos adalah geng yang terkenal nakal dan ditakuti anak-anak sekolah lain, tapi mereka baik pada Naya. Ya, meski pada awalnya mereka jahat pada Naya dan sering mengejeknya.


"Ta-tapi..."


Andra, Bian dan Choki menggiring Naya untuk kembali ke aula pesta. Sementara Damar dan Gara masih ada disana, mereka juga hendak menyusul teman-teman mereka ke dalam sana.


"Gar tunggu!" Damar memanggil sepupunya yang melangkah pergi. Gara terdiam dan menoleh ke arah Damar dengan mode datarnya.


"Thanks, lo udah nolongin dia." ucap Damar. Sebenarnya tadi pria itu melihat adik dari mamanya alias Winda, berada disana dan ia sudah bisa menebak kalau wanita itu yang membantu Naya. Pasti ini semua karena Gara.


"Kenapa--lo yang bilang makasih? Memangnya lo siapanya dia?" tanya Gara cuek.


"Gue--gue temannya lah!"


Gara menatap Damar dengan tajam, tatapan tidak percaya. Jangan lupa bahwa insting Gara lebih tajam dari apapun juga. Ia yakin ada udang di balik batu. Ada sesuatu dibalik sikap Damar ini.


"Mar, ini perasaan gue aja. Atau emang gue ngelihat ada rasa bersalah pada diri lo buat Naya?" tebak Gara yang tepat sasaran, hingga membuat Damar tercengang. Rasa gugup pun menghinggapi Damar, tampak jelas di wajahnya. Gara belum tau saja bahwa pernikahan dini antara Juna dan Naya adalah karena ulahnya.


"Rasa bersalah apaan? Ng-nggak ada yang kayak gitu. Ya-ya, gue cuma kasihan aja sama dia dan sekarang dia teman gue." alibi Damar.


"Awalnya lo selalu jelek-jelekin dia, sekarang lo tiba-tiba baik sejak tau mereka udah married." tatapan Gara semakin tajam bak singa yang hendak menerkam mangsa.


"Lo ngomong apaan sih Gar! Gue baik sama dia ya karena kita teman, terus lo juga baik sama dia--karena kalian temenan kan. Sama aja kan?" Damar bicara memutar-mutar dan gugup, tentu membuat Gara semakin curiga.


"Nggak tuh! Gue gak pernah anggap dia temen."


"Terus?"


"Gue suka sama dia." celetuk Gara yang tanpa filter itu.


"A-apa? Jadi lo baik sama dia ada maksudnya gitu?" Damar tersentak kaget mendengarnya. Ia memang sudah menduga bahwa Gara ada rasa pada Naya, mengingat pria itu selalu yg membantunya, namun ia tak tahu kalau Gara sefrontal ini.


"Ya, ini maksud gue." kata Gara blak-blakan.


"Gila lo!"


"Jangan bilang-bilang sama dia." ucap Gara tegas. "Yuk balik ke pesta." ajaknya kemudian dengan langkah cool. Sementara Damar melihatnya sambil geleng-geleng kepala.


****


3 bulan berlalu, tak terasa para siswa-siswi kelas XI tengah menghadapi ujian kenaikkan kelas. Terlihat siswa-siswi sedang sibuk ujian, kecuali Juna yang terus-terusan mengganggu Naya.


"Woy, Nay! Nomor 13 apaan?" bisik Juna yang duduk tepat di samping Naya.


"Kanaya Wulandari si cantik." bisik Naya lagi sebab gadis itu mengacuhkannya. Naya pun menoleh sedikit dengan wajah sinis. Gadis itu mendengus, lalu ia menuliskan sesuatu di secarik kertas dan menyerahkannya pada Juna diam-diam.


Juna tersenyum senang, ia kita akan dapat contekan dari Naya. Tapi senyumnya hilang saat melihat tulisan di kertas itu.


..."MAKANYA BELAJAR!" ...


"Ish..." Juna menatap Naya dengan kesal, gadis itu malah tersenyum melihat Juna marah. "Tulisan dia bagus juga, kayak tulisan kaligrafi." bisik Juna memuji tulisan Naya yang indah.


Lalu Naya melemparkan lagi kertas pada Juna, dengan malas pria itu membukanya. Kali ini ia membuka matanya lebar-lebar saat membacanya.


..."Kalau kamu berhasil dapat peringkat 10 besar, kamu boleh minta 3 permintaan." ...


"3 permintaan?" bisik Juna berpikir. Ia memandang Naya dengan tatapan bingung. Tampaknya tantangan Naya tidak buruk juga.


...****...