Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 85


Meski segudang masalah pelik tengah menimpa Jendral dan keluarganya.


Namun mereka tetap berusaha untuk kembali bangkit.


Perebutan rumah milik mertuanya sedikit menyita waktu dan tenaganya. Meski akhirnya kemenangan tetap di tangan Jendral. Namun segala cacian dan hujatan tak luput menghampirinya.


Dia pasrah, tak bisa menjelaskan pada satu persatu orang bahwa tujuannya hanya satu, yaitu membebaskan sang istri dari segala belitan hutang di dunia yang bisa mengikat amal ibadah sang istri di akhirat sana.


Dia juga tak serakah hingga mengambil semua uang itu untuknya.


Setelah membayarkan hutang dan juga menyimpang uang untuk biaya empat puluh hari dan seratus harian Triya. Jendral membagi uangnya dengan sang mantan mertua, meski di tanggapi dengan cacian dan makian dia tak peduli.


Bahkan uang itu di lemparkan lagi ke wajahnya yang membuat Evita sontak meradang. Namun Jendral tetap tenang dan memilih berlalu.


Biarlah semua telah usai. Meskipun mantan mertua dan ipar-iparnya akan terus menyimpan rasa marah dan sakit hati padanya dia tak peduli itu semua urusan mereka.


Jendral memilih melanjutkan hidup. Kini dia punya sesuatu sebagai tujuannya lagi, yaitu anak yang berada dalam kandung Salimah.


Dia pun berdamai pada diri dan tak mau masuk ke dalam bujukan setan yang terus menerus membisikan segala rayuan agar dia bisa menyakiti Salimah.


Dia sadar saat dirinya berpikir hendak menyakiti Salimah, justru keadaan berbalik dan menjatuhkannya ke lembah kesengsaraan paling dalam.


Dia tak mau lagi merasakan kehilangan. Biarlah anaknya berada dalam asuhan Salimah, sebab dia yakin Salimah tak akan sekejam itu menjauhkan sang anak darinya.


.


.


Setelah proses pencarian yang panjang, benar seperti kata pepatah tak ada kejahatan yang sempurna. Kini mereka bisa menemukan titik awal orang-orang yang melalukan kejahatan pada Fitria.


Beruntung salah satu bangunan kosong milik seorang warga merekam detik-detik para pelaku menculik Fitria.


Saat kepolisian tengah menyisir kembali daerah di restoran hingga berakhir hilangnya Fitria dari sana, sang pemilik ruko tengah kembali untuk melihat rukonya dan bertemu dengan pihak berwajib yang sedang menanyakan para penduduk sekitar.


Dari rekaman itulah, akhirnya polisi bisa meringkus para pelaku.


Getaran ponsel Afnan membuat mantan suami Salimah yang tengah berbincang dengan sang ibu bergegas mengangkat panggilannya.


"Iya Dis, ada apa?" tanyanya santai.


"SERIUS? Ok aku segera ke sana!" pekiknya senang.


"Nan tunggu ada apa?" cegah Sri yang penasaran dengan pembicaraan putranya dengan sang keponakan.


"Akhirnya mah alhamdulillah. Polisi udah menangkap para pelaku yang melakukan pelecehan pada Fitria!" jelasnya menggebu-gebu.


Reaksi Afnan yang terlihat lega berbanding terbalik dengan sikap Sri yang mendadak tegang. Wajahnya langsung pias.


"A-apa?" ucapnya dengan suara tercekat.


"Mamah kenapa?" tanya Afnan bingung dengan perubahan sikap ibunya.


Afnan memang menceritakan tentang kondisi Fitria pada Sri. Dia memilih jujur sebab harus mengikuti Yudis dan Daniel untuk selalu menanyakan hasil penyidikan para pihak yang berwajib.


Di situ pula dia bisa mencuri sedikit waktu untuk bertemu dengan Rino dan Salimah lebih sering. Bahkan dia bahagia karena Salimah meski belum menjawab pertanyaannya tempo hari, tapi sudah mau bersikap seperti dulu padanya.


"Ah, enggak papa Nan. Syukurlah kalau udah ketemu, jadi kamu bisa fokus kerja kembali, enggak sibuk mikirin kasusnya si Fitria yang kecentilan itu!" elak Sri.


"Mah ...," keluh Afnan.


"Iya, iya mamah tau Fitria enggak kecentilan, cuma apes aja!" sanggah Sri cepat.


"Ya udah Afnan berangkat dulu ya Mah." Gegas Afnan pergi meninggalkan kediamannya menuju kantor kepolisian.


Di sana sudah ada Yudis, Alawiyah dan juga Daniel pengacara mereka.


"Sory telat," ucap Afnan yang tak enak hati.


"Engga papa Pak, lagi pula para tersangka juga masih belum mau bicara banyak," jawab Daniel.


Keempatnya menunggu dengan cemas salah satu penyidik yang akan menemui mereka.


Setelah setengah jam menunggu akhirnya salah satu penyidik keluar untuk menemui mereka.


"Gimana pak? Benarkah mereka yang melakukan perampokan dan pelecehan pada Fitria?" tanya Afnan langsung.


Penyidik hanya mengangguk menjawab pertanyaan Afnan.


"Lalu apa motif mereka pak? Apa hanya kejahatan asal karena bisa di bilang korban berada dalam situasi yang salah?" cecar Daniel.


"Awalnya mereka mengatakan jika saat itu mereka tengah dalam pengaruh minuman beralkohol. Namun kita tak begitu saja percaya. Saya dan tim melanjutkan penyidikan guna mencocokkan dengan keterangan mereka.


Dan akhirnya kami menemukan fakta baru, jika kejahatan mereka karena atas suruhan seseorang," jelas penyidik.


Afnan, Yudis dan Alawiyah terkesiap mendengar penjelasan pihak penyidik.


Pertanyaan mereka sama, siapa orang yang tega ingin mencelakai Fitria?


Hanya kepada Salimahlah Fitria berani bersitegang, Alawiyah menelan kasar salivanya.


Enggak mungkin Salimah kan?


"Ada apa Mbak Al?" sela Daniel yang melihat Alawiyah tampak terkesiap.


"Kenapa pak?" jawab Alawiyah berusaha menetralkan debaran jantungnya.


"Siapa tau mbak Al mencurigai seseorang yang mempunyai motif besar ingin mencelakai Mbak Fitria?" cecar Daniel.


Semua pasang mata menatap ke arahnya, seakan menuntut jawaban segera.


"Saya juga lagi mikir kok pak, setau saya Fitria enggak pernah neko-neko. Keseharian dia cuma pergi bekerja dan di rumah aja. Dia juga enggak berteman kayaknya. Mungkin dari kantor ada yang enggak senang dengan Fitria?


Secara menurut keterangan pak Yudis kemarin katanya agak janggal karyawan kalian yang notabenenya tak menyukai Fitria tiba-tiba mengajaknya keluar kan?


Emmm ... Apa para pelaku tidak mengatakan siapa orang yang memerintahkan mereka pak?"


"Mereka bilang dan kini orang itu sedang dalam pencarian," jawab penyidik.


"Siapa orangnya pak?" tanya Yudis mewakili pertanyaan mereka semua.


"Namanya Pak Pardi."


Afnan seperti tak asing dengan nama itu, tapi dia agak lupa. Sebab setelah kecelakaan itu memang daya ingatnya sedikit terganggu.


"Siapa Pardi? Apa Fitria pernah ngomong sama kamu tentang nama orang itu Al?" tanya Yudis.


"Enggak, jujur aku enggak terlalu akrab sama Fitria. Coba nanti aku tanya sama orang tua angkatnya. Lagi pula mereka juga berhak tau kelanjutan kasus ini."


"Sayangnya mereka udah di kampung dan menyerahkan kasus ini sama kita, tapi coba kamu tanya, siapa tau lelaki itu mungkin sakit hati sama Fitria," tebak Yudis asal.


Afnan sendiri masih sibuk memikirkan nama yang benar-benar mengusik dirinya.


Hanya Daniel yang memperhatikan perubahan sikap Afnan. Namun lelaki paruh baya itu hanya diam mengamati. Dia berpikir mungkin Afnan sedang menebak nama dari target penyidik selanjutnya.


Merasa tak tenang, Afnan memilih segera pulang ke rumah. Tak seperti biasanya, yang akan selalu mampir ke kediaman Salimah untuk sekedar bertemu dengan anaknya.


Kini dia memilih segera menemui ibunya sebab merasa jika nama yang dicurigai penyidik seperti nama seseorang yang pernah berhubungan dengan keluarganya.


"Mah ... Mah!" panggil Afnan sembari berjalan ke arah kamar sang ibu berada.


"Ada apa Den?" jawab asisten rumah tangga mereka.


"Mamah mana Bi?"


"Nyonya di kamar Den, katanya enggak enak badan," jelas sang asisten rumah tangga.


"Ya udah maka sih bi, aku ke kamar mamah dulu."


Tiba di kamar sang ibu Afnan segera mengetuk pintu kamar ibunya. Dia tak mau menunda lagi segala rasa penasaran yang mengganjal di hatinya.


"Afnan ada apa?" tanya Sri dengan wajah pucatnya.


"Mamah benaran sakit? Kita ke dokter aja yuk!" ajak Afnan yang merasa cemas dengan keadaan sang ibu.


"Enggak usah, mamah cuma kecapean aja. Mamah istirahat aja, siapa tau nanti mendingan. Kamu sendiri ada apa?" cecar Sri begitu keduanya duduk di ranjang miliknya.


"Mamah, mamah kenal sama Pak Pardi enggak?" tanya Afnan tiba-tiba.


"Pardi?" tanya Sri dengan mata terbelalak.


"Ada apa dengan Pardi?" suara Sri benar-benar tercekat karena gugup.


"Mamah kenal?" selidik Afnan yang merasa aneh dengan sikap ibunya.


"Nama Pardi kan pasaran Nan. Kalau maksud kamu Pardi teman mamah yang dari kampung ya kenal. Ada apa emangnya?"


"Kata penyidik tadi, para pelaku ternyata adalah orang suruhan—"


"Suruhan?" sela Sri yang sudah tak bisa lagi menyembunyikan kegugupannya.


"Iya, mereka bilang orang yang menyuruh mereka adalah Pardi."


Bruk! Sri jatuh tak sadarkan diri.


.


.


.


Tbc