Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 17. Emosi Juna


...🍁🍁🍁...


Cowok itu, Arjuna Wisesa Mahardika begitu terkejut saat mendengar dari Bi Isum bahwa Naya pergi dan sudah minta izin juga pada papanya yang masih ada di luar kota. Pria itu terdiam dengan kening berkerut. Berpikir Naya pergi karena ia sedang marah padanya.


"Oh ya den, non Naya titip ini sama bibi...katanya buat Aden." ucap Isum sambil menyerahkan kotak ponsel dan juga kunci motor Juna padanya.


Juna menerima kotak ponsel dan kunci motor itu, ia bingung dan keningnya berkerut. "Kenapa dia gak ambil ponselnya?" gumam Juna.


"Bik, Naya bilang nggak mau pergi kemana? Terus dia perginya lama nggak?" cecar Juna pada pembantu rumah tangganya itu.


"Nggak bilang den, tapi kayaknya tuan tau." jawab Isum.


Juna mendesah kasar saat mendengarnya. Ada raut wajah kecewa disana. Kenapa Naya tidak pamit dulu padanya? Kenapa Naya tidak menganggapnya? Padahal dia kan suaminya. Juna kesal dan bingung karena tak tahu harus mencari Naya dimana.


Alih-alih mencari Naya, Juna memilih pergi dari rumah dan melampiaskan kekesalannya dengan nongkrong bersama gengnya di rumah Damar.


"Udah datang juga lo bro!" sambut Damar seraya menepuk telapak tangan Juna dengan tos ala geng mereka.


Juna juga menepuk tangan Choki dan Bian yang sudah lebih dulu berada disana. Mereka tengah duduk duduk di atas sofa rumah Damar. Hari itu orang tua Damar sedang tidak ada di rumah, jalan-jalan hari Minggu katanya.


"Ayo kita main PS sepuasnya, yang kalah harus traktir makan di kantin mang Uus seminggu." tantang Choki pada teman-temannya.


"Yah gitu doang? Lo malu-maluin deh! Jangan kayak gitu lah taruhannya gak seru. Gimana kalau yang kalah harus kerjain Bu Berlin selama seminggu?" tanya Bian dengan ide gilanya.


Sontak saja semua temannya menumpuk Bian dengan bantal sofa. Menjahili Bu Berlin sama saja dengan kematian, masa depan suram di sekolah.


"Oh ya mar, gue gak lihat di Gara-gara." celetuk Juna tiba-tiba.


"Oh si Gara katanya pergi ke rumah si Naya. Tadi gue habis anterin dia kesana soalnya motor si Gara lagi di servis, btw kasihan banget ya si Naya...ibunya lagi sakit." jelas Damar dengan raut wajah sedih.


Juna tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Damar. Hatinya mencelos, campur aduk. Apa katanya? Gara ke rumah Naya? Ibu Naya sedang sakit dan dia tidak tahu? Juna dibuat kesal olehnya.


"Gue cabut!" pamit Juna sambil memakai jaket kulitnya kembali.


"Lo mau kemana?" tanya Damar.


"Ngapain lo kesana? Lo--kenapa akhir-akhir ini lo dekat sama dia?"


"Apa gue harus jelasin itu? Gue cabut!" kata Juna dengan raut wajah yang marah. Dia ingin buru-buru sampai di rumah ibu Naya. Damar juga mengikutinya, ia kepo dan ingin tau tentang perasaan Juna pada Naya. Yang jelas Damar merasa bahwa hubungan mereka bukan seperti majikan dan bawahan. Damar menitipkan rumah pada Choki dan Bian. Sementara ia pergi mengikuti Juna yang memang pergi ke rumah Naya.


****


Setelah ngebut ngebutan, Juna pun sampai di gang rumah ibu Naya. Dia memarkirkan motor didepan halaman sempit di rumah itu. Tepat saat Juna turun dari motor, ia melihat Gara dan Naya tampak berpegangan tangan didepan rumah.


"Disini lo rupanya!" sentak Juna seraya memisahkan tangan Gara dan Naya. Gara, pria itu menatap Juna dengan datar.


"Jun, kenapa kamu kesini?" tanya Naya pada suaminya itu. Wajah Naya terlihat jutek dan dingin pada Juna.


"Emang salah ya kalau gue datang ke rumah ibu mertua gue sendiri?" jawab Juna dengan suara meninggi.


"JUNA!" Naya membentak Juna, sebab pria itu sudah bicara soal hubungan mereka secara tidak langsung.


"Lo jangan ngomong sembarangan, ibu mertua apaan hah?" sungut Gara seraya memegang kerah kemeja yang dikenakan Juna.


Juna balas menatap Gara dengan sengit, satu tangan kekarnya mencekal tangan Gara dengan keras. "Gue gak ngomong sembarangan! Gue sama si Naya itu--"


"Juna STOP! Jangan diterusin lagi Jun," Naya memotong perkataan Juna, ia benar-benar takut kalau Juna membongkar semuanya didepan Gara.


"Gue sama si Naya, kita udah NIKAH! Puas Lo!" teriak Juna tepat didepan wajah Gara. Gara melepas cengkraman tangannya, ia masih berekspresi datar.


"JUNA!" teriak Naya marah.


Sementara Damar yang baru saja datang kesana, ia langsung terdiam ditempat saat mendengar fakta ini.


...****...


Apakah Gara akan percaya ya kalau Juna sama Naya udah nikah?😪 aduh Juna kalau cemburu bilang aja napa....jangan lupa komennya guys