Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 20


Jendral memenuhi janjinya mendatangi Salimah untuk mengatakan pemutusan hubungan mereka.


Salimah memilih bertemu di sebuah kafe sesuai arahan Alawiyah.


Sebenarnya Jendral hanya ingin menceraikan Salimah tapi tetap ingin bertanggung jawab pada anaknya.


Namun ia pasti tak akan bisa mengatakan maksudnya sebab sang istri meminta turut serta di pertemuan itu.


Dia berpikir biarlah nanti dia menemui Salimah dan Alawiyah di pertemuan lainnya.


Jendral di tarik ke kamar Evita saat wanita paruh baya itu melihat sang putra keluar dari kamarnya.


"Ada apa Bu?" heran Jendral.


Evita yang mendengar pembicaraan anak dan menantunya semalam merasa geram dengan sikap Jendral yang terlalu mengikuti kemauan istrinya.


"Kamu keterlaluan! Setelah Salimah memberikan rahimnya kini kalian akan membuangnya? Di mana hati nuranimu Jen! Ibu enggak pernah mengajarkan kamu menjadi lelaki tak bertanggung jawab seperti ini!" sentak Evita dengan nada kecewa.


Jendral merasa gugup, tak menyangka kalau ibunya tahu akan rahasia mereka.


"Ibu tau?" jawabnya gugup.


"Kamu pikir ibu bodoh! Bahkan sejak di rumah sakit ibu tau kalau ternyata Salimah hamil anak kamu! Kamu ingin melepaskan tanggung jawabmu Hah!" bentaknya lagi.


"Ibu tenang, aku enggak mungkin melepaskan tanggung jawabku pada anak Salimah Bu. Cuma aku harus menuruti Triya saat ini karena aku takut dia banyak pikiran."


"Ibu tau kan bagaimana Triya kalau keinginannya tak terpenuhi?" sambung Jendral.


"Iya, dari dulu kamu enggak pernah bisa tegas pada istrimu itu. Makanya dia selalu semena-mena," sindir Evita.


"Bu ... Kami baru saja menerima kebahagiaan dengan hadirnya anak dalam rahim Triya. Aku hanya ingin menjaga pikirannya agar selalu tenang demi anak kami Bu. Tolong mengerti kami, doakan supaya kehamilan Triya lancar sampai melahirkan nanti," pinta Jendral penuh harap.


Dia tahu apa yang di inginkan sang istri pasti sangat menyakiti hati Salimah. Namun karena rasa cinta dan sayangnya pada sang istri dia lebih memilih di cap tak punya hati dari pada mengorbankan perasaan istrinya.


"Kamu tau Tuhan enggak tidur. Apa kamu enggak takut karma?" ucap Evita.


Dia berusaha mengingatkan sang putra agar tak menuruti keinginan menantunya, seba dia takut kalau ada hal buruk terjadi di kemudian hari.


Evita juga sangat menyayangkan sikap Triya yang begitu mudah melepaskan tanggung jawabnya pada Salimah.


Bukankah semua kekacauan ini akibat ulahnya yang tak berpikir panjang? Lalu kini dengan mudah sang menantu memilih mundur pada sesuatu yang mereka sebut bisnis.


Apa pernikahan dan anak adalah bisnis belaka? Sungguh Evita merasa kesal.


"Bu, tolong mengerti kami. Aku janji tetap akan bertanggung jawab pada anak itu Bu—"


"Anak itu cucu ibu juga Jendral! Ingat, kalau kamu mengabaikan mereka, maka ibu dan ayah kamu yang akan menerima mereka. Jangan menyesal di kemudian hari kalau terjadi sesuatu pada kalian," kecamnya.


"Ibu menyumpahi kami?" jawab Jendral kesal karena sang ibu seperti berharap sesuatu yang buruk terjadi pada kehidupan rumah tangganya kelak.


"Ibu enggak menyumpahi, tapi kamu jelas tau hukum tabur tuai kan, ibu hanya memperingatkan kamu kalau perlakuan buruk pasti akan menerima akibatnya juga!" jelas Evita.


"Mas!" panggil Triya yang baru keluar dari kamar dan mencari keberadaan sang suami.


Jendral dan Evita memilih menghentikan obrolan mereka karena takut Triya mendengarnya.


"Iya!" jawab Jendral lalu bergegas keluar dari kamar sang ibu.


"Kalian lagi ngapain?" tanyanya curiga.


"Enggak ngapa-ngapain, aku bantu Ibu bukain jendela kamarnya, ibu ngerasa pengap. Kan kamu tau kalau engsel di kamar ibu rusak," jawab Jendral tenang.


"Oh iya aku lupa, nanti deh aku panggil pak Darim buat betulin. Maaf ya Bu, bikin ibu enggak nyaman," ucap Triya sungkan.


Dirinya dan sang mertua sejak malam memang tak banyak bicara, dia masih kesal karena mertuanya justru menanyakan kabar Salimah.


Meski masih wajar tapi entah kenapa perasaannya tetap tak terima karena dia ingin semua orang yang mengenal Salimah melupakan madunya itu.


"Iya Bu, kayanya dede utun pengen sesuatu," jawab Triya sambil menggandeng sang suami.


Dia tak mau menjelaskan kepergian mereka, lagi pula Triya merasa dia tak sepenuhnya berbohong, memang keinginan sang bayi yang tak mau memiliki saudara lain ibu, oleh sebab itu dia akan menyingkirkan anak Salimah dari kehidupan mereka.


"Ya udah hati-hati," jawab Evita datar.


Jendral dan Triya lalu menyalami Evita dan menanyakan hendak di bawakan apa saat mereka pulang nanti.


Evita menolak sebab dia berencana mengikuti keduanya. Kalau Jendral memang tak mau tanggung jawab, maka dia sendiri akan turun tangan menghidupi cucunya dari Salimah.


.


.


Sesampainya di kafe tujuan mereka, keduanya lantas mengedarkan pandangan mencari keberadaan Salimah.


Salimah dan Alawiyah sudah menunggu di ruang pojok kafe karena mereka yakin akan ada perdebatan sengit nantinya, mereka tak ingin menjadi pusat perhatian pengunjung kafe.


Oleh sebab itu dia memilih membicarakan masalah mereka di tempat yang agak jauh dari para pengunjung.


Setelah mengetahui keberadaan Salimah, mereka bergegas menuju meja tempat Salimah dan Alawiyah menunggu.


"Buang-buang duit aja sih! Sok-sokan segala ketemu di sini. Pasti mahal makanan di sini," gerutu Triya.


"Sudahlah sayang, kita juga enggak pernah ke sini kan? Sekali-kali kita ke tempat mewah seperti ini,” jawab Jendral menenangkan istrinya.


Alawiyah sudah menjelaskan apa saja yang akan dia lakukan nanti terhadap pasangan laknat itu.


Salimah sedikit keberatan karena wanita itu memang berhati lembut.


"Bagaimana pun ini juga anakku Al. Kalau memang Mas Jendral sama Triya enggak mau tanggung jawab, memang salahku yang dulu enggak pernah ke pikiran membuat surat hitam di atas putih," lirihnya.


"Kita lihat, kalau emang mereka kekeh enggak mau tanggung jawab ya udah. Aku cuma minta mereka melepaskan kamu dan bayimu selamanya. Aku takut di kemudian hari dia akan kembali menuntut anakmu kalau terjadi sesuatu sama anak mereka," jelasnya.


"Kok kamu ngomong gitu sih Al. Doain yang baik-baik atuh Al, enggak baik. Mereka juga berhak mendapatkan anak yang mereka inginkan," tolak Salimah.


"Kamu ini terlalu baik dan lugu makanya gampang di bohongin!" keluh Alawiyah.


Obrolan mereka terhenti kala mereka melihat Jendral dan Triya mendekat.


"Siang Sal, kamu kelihatan baikkan," sapa Triya seperti kawan lama yang tak akan berperang.


"Alhamdulillah Ya, kamu juga udah kelihatan segar," balas Salimah.


Hanya Jendral dan Alawiyah yang memilih bungkam karena merasa hawa panas di sekitarnya.


"Silakan Bu Pak," sela pelayan lalu memberikan buku menu pada keduanya.


Triya memilih-milih dengan sangat lama membuat Alawiyah mendengus kesal.


Jendral yang melihat sang istri seperti bingung menentukan pilihan lantas berbisik, "kenapa lama? Apa enggak ada seleramu?"


"Menu di sini mahal-mahal, ini kita yang bayar apa dia nantinya?" jawab Triya berbisik juga.


Meski berbisik Alawiyah jelas masih mendengar obrolan keduanya.


"Pesanlah, jangan khawatirkan harganya, aku yang bayar!" sela Alawiyah yang membuat Jendral tak malu bukan main.


Berbanding terbalik dengan Triya yang tersenyum lebar.


"Benarkah? Kebetulan aku lapar, boleh aku pesan makanan?"