
...🍀🍀🍀...
Entah apa yang merasuki Arjuna Wisesa Mahardika, pria itu tiba-tiba saja membungkam Naya dengan sebuah kecupan pada di bibir merah muda gadis itu. Juna marah karena semua pria jadi mendekati Naya di pesta tadi, bahkan Juna tak ada waktu untuk mengobrol dengan gadis itu. Juna kesal karena Naya jadi cantik, itu membuat semua cowok di sana mendekatinya. Juna tak suka dan nalurinya sebagai pria bergerak mencium Naya.
Benda kenyal itu menempel dengan kepala Juna sedikit menunduk, sebab tinggi Naya jauh dibawahnya. Tangan Juna meraih tengkuk gadis itu dan sedikit ******* bibir cantik Naya.
"Lo cantik Nay, tapi gue gak suka lo ngeliatin kecantikan lo sama orang-orang." ucap Juna setelah ia berhasil membuat gadis itu bungkam seribu bahasa. Naya masih tercengang, matanya tak berkedip, bahkan bibirnya masih basah akibat ulah suaminya. Perlu diingat bahwa mereka sudah menikah dan Juna saja melakukan apapun pada Naya. Tapi jangan lupakan bahwa mereka masih SMA.
"Gue udah putus sama Ghea--barusan. Dan gue tegaskan sama lo, gue bakal jadi suami lo. Bener-bener jadi suami lo." mata Juna menatap Naya dengan serius, tidak ada kebohongan disana dan hanya ada kesungguhan. Naya mendengarkan ucapan Juna, tapi dia tidak fokus karena ciuman barusan.
Hatinya masih berdebat, nafasnya memburu belum juga netral, darahnya seperti mengalir dengan cepat. Ini ciuman keduanya dengan Juna setelah ciuman yang membuat mereka buru-buru nikah sebelumnya. Tapi kali ini, Juna menciumnya dengan perasaan. Tidak kasar dan tidak memaksa masuk ke dalam rongga mulut Naya.
"Ju-Juna..." akhirnya gadis itu bicara.
"Gue sadar, gue mulai suka sama lo. So, please...don't make me crazy. Jangan pernah buat gue cemburu lagi, gue gak suka." Juna bicara dengan nada tegas, tidak bercanda seperti sikapnya yang biasa. Tatapannya begitu intens dan dalam pada bola mata berwarna biru itu karena softlens yang dipakainya.
"Gue serius dan lo juga harus serius. Kita udah nikah, inget itu." ucap Juna lagi, lalu ia memeluk Naya dengan lembut. Sialnya, jantung Naya kembali dibuat maraton. Ada angin apa pria ini berubah jadi gentle dan serius.
Naya mendorong Juna, hingga pelukan mereka terlepas. Nafas Naya begitu memburu, terlihat gadis itu seperti ketakutan dengan Juna. "Allohulailahaila...huwal hayul Qoyum..."
Gadis itu menangkup kedua pipi Juna dengan kedua tangannya. Ia menatap Juna begitu dalam dengan mulut yang merapalkan ayat kursi, lalu surat-surat pendek.
"Hey...lo kenapa kayak lihat setan gitu sih?" Juna heran melihat Naya yang tiba-tiba aneh baginya.
"Woy...Naya--lo kenapa sih?" pria itu memegang tangan Naya yang masih menangkup wajahnya. "Lo pikir gue kesurupan hah?" tebaknya.
"Mbah...tolong Mbah...siapapun... jangan bawa Juna." kata gadis itu meracau tak jelas. Sungguh, Juna kesal sekaligus merasa gemas dengan tingkah Naya.
"Pfut...hahaha..." tawa Juna lepas melihat Naya tidak sedang melawak, serius gadis itu mengira dirinya kesurupan. Astaga, Juna tak habis pikir.
Sontak Naya menjauh, ia pun bingung harus minta tolong pada siapa lagi. "Astagfirullahaladzim, Juna...sadar kamu Jun! Ini aku Naya, ini Naya...si mata empat." Naya masih berusaha menyadarkan Juna yang dikiranya kesurupan.
"Iya iya ini gue Juna si ganteng dan lo si cantik. Lo bukan mata empat." kata Juna serius.
"Astagfirullah...setannya gak mau pergi. Allohulailahaila--hmph--"
Cup!
Kecupan manis membungkam bibir Naya, lagi-lagi dia terdiam. "Gue emang kesurupan, kesurupan setan cinta." bisik Juna yang membuat hati Naya gemetar. Juna serius, dia ingin menjalani hubungan baik dengan Naya, setidaknya pacaran dulu. Dia sudah memutuskan Ghea beberapa saat yang lalu.
***
Setelah lampu menyala, Ghea terlihat menangis. Ia baru saja diputuskan oleh Juna secara sepihak dan ia tidak pernah bilang setuju. Ghea sakit hati, ini pasti karena Naya. Pikirnya dalam hati.
*****