Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 31. Duka Naya


...🍀🍀🍀...


Bagaikan tersambar petir disiang bolong, Naya dan teman-temannya tidak menyangka bahwa ibu Naya telah meninggal dunia. Apalagi Naya, dia pasti merasa sangat kehilangan karena satu-satunya keluarganya telah meninggal dunia.


Gadis yang selalu terlihat tegar itu, kini sedang menangis tergugu di depan jenazah ibunya. Beruntung lah Naya tidak terlalu sendiri karena banyak tetangganya yang memberikan dukungan pada Naya untuk tetap kuat.


Hati Naya merasa sedikit lebih baik, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa hatinya berduka melihat ibunya yang tadi pagi baru bertatap muka dengannya kini sudah tiada.


"Yang sabar ya Naya, jangan nangis lagi....nanti ibu kamu sedih melihatmu menangis." kata Romlah, salah satu tetangga Naya dan Ningsih yang selalu baik pada mereka berdua. Romlah juga membantu Naya untuk menyapa para pelayat yang datang berbelasungkawa disana. Ia tahu Naya sedang hancur, bahkan gadis itu belum mengganti baju seragamnya.


Sungguh, kematian ibunya adalah mimpi yang sangat buruk untuknya. Dia tidak menerima semua ini dengan mudah.


"Guys...kasihan si Naya." lirih Bian pada teman-temannya yang juga mematung di depan rumah sederhana dan banyak orang disana.


Choki, Damar, Gara, Andra, Juna dan Lusi tidak bergeming karena mereka merasakan kesedihan Naya juga. Namun dalam hati, Juna tekadkan disana, bahwa ia akan selalu berada di samping Naya.


Tibalah dimana waktunya Ningsih harus dimakamkan setelah di shalat kan di salah satu mesjid besar yang ada disana. Naya yang sudah berganti pakaian, terlihat melamun melihat keranda ibunya dibawa oleh beberapa orang. Juna dan Yudha juga ada disana dan ikut membantu mengangkat keranda Ningsih. Gara dan Damar juga ikut membantu disana, mereka ingin mengantar kepergian Ningsih untuk yang terakhir kalinya. Semenjak Lusi dan Andra berusaha menghibur Naya yang sedih.


"Nay, sabar ya..." ucap Lusi seraya mengusap lembut bahu Naya.


Naya tidak menjawab, hanya saja air matanya terus mengalir. Ia teringat kejadian pagi ini di rumahnya sebelum berangkat sekolah. Naya dan ibunya sempat berdebat kecil tentang kampus Naya nanti. Naya bercerita tentang ia yang kemungkinan akan kuliah di luar negeri.


"Bu, aku nggak mau ninggalin ibu disini. Kalau aku kuliah ke luar negeri, nanti aku jauh dari ibu!"


"Nay, ini juga demi masa depan kamu kan? Mau ya kuliah di luar negeri?" tanya Ningsih pada Naya, seraya membujuk anaknya itu.


"Bu, aku nggak mau ninggalin ibu disini. Aku mau kuliah disini aja." kata Naya tegas.


"Memangnya ibu mau kemana ninggalin aku?" tanya Naya.


"Kita kan nggak tau umur kita sampai kapan. Siapa tau ibu meninggal hari ini atau besok? Jadi kamu mau ya kuliah di luar negeri." kata Ningsih sambil tersenyum. Entah kenapa Naya melihat wajah Ningsih yang terlihat berbeda.


"Ibu jangan ngomong sembarangan ah!" cetus Naya sambil memegang tas gendongnya. Lama-lama bicara dengan Ningsih jadi melantur.


"Nay, ibu minta kamu harus langgeng sama Juna ya. Jangan ada perceraian, ibu udah bilang ini juga sama Juna. Lalu dia bilang--dia tidak akan pernah menceraikan kamu. Ibu yakin dia pasti bisa jagain kamu, kalau nanti ibu udah gak ada." kata Ningsih sembari tersenyum


"Ibu...ini ngomong apa sih? Dari tadi ngelantur terus! Udah ah bu, aku mau berangkat sekolah dulu." kata Naya pamit dengan cepat. Ia merasa tidak nyaman dengan ucapan Ningsih.


Dan kembali ke masa kini, Naya melihat jenazah ibunya yang tengah di bawa ke liang lahat. Juna dan Yudha turun ke bawah sana bersama dua orang lainnya.


Juna menangis melihat Ningsih, ibu mertuanya. Terakhir mereka saling berkomunikasi adalah tadi pagi, ia meminta Juna untuk menjaga Naya.


'Ibu jangan khawatir, Juna bakal jagain Naya...Juna janji bu. Ibu yang tenang ya disana' batin Juna saat melihat jenazah ibu mertuanya di kuburkan.


****"


Di tempat lain, seorang gadis tampak gemetaran. Ia masuk ke dalam kamarnya yang mewah seperti kamar seorang putri raja.


"Gimana ini? Gimana kalau ibu yang tadi mati! Tapi--pasti ada yang nolongin dia kan? Dia--dia pasti baik-baik aja."


...*****...