
Fitria merasa kesal dengan sikap Salimah. Dulu kakak angkatnya itu setuju akan memberinya kesempatan untuk mendekati mantan suaminya.
Namun sekarang, ibu hamil itu seperti menjilat ludahnya sendiri, sang kakak angkat justru terlihat semangat sekali saat menjawab permintaan mantan suaminya.
Pagi hari saat sarapan, keduanya masih bersikap dingin. Beruntung Alawiyah datang membuat ketegangan keduanya sedikit berkurang.
Momen itu di manfaatkan oleh Fitria untuk menekan Salimah kembali.
"Kamu kenapa? Kok kelihatan murung?" tanya Alawiyah sambil sesekali melirik keduanya.
Dia menghela napas, pasti keduanya sedang terlibat perang dingin akibat kejadian kemarin.
"Aku bingung sama mbak Salimah, katanya udah enggak berharap sama Pak Afnan, tapi buktinya dia masih mau aja di ajak pergi berduaan sama Pak Afnan," keluh Fitria.
Salimah menarik napas jengah, dia kesal karena Fitria sudah berani menyindirnya saat ada Alawiyah.
Lagi pula apa salahnya jika ia menyetujui ajakan mantan suaminya? Toh semua demi kebaikan putra mereka, seharusnya Fitria tidak berlaku berlebihan seperti ini.
"Apa salah jika seorang ibu ingin membahagiakan putranya? Tolong jangan berlebihan Fit. Aku dengan mas Afnan sampai kapan pun akan terus berhubungan karena ada Rino di antara kita. Sudah aku bilang berulang kali, silakan taklukan mas Afnan dengan caramu, tapi jangan menyulitkanku!" jawab Salimah tajam.
Fitria mengepalkan tangan, menahan gejolak amarah yang membuncah dalam dirinya.
Andai dia tak tahu kalau Salimah masih mencintai atasannya itu, tentu dia tak akan berlaku seperti ini.
Bohong jika dia tak takut kalau Afnan akan kembali pada Salimah.
Namun dia juga tak bisa begitu saja menyerah pada perasaannya. Afnan adalah tujuannya. Lelaki penyabar dan lembut itu adalah cinta pertamanya.
"Hei ... Kalian ini menjijikkan sekali tau ngga!" sergah Alawiyah kesal.
Bagi wanita cantik dan cerdas sepertinya merebutkan laki-laki adalah hal memalukan bagi perempuan.
Fitria dan Salimah menatap pengacara cantik itu heran.
"Banyak lelaki di dunia ini! Bukan hanya Afnan. Apa kalian mau saling menyakiti demi lelaki yang entah memiliki perasaan dengan kalian atau enggak ? Oh come on, buka dong pikiran kalian!" gerutunya kesal.
"Sal, kalau emang menurut Fitria kamu adalah penghalang. Maka menyingkirlah dulu, kita lihat sejauh apa dia bisa menaklukkan hati MANTAN SUAMIMU itu!" ucap Alawiyah menekan kata mantan suami sambil menatap Fitria.
Dirinya sedari tadi merasa jengah dengan perdebatan keduanya.
"Lalu kamu Fit. Tolong buka mata, andaikan Afnan memang berniat kembali sama Salimah, jangan halangi. Aku rasa ini adil buat kalian!" sarannya.
"Gimana?" tantangnya lagi.
Fitria merasa terpojok, dia jelas tahu akan kalah telak dengan Salimah karena jelas mantan suami kakak angkatnya itu juga masih menaruh hati padanya.
Sedangkan dengan dirinya, Fitria tidak bodoh jika tak ada sedikit pun ketertarikan lelaki itu padanya.
Ini enggak adil! Gerutu Anak angkat Evita dalam hati.
"Ini fair kan? Hati seseorang enggak bisa kalian paksakan. Kalau ternyata Afnan enggak suka kalian berdua. Kalian sendiri yang malu!" sambung Alawiyah.
Salimah sendiri memilih diam, bukan karena takut. Hanya saja ibu hamil itu memang tak pernah merasa bersaing dengan Fitria.
Jika pun mantan suaminya itu menyukai adik angkatnya, dia bisa apa? Kalau pun patah hati Salimah mempunyai sesuatu yang lebih harus dia perhatikan, yaitu nasib dan masa depan kedua anaknya.
"Jadi ... Bisa kan mbak Salimah enggak deketin pak Afnan dulu, sampai ada kepastian kalau pak Afnan itu memang enggak punya perasaan sama aku?" tuntut Fitria.
Salimah mendengus kesal. "Sejak awal aku enggak pernah bersaing sama kamu Fit. Kenapa kamu enggak utarakan saja perasaanmu itu Fit? Apa kamu menunggu Mas Afnan menyatakan cinta duluan?" sindir Salimah.
"Kamu hanya akan merasa ketakutan setiap waktu. kalau kamu jujur, mungkin Mas Afnan bisa mengerti kamu, tapi kamu juga harus bersiap. Andai dia menolak kamu, apa kamu siap menghentikan segala obsesimu?" tantang Salimah.
Makin kesal saja Fitria mendengar tantangan Salimah. Hingga gadis itu memilih meninggalkan meja makan dengan perasaan kacau.
Sepeninggal Fitria, Alawiyah hanya mengedikkan bahunya tak peduli. Apa yang di ucapkan Salimah memang ada benarnya.
Kalau memang Afnan tak menyukai gadis itu, maka Fitria harus bersikap biasa saja andai kata Afnan berdekatan dengan Salimah sahabatnya.
"Udah puas Bu?" sindir Alawiyah pada sahabatnya.
"Puas apa sih Al. Liatkan kamu gimana dia mau mojokin aku? Semoga aku tahan tinggal sama dia lagi," keluh Salimah.
.
.
Dalam perjalanan menuju kantor, mobil yang membawa Fitria berhenti tepat di depan sebuah hotel, di sana Fitria melihat dengan jelas jika ada seorang wanita yang merupakan tunangan atasannya.
Fitria tersenyum miring, dia yakin berita kali ini akan menggemparkan keluarga besar atasannya.
"Kita lihat Nor, kesombongan kamu akan runtuh seketika," monolog Fitria sambil mengambil beberapa gambar dan video.
Anak angkat Evita itu berjalan dengan hati riang. Tepat saat hendak memasuki eskalator, dia di sapa oleh seseorang yang membuatnya sangat senang.
Yes, bukan cuma pak Afnan, ternyata aku bisa ketemu sama Bu Sri juga.
"Mbak Fitria? Bisa kita bicara sebentar?" ajak Sri dengan bahasa yang lembut.
"Saya absensi dulu ya Bu. Ibu mau bicara di mana?" jawab Fitria sopan.
"Emmm ... Saya tunggu di rooftop aja ya, bisa kan?"
Fitria lantas melihat jam di pergelangan tangannya, lalu mengangguk.
"Saya enggak akan lama kok, kalau perlu nanti saya kabari Yudis agar memberi kelonggaran waktu," ucap Sri menenangkan.
"Baik Bu." Fitria turun di lantai tempat kerjanya, sedangkan Sri sengaja menuju ke atap gedung untuk menunggu wanita itu.
Tak lama Fitria menyusul dengan perasaan campur aduk, antara penasaran dan juga rasa senang karena ingin memberikan berita penting pada ibunda dari pujaannya itu.
Sri duduk dengan anggun sambil menikmati tehnya. Wanita yang masih cantik di usia senjanya memang selalu melakukan perawatan rutin demi menjaga penampilannya.
Meski seorang janda, dia tak pernah mau berpenampilan asal-asalan. Oleh sebab itu dia sedikit kesal dan geram pada penampilan Salimah saat menjadi menantunya.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tawar Fitria setelah berhasil mendudukkan diri di depan Sri.
Sri tersenyum tipis, dia lalu membuka tas yang berlogo merek terkenal dengan harganya yang sangat mahal.
Di ambilnya sebuah amplop putih lalu di letaknnya di meja dan di geser ke depan Fitria.
Fitria jelas sangat bingung dengan maksud Sri memberikannya sebuah amplop.
"Apa ini Bu?" tanyanya penasaran.
"Bukalah, saya yakin kamu akan senang menerimanya," ucap Sri yakin.
Dengan segera Fitria membuka amplop tersebut, dahinya semakin berkerut saat melihat hanya ada selembar kertas yang bertuliskan sebuah angka yang jumlahnya cukup fantastis.
"Satu milyar? Apa maksudnya ini Bu?"
"Tinggalkan perusahaan ini. Saya tau mungkin permintaan saya sedikit keterlaluan. Tapi saya enggak punya cara lain. Maaf Fitria, meski pun pekerjaan kamu bagus, tapi calon menantu saya enggak nyaman dengan keberadaan kamu," jelas Sri jujur.
Fitria tersenyum kecut. Ternyata tunangan atasannya ini melakukan cara licik untuk mengalahkannya.
"Maaf Bu, saya di sini bekerja. Kalau pun saya di pecat harus ada kesalahan valid yang saya lakukan. Kalau ibu meminta saya mundur hanya karena alasan konyol ini saya minta maaf," tolak Fitria sambil kembali menyerahkan amplop milik Sri.
Sri masih bersikap tenang, jelas dia sedikit bisa menebak tak mungkin bisa begitu saja menyingkirkan Fitria dari kehidupan putranya.
"Lagi pula, apa ibu mau tutup mata dengan kelakuan calon istri putra ibu?"
Sri mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"
Fitria tersenyum puas karena akhirnya bisa membungkam sikap sombong Sri.
Dengan penuh percaya diri, Fitria membuka galeri ponselnya dan meletakannya di hadapan Sri.
Sri menerimanya dan langsung melihat gambar yang di tunjukkan oleh sekretaris putranya.
"Apa kamu mau memfitnah menantu saya?" geram Sri.
"Fitnah? Lihat tanggal pengambilan foto dan video itu Bu. Saya enggak tau bagaimana reaksi pak Afnan kalau tau calon istrinya seliar itu," cibir Fitria.
"Kau!" tunjuk Sri kesal.
Fitria jelas merasa bingung, harusnya Sri senang karena dirinya telah berhasil membuka kedok calon menantunya.
Namun yang terjadi justru terbalik, Sri terlihat murka dengannya.
"Jangan sampai Afnan tau akan foto dan video itu. Kalau sampai kamu buka mulut, maka bersiaplah hal buruk pasti akan terjadi padamu," ancam Sri lalu meninggalkan Fitria yang terdiam mematung.
.
.
.
Tbc