
Pemakaman di lakukan di kediaman keluarga besar Triya. Orang tuanya bersikeras meminta jenazah putri mereka di makamkan di tempat kelahirannya.
Jendral tak mau berdebat, hatinya masih sakit, sebab kehilangan sang istri tercinta.
Evita sendiri merasa aneh saat tak melihat keberadaan anak angkatnya. Ibunda Jendral itu lantas mendekati Salimah dan Alawiyah yang duduk bersama para peziarah.
"Sal, Fitria ke mana?" tanya Evita.
"Eh itu Bu, Fitria nungguin bapak," dusta Salimah.
"Oalah, syukurlah, bapak ada yang jaga. Ibu sempat cemas karena dari kemarin anak itu enggak kelihatan," keluhnya.
Beruntung Alawiyah sudah meminta seorang perawat untuk menjaga Darmono selama mereka berziarah.
Usai, jenazah Triya di kebumikan Alawiyah bergegas mengajak Salimah untuk pulang sebab dia tak ingin keberadaan Salimah yang lebih lama akan memperkeruh keadaan.
Bagaimana pun Alawiyah tahu jika keluarga Triya sadar jika Salimah adalah mantan madu anak mereka.
"Kami permisi ya Bu. Jendral yang sabar ya. Triya udah tenang di sana," ucap Alawiyah berbela sungkawa pada anak dan ibu itu.
Salimah pun melakukan yang sama, dia memeluk sang mantan mertua yang selalu memperlakukannya dengan baik.
Di sela isak tangisnya, Evita lantas mengucapkan kata yang membuat Salimah tersentak kaget.
"Ibu harap kamu mau kembali sama Jendral dan membesarkan anak kalian sama-sama," lirihnya.
Salimah tercekat, tubuhnya tiba-tiba menegang. Evita lantas mengurai pelukannya dan tersenyum pada Salimah.
Bukannya ia tega di saat tengah berduka seperti ini lantas segera meminta putranya segera bangkit dan menikah lagi.
Namun Evita percaya, dengan bersatunya Salimah dan Jendral dia yakin sang putra akan mengembalikan semangat hidupnya.
"Bu, ini masih suasana duka," Salimah mengingatkan mantan mertuanya tentang keberadaan mereka.
Meskipun ucapan Evita cukup pelan dan hanya sekedar bisikan, tapi dia yakin ada yang mendengar ucapannya itu, sebab terlihat jika Alawiyah yang di depannya pun menghela napas panjang.
"Kami pulang ya Bu," ucap Salimah terakhir kali sebelum berpamitan juga pada keluarga Triya tak terlalu menanggapinya.
.
.
Di dalam mobil, Alawiyah menghela napas lagi sebelum berucap, "Kalau boleh jujur, aku lebih suka sama pemikiran Bu Evita."
Salimah terkesiap mendengar ucapan Sahabatnya. "Hah! Maksudnya?"
"Enggak bisa di ungkiri, Jendral lelaki baik orang tuanya baik. Kini udah enggak ada halangan kalau kalian mau kembali bersama—" jedanya lantas menoleh ke arah Salimah lalu kembali menatap jalanan di depan sana.
"Pikirkan lagi Sal. Enggak harus sekarang, tapi aku yakin setelah keadaan kembali tenang, Bu Evita pasti akan menanyakan hal itu pada anaknya dan juga kamu."
Salimah menggigit bibir, dia tak mencintai Jendral. Itu yang harus di garis bawahi. Pernikahan keduanya hanya karena bisnis.
Hanya Afnan yang masih bersemayam di hatinya dan tak pernah tergeser oleh siapa pun.
"Pikirkan lagi matang-matang. Afnan pasti tetap jadi ayah yang bertanggung jawab buat Rino. Jangan sampai hidup kamu kembali dalam keadaan cemas berkepanjangan karena sikap ibunya si Afnan. Kamu yang paling tau sifat wanita tua itu!" dengusnya.
"Maka sih nasihatnya Bu pengacara, tapi kayaknya mending aku hidup sendiri dari pada harus milih salah satu dari mereka," kelakarnya.
.
.
"Terus ini nanti Fitria gimana Al? Enggak mungkin kita bohongi0 Ibu terus menerus," keluh Salimah kembali pada kecemasannya.
"Bilang aja yang sejujurnya. Jelas in juga kenapa kamu enggak cerita. Ya karena kejadian hari ini," jawab Alawiyah enteng.
"Kasihan ibu ..."
"Hei tenang aja, dia wanita kuat. Kamu harus percaya."
Tak terasa keduanya telah sampai di kediaman Salimah.
Salimah hanya berharap semoga malam ini Evita tak menanyakan keadaan Fitria. Sebab jujur saja dia merasa lelah dan ingin istirahat.
.
.
Benar saja, Evita baru pulang tengah malam dan keadaan rumah sudah sangat sepi.
Paginya Salimah di kejutkan dengan keberadaan Evita yang tengah menyiapkan sarapan di dapur bersama Iyem.
Bahkan Iyem pun tampak lega saat melihat Salimah datang, sebab sedari tadi Evita selalu bertanya padanya tentang Fitria.
Oleh sebab itu kedatangan Salimah di dapur membuatnya bisa bernapas lega
"I-ibu kapan datang?" tanya Salimah gugup.
"Semalam, ibu ke pikiran bapak, abis tahlilan ibu langsung pulang. Kasihan juga Fitria kan harus kerja. Emm ... Ibu bingung, apa harus minta Fitria datang buat berbela sungkawa ke rumah orang tua Triya apa enggak usah ya Sal? Ibu takut mereka malah bakal menyakiti Fitria lagi."
Fitria enggak mungkin bisa ke sana Bu. Maafkan kami, sebaiknya aku jujur saja, dari pada masalah ini semakin lebar ke mana-mana.
"Bu," panggil Salimah pelan.
Evita yang tengah menata lauk dalam rantang menoleh ke arah Salimah.
"Bisa kita bicara?" Pinta ibu hamil itu tegas.
"Ada apa? Apa ini tentang ucapan ibu kemarin? Maafkan ibu ya buat kamu ke pikiran. Ibu refleks aja. Kamu masih bisa memikirkannya Sal," jawab Evita yang salah menebak arah pembicaraan mantan menantunya.
"Bukan itu Bu, tapi ini mengenai Fitria," jelas Salimah lirih.
"Fitria? Kenapa sama dia?" Evita akhirnya duduk bersebelahan dengan Salimah.
"Maafkan Salimah Bu. Bukan maksud Salimah membohongi ibu, tapi keadaan kemarin—" Salimah kembali tercekat, dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Ada apa Sal? Jangan bikin ibu khawatir."
Akhirnya Salimah pun menjelaskan dengan jujur keadaan Fitria pada mantan mertuanya.
Evita syok, dia memegang dadanya dan tak lama jatuh tak sadarkan diri.
"IBU!!" pekik Salimah dan Iyem bersamaan.
Salimah menangis histeris, dia merasa bersalah pada Evita karena tak menyangka wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya itu justru tak siap mendengar kabar mengenai anak angkatnya.
Salimah menghubungi Alawiyah. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya yang bisa dia mintai tolong untuk keadaan darurat seperti saat ini.
Baru akan meminta tolong pada tetangga untuk membantunya mengangkat tubuh Evita. Tamu tak terduga datang di pagi itu.
Dialah Afnan yang segera masuk saat mendengar jeritan dari dalam kediaman mantan istrinya.
Untung pintu utama Salimah terbuka, membuat Afnan bergegas masuk tanpa perlu mengetuk.
"Ada apa Sal? Kenapa sama ibu ini?" cecar Afnan sambil berusaha mengangkat tubuh Evita di bantu oleh Iyem dan Salimah.
Mereka membaringkan Evita di karpet ruang keluarga.
Afnan bergegas menelepon dokter langganannya untuk bisa datang ke kediaman Salimah.
"Maka sih ya Mas," ucap Salimah lirih.
"Enggak papa. Ibu ini cuma pingsan. Memangnya ada apa Sal?"
"A-aku baru aja menceritakan keadaan Fitria sama ibu mas," jelas Salimah.
Afnan menarik napas panjang. Dia menatap iba pada wanita paruh baya yang ia tahu adalah mantan mertua Salimah itu. "Aku datang ke sini juga mau ngasih tau kamu sesuatu. Polisi bilang mereka udah menemukan salah satu ciri-ciri pelaku. Semoga aja kasus Fitria bakal segera terungkap ya Sal."
Salimah bernapas lega. Dia berharap semoga adik angkatnya bisa segera mendapatkan keadilan. Meski ini juga baru permulaan.
Tak lama Evita sadar dan meringis merasakan sakit di kepalanya.
"Ibu?" panggil Salimah pelan.
"Sal, ibu mau ketemu Fitria. Anak malang, kenapa nasibnya bisa senahas itu? Ibu udah gagal Sal. Ibu gagal menjaga Fitria. Anak itu pasti ketakutan sekarang. Ya Allah, cobaan apa lagi yang engkau berikan pada keluarga hamba," tangis Evita pecah.
Afnan pun berusaha menenangkan Evita, "Ibu yang sabar. Polisi sedang mencari para pelakunya."
"Masa depan anak itu udah hancur. Ibu enggak bisa membayangkan bagaimana dia menjalankan hidup ya kelak," lirih Evita.
"Apa yang terjadi dengan Fitria Bu?" tanya seseorang yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.
Salimah menatap nanar lelaki yang pernah mencacinya dengan kata pembawa sial.
Entah makian seperti apa lagi yang akan dirinya dapatkan dari ayah biologis dari anak yang di kandungnya itu.
.
.
.
Tbc