Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 68


Di ruangan unit gawat darurat di penuhi oleh tangisan Tati.


Ibunda Triya itu tak menyangka jika putri sulungnya bisa mengalami nasib sial seperti ini.


Saat kejadian kecelakaan. Orang pertama yang di hubungi oleh pihak berwajib adalah Jendral, sayangnya Jendral yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk ayahnya tak dapat mengangkat panggilan dari ponsel istrinya.


Setelah itu, pihak berwajib menghubungi kontak yang di tulis dengan nama mama. Sudah jelas para polisi menebak jika nama di kontak itu adalah orang tua korban.


Untungnya, rumah sakit tempat Triya di rujuk sama dengan rumah sakit tempat Darmono di rawat, jadilah Jendral dan Evita bisa segera mendatangi tempat Triya di rawat.


"Kamu ini memang bajingan! Kamu enggak peduliin nasib Triya!" bentak Tati meluapkan amarahnya pada menantu pertamanya.


Via dan Puji yang hadir di sana berusaha menenangkan sang ibu. Meski sering bertengkar dengan Triya, tapi musibah ini juga menjadi guncangan bagi mereka.


"Udahlah mah, jangan marah-marah di sini, nanti kita di usir!" bujuk Via.


"Kamu lihat, di saat kakakmu kritis, dia bahkan enggak bisa di hubungi! Kalau enggak ada mamah gimana coba nasib Triya!" elak Tati.


"Mohon maaf Bu, tolong tenang di sini. Jika kalian masih berdebat, silakan keluar dari rumah sakit ini," ucap salah satu perawat yang mulai geram dengan tingkah keluarga pasien.


"Tuh kan, mamah tenang dulu," bujuk Via lagi sambil mengangguk pada perawat yang menegur mereka.


Kini Via berhasil mendudukkan sang ibu di depan ruangan sang kakak. Mereka masih menunggu dokter yang tengah merawat Triya.


Tak lama Dokter keluar dengan wajah panik. "Siapa keluarga Pasien?" tanyanya gugup.


"Saya sua—"


"Saya ibunya Dok, ada apa dengan anak saya? Bisa saya melihatnya?" sela Tati sambil mendekati sang Dokter.


"Kami harus segera melakukan operasi, pasien kritis, lukanya cukup serius," jelas Dokter.


"Tolong urus administrasinya, kami akan bawa pasien ke ruang operasi," titah sang Dokter sebelum kembali masuk ke ruangan Triya.


Tati menangis histeris di pelukan sang putri, sedangkan Jendral diam mematung karena syok.


"Hei Jendral! Sana buruan ke ruang administrasi biar si Triya cepet di tangani!" pekik Via yang geram melihat kakak iparnya seperti orang dungu menurutnya.


Evita yang tadi sempat syok juga masih terdiam sebelum akhirnya mengusap punggung sang putra agar segera mengurus administrasi menantunya.


"Yang sabar ya Bu Tati," ucap Evita begitu Jendral berlalu dari sana.


Dia juga merasa khawatir dengan keadaan menantunya. Meski sering terlibat percekcokan, tak serta merta membuat Evita merasa senang dengan apa yang sedang di alami menantunya.


"Situ senangkan? Ini kan yang situ harapkan? Biar Jendral jadi duda jadi bisa di nikahkan sama siapa aja!" ketus Tati.


"Ya Allah Bu kenapa ibu berkata begitu," jawab Evita menahan geram.


"Alah udah enggak usah bertele-tele. Kalau sampai anak saya kenapa-napa saya pasti akan menuntut kamu!" ketus Tati.


Tak lama Jendral kembali ke tempat mereka dengan berlari kecil.


"Bagaimana Jen, sudah?" tanya Evita.


"Udah bu, tapi ... Hanya uang mukanya aja. Biaya operasi Triya sangat besar," lirih Jendral.


"Bukannya kalian punya asuransi dari perusahaan?" tanya Evita bingung, sebab yang dia tahu anak dan istrinya terdaftar asuransi perusahaan tempat sang putra bekerja.


"Iya bu, tapi prosesnya lama, lagi pula ada limitnya. Aku rasa limit punya Triya tinggal sedikit," jelas Jendral.


Asuransi di tempatnya bekerja memang tak sepenuhnya membayar biaya perawatan para pengikutnya.


Semuanya di beri jatah sesuai kebutuhan masing-masing, seperti untuk biaya dokter umum, gigi, mata, penyakit dalam dan kandungan.


Untuk kandungan, jelas milik Triya sudah habis untuk biayanya saat keguguran dulu.


Sedangkan Dokter umum dan keadaan darurat di gunakan saat Triya depresi waktu itu, jadi Jendral yakin jika sisa yang bisa di tanggung asuransi milik Triya tinggal sedikit.


"Saya enggak mau tau ya Jendral, kalian harus memberikan pengobatan yang terbaik bagi Triya!" kecam Tati pada menantunya.


.


.


"Nor, bisa kan kamu duduk yang benar? Aku lagi nyetir, kamu enggak takut kita celaka?" ujar Afnan menahan geram.


"Kenapa sih mas kamu kejam banget sama aku. Aku mau begini enggak boleh begitu enggak boleh, kita ini udah tunangan loh. Bahkan kalau mas mau menyentuh aku juga aku siap," tawarnya.


"NORMA!" bentak Afnan tak percaya dengan ucapan wanita di sebelahnya itu.


Bagaimana bisa Norma mengatakan sesuatu yang sangat tabu bagi pasangan yang belum sah seperti mereka.


"Tolong duduk dengan benar Nor, sebelum kesabaran aku habis dan aku antar kamu pulang!" ancam Afnan.


Mendengar ancaman tunangannya, tentu saja membuat Norma gelagapan. Dia takut rencana yang sudah di susun oleh keluarganya akan gagal total, sebab kali ini kesempatan mereka yang sangat langka.


"Baik-baik, maafkan aku mas, lagian aku rindu sama kamu," jawab Norma pasrah.


Sial, kalau bukan karena perusahaan, malas betul aku harus menghabiskan hidupku bersama lelaki dingin kaya kamu mas.


Mereka sampai di sebuah restoran yang berada di dalam hotel, sengaja memang Norma meminta makan malam di sana sebab dia sudah merencanakan siasat busuk untuk menjerat Afnan.


Afnan tak curiga sedikit pun dengan permintaan tunangannya. Mereka duduk di tempat yang memang telah di pesan oleh Norma.


"Mas maaf aku ke toilet dulu ya," ucap Norma yang hendak melancarkan aksinya.


"Hemm ..." jawab Afnan malas.


Lelaki itu sibuk menatap ponselnya. Dia tengah sibuk membalas pesan dari Yudis mengenai proyek mereka nanti.


Norma sendiri berjalan ke arah lorong menuju kamar mandi restoran, dia menunggu seseorang yang hendak membantunya.


"Ingat, taruh ini sedikit aja, biar obatnya enggak langsung bereaksi," titah Norma tajam.


"Baik Bu, pelayan yang di suruh Norma mengangguk dengan patuh."


Setelah berhasil melakukan rencananya. Norma benar-benar menuju toilet. Entah mengapa beberapa waktu belakangan ini buang airnya sangat tidak lancar, membuat perutnya sangat tidak nyaman.


"Ishh ... Kenapa lagi darurat kaya gini pake acara mules sih! Mana enggak keluar-keluar!" gerutu Norma.


Dahi dan tubuh Norma sudah basah oleh keringat. Norma sangat merasa terganggu dengan sembelitnya.


Karena kakinya yang sudah gemetaran, akhirnya Norma terpaksa menyudahi acara buang airnya.


Terpaksa dia menahan kembali rasa mulas sebab tak enak meninggalkan Afnan terlalu lama.


Mungkin karena terlalu lama duduk dan mengejan membuat tubuh Norma limbung. Kepalanya juga sedikit sakit, pandangannya kabur hingga membuat dirinya jatuh tak sadarkan diri.


.


.


Norma menggeliat, bau khas rumah sakit tercium oleh hidungnya, membuatnya mengernyit sedikit.


Saat berusaha membuka mata, di depannya samar-samar dia melihat sosok Afnan yang tengah menatapnya sambil melipat kedua tangannya di dada.


Setelah benar-benar sadar dia bersyukur ternyata Afnan tak meninggalkannya.


"Gimana keadaan kamu? Masih pusing?" tanya Afnan datar.


"A-aku di mana mas?" tanya Norma lemah.


"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan," jawab Afnan masih dengan nada datarnya.


"Perutku aku mulas sekali mas. Kata dokter aku kenapa?"


Sungguh Norma merasa malu jika sampai ketahuan dirinya tengah sembelit. Bisa jatuh harga dirinya di depan tunangannya.


"kamu hamil," jawab Afnan langsung.


Norma tentu saja terkejut bukan main mendengar penjelasan dari Afnan. Tadi dia berpikir jika masalah sembelit saja sudah membuatnya malu, kini justru berita kehamilannya yang membuatnya tak bisa berkata-kata.