Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 16. Naya pergi


...🍁🍁🍁...


Naya masih menunggu Juna di tempat itu, bahkan sampai lewat adzan magrib pun dia masih ada disana. Sebenarnya Naya mencemaskan Juna, takut terjadi sesuatu pada pria itu di jalan. Maka dari itu ia masih menunggu Juna disana. Ditengah langit gelap dan rintik-rintik hujan yang membahasi bumi.


"Jun...kamu kemana sih? Kamu gak apa-apa kan?" tanya Naya cemas, sambil memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Belum lagi bajunya basah.


****


Orang yang dikhawatirkan Naya, rupanya masih ada di rumah Ghea kekasihnya. Ia baru saja selesai makan dengan Ghea dan juga mamanya.


Hati Juna tidak tenang, matanya melihat ke jendela sedari tadi meski tubuhnya ada di depan Ghea. Tapi gadis itu merasa hati Juna ada pada yang lain.


"Jun, kamu kenapa sih?" Ghea memegang tangan Juna dan bertanya padanya.


Juna menoleh ke arah Ghea. "Eh...gak apa-apa kok Ghe."


'Gue ngerasa, gue melupakan sesuatu. Tapi apa ya?' batin Juna bingung. Dia melupakan sesuatu tapi entah apa, sampai hatinya gelisah. Ya, dia melupakan janjinya dengan Naya. Ghea telah membuat fokus Juna buyar dan pria itu hanya mempertahankan Ghea saja.


Tak berselang lama kemudian, Juna teringat janjinya dengan Naya. Ia pun buru-buru pamit pada mama Ghea dan juga Ghea. "Ada apa sih Jun? Ini baru jam 7, kok buru-buru banget sih."


"Jam 7? Astagfirullah!" pekik Juna semakin panik, kemudian ia pun memakai helmnya. "Aku pulang dulu ya sayang, aku lupa belum jahit jemuran!"


"Hah?" Ghea terperangah mendengar alasan Juna yang ambigu itu. Ia mengernyitkan keningnya, melihat kekasihnya yang pergi buru-buru.


****


Di dalam perjalanan pulang, saat hujan sudah mulai reda. Juna berhenti sejenak di taman sambil melihat-lihat siapa tau ada Naya disana. Namun Naya tidak ada. "Dia pasti udah pulang kan?" pikir Juna.


Kembali, pria itu melajukan motornya. Dengan mata mencari sosok Naya di jalan, dan akhirnya ia melihat Naya tengah berjalan masuk ke dalam gerbang rumahnya yang dibukakan oleh satpam, pak Arif.


Juna memarkirkan motornya sembarangan, ia buru-buru turun dari motor dan menghampiri Naya. Feeling Juna tidak baik, sebab Naya sama sekali tidak melihat ke arahnya padahal Juna yakin,gadis itu tau kedatangannya.


"Sorry Nay, gue telat." ucap Juna seraya memegang tangan Naya. Gadis itu menepisnya, tanpa melihat ke arah Juna.


"Iya gak apa-apa kok, tapi lain kali kalau kamu mau jalan sama Ghea. Jangan janji mau jalan sama aku juga, kalau kamu gak bisa tepati." kata gadis itu sakit hati. Ia tau Juna pergi dengan Ghea saat ia bertemu dengan Damar di ujung jalan tadi.


Hati Juna mencelos mendengar kata-kata Naya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, Juna sadar ia salah.


"Lo keujanan? Lo baru pulang Nay?" tidak seperti biasanya, kali ini Juna mulai membiasakan diri memanggil gadis itu dengan namanya. Juna khawatir melihat Naya yang kebasahan.


"Menurut kamu?" jawab gadis itu cuek. Lalu ia melangkah masuk ke dalam rumah, tanpa mempedulikan Juna yang terus minta maaf padanya.


"Astagfirullah! Bego...bego...lo bego Jun." Juna merutuki dirinya sendiri sambil memukul-mukul kepalanya. Merasa bersalah pada Naya.


Usai shalat isya, Naya mengemasi pakaian dan beberapa bukunya ke dalam koper berukuran minimalis. "Sepertinya aku harus pergi dari sini. Ya, lebih baik begitu kan?" gumam Naya sakit hati. Ia tidak tahan lagi berada di rumah ini. "Semoga ibu masih mau nerima aku." harapnya.


****


Hampir sepanjang malam, Juna membujuk Naya untuk keluar dari kamarnya. Juna bahkan membelikan makanan untuk Naya, tapi gadis itu tak mau keluar dan melewatkan makan malamnya. Padahal Juna ingin meminta maaf dan sekalian menyerahkan ponsel yang sudah ia beli untuknya. Namun Naya tidak merespon.


"Ya udah, kalau lo gak mau ngomong sama gue sekarang. Gak apa-apa--tapi jangan lupa makan makanan yang gue bawa ya. Ada didepan pintu, ada barangnya juga dan lo harus terima. Itu perintah papa, buat kasih lo barang itu." ujar Juna seraya meletakkan keresek didepan pintu kamar Naya.


Naya terdiam saat mendengarnya. Tak lama setelah suara Juna tidak terdengar lagi. Naya membuka pintu kamarnya dan melihat ada keresek di bawah kakinya.


"Apa ini?"


Naya mengambil keresek itu, ia melihat ada brownies coklat lumer disana dan juga kotak ponsel keluaran terbaru. Naya melihat ada note diatas kotak ponsel dengan merek I itu.


..."Naya maafin gue, gue gak bermaksud ingkar janji. Btw ini buat lo, supaya gue, papa sama mama bisa hubungin lo. Lo gak usah mikirin harga, yang penting lo harus pake hp ini. Gue gak mau tau!"...


Naya miris melihat note itu, ia merasa Juna mulai cerewet padanya. Namun Naya sadar itu bukan perhatian, melainkan sebuah rasa kasihan, tak lebih dari itu.


"Kamu jago banget Jun, bikin aku baper tapi disaat bersamaan. Kamu juga jago bikin aku sakit hati. Kayak rollercoaster aja, dinaikin terus di jatuhin. Tapi please--aku gak mau lagi kayak gini." gumam Naya dengan senyuman sinis dibibirnya. Gadis itu masuk kembali ke dalam kamarnya sambil membawa apa yang ada di keresek.


****


Keesokan harinya, Juna bangun siang karena ini adalah hari Minggu. Pria itu melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


"Woah...si Naya gak bangunin gue. Gue kelamaan tidurnya. Biasanya dia sukanya ngomel kalau gue belum bangun jam segini." gumam Juna heran, sebab Naya biasanya akan membangunkan pria itu kalau sudah lewat jam 6. Dia selalu mengajak Juna shalat subuh. Tapi kali ini, gadis itu tak terlihat batang hidungnya. "Apa dia masih marah?" pikirnya.


Usai mandi, Juna mengganti pakaiannya dengan pakaian santai di rumah. Hari ini ia berencana untuk menghabiskan waktu dengan Naya, melanjutkan jalan-jalan yang seperti kemarin tapi tidak jadi itu.


"Bik Isum!" seru Juna memanggil pembantu rumah tangganya yang sedang membersihkan jendela.


"Iya den?" sahut Isum seraya menoleh pada Juna.


"Bibi lihat Naya gak? Kok dari tadi, aku gak lihat dia ya?" tanya Juna sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia tak menemukan Naya dimana pun, biasanya di hari Minggu. Naya suka membaca buku di teras belakang rumah sambil melihat kolam renang. Tapi gadis itu tak ada, bahkan di kamarnya juga tak ada. Rapi dan bersih, tapi Juna tidak menyadari bahwa semua barang-barang Naya sudah tidak ada di sana.


"Loh...apa Aden gak tau kalau non Naya udah pergi. Tadi sempet telpon sama tuan juga, terus pamitan sama bibi." jelas Isum yang membuat Juna tercengang.


"NAYA PERGI?!"


...****...