
Lelaki paruh baya itu bahkan tidak merasa sungkan berteriak dan hanya memikirkan perutnya saja.
Padahal jelas-jelas di sana dia melihat ada sang besan, tapi tetap tak peduli, yang dia pikirkan hanya perutnya saja yang udah berontak minta di isi.
"Mana makanan papah? Dari tadi ribut terus, papah kan udah bilang, laper! Astaga," keluhnya.
"Maaf pah, ini mamah lagi minta pertanggung jawaban besan kita, karena ulahnya anak kita jadi sasaran kemarahan menantu kita," jawab Tati.
Ibunda Triya itu sebenarnya sedikit malu dengan sikap sang suami yang terlihat sangat rakus yang hanya tahu makan dan makan saja.
"Jen, kamu pesankan makanan dulu, baru setelah itu kita bahas lagi masalah tadi," putus Tati.
Evita menoleh ke arah putranya, "apa persediaan makanan udah habis?" tanyanya penasaran.
"Kenapa jeng tanya persediaan makanan di rumah ini? Mau memarahi Triya lagi karena menerima tamu orang tuanya yang jeng anggap menghabiskan makanan di rumah ini?"
Apa pun yang di katakan oleh Evita sepertinya selalu di salah artikan oleh besannya.
Dari pada berdebat lagi dan tak menemukan titik temu, Evita memilih berjalan menuju dapur untuk segera memasak makanan untuk mereka semua.
Bukan apa, karena dia merasa sayang jika ada bahan makanan di rumah tapi lebih memilih membeli makanan dari luar.
Seperti tak ingin membiarkan suasana kembali tenang, Jendral dan Tati mengikuti langkah Evita menuju dapur.
"Kamu mau apa Jeng!" sinisnya saat melihat Evita tengah membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan masakan.
"Bukannya tadi bapaknya Triya bilang lapar? Maka di sinilah saya membuat makanan untuk kalian," jawab Evita datar.
Jendral lantas mendekat ke arah meja makan untuk membantu sang ibu menyiapkan makanan untuk mereka.
Sejujurnya Jendral lebih menyukai masakan ibunya. Makanya jika sang ibu sedang berkunjung ke rumahnya, dia bisa meminta sang ibu untuk memasakkan makanan favoritnya.
"Apa-apaan kamu jeng!" sentak Tati tak terima.
Ibunda Triya itu lantas menyentak tubuh sang besan kala sedang mencuci sayuran.
"Astagfirullah, Anda kenapa sih besan? Saya mau masak!" balas Evita yang tak lagi santai.
Tati berkacang pinggang, napasnya naik turun seperti habis lari maraton, bahkan terlihat hidungnya kembang kempis.
"Jeng mau meledek saya? Bukannya tadi saya udah bilang, untuk Jendral memesankan makanan! Papahnya Triya itu maunya makan sate kambing, sop kambing dan gulai kambing, Jendral dan Triya udah paham kebiasaan kami!" jelasnya dengan suara memekik.
"Lalu? Silakan kalau situ mau pesan, toh saya mau masak makanan untuk saya dan anak saya, apa masalah?" balas Evita tajam.
Tati diam sebab mati kutu, dia tak bisa melarang Evita yang hendak masak untuk makan dirinya sendiri.
"Cih, katanya kaya, tinggal beli aja, pake acara masak," sindirnya lalu menatap sang menantu.
"Pesan makanan buat Papah Jen!" pintanya lantas berlalu pergi.
.
.
Tak lama hidangan sudah siap tersedia di meja makan, ada makanan pesanan berbahan daging seperti permintaan Iwan dan masakan buatan Evita.
Dari dua makanan itu punya Evita lah yang terlihat menggugah selera.
Ada udang goreng tepung, cah kangkung, sambal terasi, bahkan ikan bakar favorit anaknya pun ada di sana memenuhi meja makan.
“Kamu mau makan apa Tri?” tawar Evita pada sang menantu.
"Aku makan ikan bakar aja sama kaya mas Jendral Bu," jawab Triya datar.
Meski dia masih kesal dengan sang mertua, tapi melihat ada makanan favorit dirinya dan suami, jelas tak di sia-siakan oleh Triya.
Iwan yang melihat hidangan buatan besannya yang terlihat menggugah selera, lantas menelan kasar salivanya.
Saat sang istri akan memasukkan sop daging kambing ke dalam piringnya Iwan menolak dan justru berbalik menatap sang besan.
"Bu besan, bisa ambilkan saya ikan bakarnya?" pinta Iwan tanpa tahu malu.
Saat Evita hendak mengambil ikan bakar untuk ayah Triya, Tati langsung menghentikan niatnya.
"Siapa yang bilang papah minta pesan makanan, kamu budek apa gimana!" elak Iwan dengan berkata sangat kasar.
Lelaki paruh baya itu bahkan tak malu dan segan padahal ada besannya di sana.
Evita bahkan sampai tersentak kaget mendengar ucapan kasar sang besan.
Tati merasa sangat malu karena tingkah sang suami yang berani memarahinya di depan besan dan anaknya, menantunya.
"Aku kan bilang siapkan makanan buat aku, bukan pesan makanan, yang penting aku makan!" ketus Iwan dan kembali menyodorkan piringnya pada Evita.
Tati hanya bisa diam, dia tak mau di permalukan lagi oleh sang suami di hadapan besan mereka.
Iwan makan sangat lahap, bahkan bisa di katakan kalau lelaki itulah yang menghabiskan separuh masakan Evita.
"Kenyang," ucapnya sambil mengusap perut.
"Kamu tuh harus contoh besan kita Mah! Bisa bikin masakan enak, itu kan bisa memanjakan perut suami, jangan bisanya masak yang itu-itu aja bosan tau!" Gerutu Iwan tanpa perasaan.
Tati hanya bisa menunduk malu, benar-benar sang suami seperti menjatuhkan harga dirinya di depan Evita.
Namun, bukannya merasa tersindir dengan ucapan sang suami, Tati justru menyalahkan Evita yang dia rasa tengah mencari perhatian suaminya.
Evita sendiri memilih diam tak membalas apa pun ucapan besannya.
Usai makan, dia memilih segera membereskan meja makan dan hendak mencuci piring.
Tak ada satu pun dari besan dan menantunya yang mau membantunya.
Evita memilih mengerjakannya dari pada harus meminta tolong, dia takut nanti malah menimbulkan masalah lagi.
Jendral yang melihat sang ibu mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri, sedangkan sang istri justru tengah berbincang dengan orang tuanya di ruang tamu lantas berkata lirih pada istrinya.
"Bun, tolong bantu ibu di belakang, apa kamu enggak kasihan?" pinta Jendral lembut.
"Apaan sih Yah, aku kan lagi hamil, cape tau, lupa kamu sama perintah Setyo? Aku harus banyak istirahat. Makanya aku bilang, kamu harus menyediakan pembantu mulai sekarang," jawab Triya ketus.
Tati yang mendengar ucapan keduanya lantas ikut menjawab.
"Biarin aja sih Jen, kan ibu kamu yang mau repot-repot masak tadi, makanya biarin dia bersihkan kekacauan yang udah dia buat," sela Tati tak berperasaan.
"Sekarang kamu jelaskan apa perempuan yang ibu kamu panggil Salimah itu benar istri kedua kamu?" cecar Tati.
"Apa? Istri kedua? Apa maksudnya?" sergah Iwan yang sudah mulai penasaran dengan permasalahan anaknya.
"Papah ini dari radi ribut ngurusin perut sendiri tapi enggak tau kan kalau rumah tangga anak kita sedang di ambang kehancuran," ucap Tati mendramatisi.
"Enggak sampai segitunya Mah," sela Jendral yang merasa ucapan sang mertua terlalu di lebih-lebihkan.
"Enggak gimana emang kenyataannya kaya gitu! Mamah enggak mau tau ya, pokoknya kamu harus ceraikan dan tinggalkan simpanan kamu itu!" pekik Tati kesal.
Bukan seperti kebanyakan orang tua yang jika anak perempuannya di selingkuhi lalu mereka akan meminta menantunya menceraikan putrinya.
Tati justru berpikiran terbalik, dia tak akan melepaskan Jendral yang merupakan tambang emas bagi putrinya.
Dia tau kalau Jendral adalah anak satu-satunya, sudah di pastikan kalau harta warisan besannya akan jatuh ke tangan sang menantu.
Jika begitu, Tati yakin maka semuanya akan di kendalikan oleh Triya, begitu pikirnya.
Makanya dia akan memaksa siapa pun wanita yang coba merusak kebahagiaan putrinya agar menjauh.
"Jendral memang akan menceraikan Salimah. Ayo Jen!" ajak Evita yang langsung menyambar ucapan besannya.
.
.
.
Tbc