
Mendengar keributan di dalam, Evita segera bangkit untuk menyusul anak angkatnya.
"Ada apa ini Jen?" tanyanya pada sang putra.
Triya berbalik dan menatap sengit pada sang mertua. "Jadi ibu sengaja ngajak dia ke sini mau bikin aku tertekan? IYA!" bentak Triya.
"Triya!" tegur Jendral membentak sang istri.
Triya tertegun, tak percaya sang suami berani membentaknya di depan keluarganya.
"Jendral! Berani kamu membentak Triya demi membela perempuan hina ini!" sela Tati murka sambil menunjuk wajah Fitria.
Sedangkan adik dan ipar mereka hanya diam melihat keributan yang terjadi, tanpa berusaha ingin melerai.
Setidaknya mereka berpikir ada bahan untuk bergosip nanti, meski itu aib saudara mereka sendiri.
Jendral mengusap wajahnya kasar. Lagi-lagi dia di impit oleh keributan dua orang yang sangat ia cintai.
Evita mendekati Fitria dan menarik gadis itu mendekat ke arahnya. Dia hanya takut anak angkatnya menjadi sasaran amukan keluarga besannya.
"Sebaiknya kami cari penginapan aja Jen, bapak kamu juga perlu istirahat," putus Evita.
"Baguslah, tolong jangan bawa perempuan ini ke sini lagi Bu! Aku benci dia," pinta Triya.
Tati kalang kabut, niat hati ingin meminta sang besan masak untuk mereka bisa gagal jika ibunda Jendral itu pergi saat ini.
"Eh ... Eh, kok main pergi aja. Ini tolong jelasin dulu ada apa Jeng Evi. Dia ini siapa? Kenapa Triya benci banget sama dia?" cecar Tati yang berusaha mencegah kepergian besannya.
Evita yang hendak meninggalkan ruang keluarga putranya mendadak berhenti karena pertanyaan sang besan.
"Sebaiknya kami pergi dulu Bu Tati. Nanti kalau sudah tenang saya akan ceritakan," jawab Evita datar.
"Loh, enggak bisa gitu dong. Terus yang masak siapa? Jeng enggak mau masak? Anak saya itu rindu masakan mertuanya loh," ucap Tati yang sudah tak bisa berbasa-basi lagi.
Evita mengernyitkan dahi bingung. Triya sendiri kesal dengan ucapan sang ibu yang justru mencegah kepergian mertuanya juga Fitria.
"Apaan sih Mah! Aku tuh muak sama dia, biarin aja ibu bawa dia pergi. Masak mah bisa nanti," jawab Triya kesal.
Tanpa mau memperpanjang kekesalan sang menantu, Evita bergegas kembali melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Jendral dan Fitria.
"Ayo pak kita pergi dulu cari penginapan!" ajak Evita.
Darmono yang memang sudah lelah enggan bertanya mengapa sang istri tiba-tiba mengajaknya pergi.
Fitria juga tak banyak bertanya, dia hanya mengikuti apa yang di lakukan oleh orang tua angkatnya.
Jendral yang tak tega dengan orang tuanya, bergegas membantu sang ibu yang kerepotan membawa barang-barang mereka.
Dia berencana mengantar orang tuanya mencari penginapan dekat perumahannya saja agar nanti dia bisa mengunjungi mereka.
"Loh Yah kamu mau ke mana? Jangan pergi!" cegah Triya yang mencekal lengan Jendral. Dirinya enggan melihat sang suami berdekatan dengan Fitria, jika Jendral pergi dengan orang tuanya.
"Kamu apaan sih Bun, aku mau antar bapak sama ibu cari hotel. Kenapa kamu cegah?" sungut Jendral.
"Enggak boleh! Aku enggak mau kamu mencari kesempatan untuk berdua sama perempuan murahan itu!" maki Triya.
Evita yang melihat kerapuhan sang putra lantas mendekat dan menengahi anak dan menantunya.
"Udah Jen, ibu sama bapak bisa pergi sendiri. Jangan bertengkar, malu sama tetangga. Nanti kalau udah sampai kami kabari ya," ucap Evita lembut.
Hati Jendral merasa sakit. Dia selalu tak bisa tegas pada istrinya hingga selalu menyakiti hati orang tuanya.
Jendral dilema, di satu sisi ia ingin melindungi orang tuanya, di sisi lain ia tak ingin melukai perasaan istrinya.
Jendral terpaksa melepaskan kepergian orang tuanya yang terusir secara kasar oleh istrinya.
Kecewa jelas. Dia tak tahu mengapa sang istri bisa jadi sebrutal itu dalam menghadapi Fitria.
Jendral masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah sendu.
"Loh, mas ... Yah! Kok kamu masuk aja! Kamu marah?" keluh Triya yang berhasil menyusul suaminya.
Jendral malas menjawab sang istri, karena enggan memancing keributan yang lebih parah lagi.
Dia tengah malu pada dirinya sendiri yang bahkan tak bisa membela dan menjaga orang tuanya.
"Tunggu Yah! Kamu kesal sama aku?" cecar Triya yang menghadang langkah Jendral.
"Kamu kenapa sih Tri, brisik banget!" seru Iwan yang terganggu tidur siangnya.
"Mana makan siang papah Mah!" seru Iwan pada sang istri.
Melihat ada peluang untuk menghindari sang istri, jendral berhasil melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya.
"Gara-gara kamu sih Tri! Harusnya kita bisa makan enak tadi, karena masakan mertuamu. Eh dia malah pergi!" gerutu Tati pada putrinya.
"Kok mamah nyalahin Triya? Mamah enggak tau kan, perempuan tadi itu yang dulu pernah di minta sama mertuaku untuk jadi maduku mah!" jelas Triya yang melupakan keberadaan suaminya.
Setelah sadar, dia segera ingin menyusul Jendral tapi di cekal sang ibu.
"Pesan makanan sekarang! Kamu tau kan papah kamu bisa-bisa mengamuk kalau enggak segera di siapkan makanan," pinta Tati.
"Loh mah, kan di kulkas banyak bahan masakan. Bukannya mamah tadi juga niat mau masak?" elak Triya.
"Itu kan tadi, pas lihat mertuamu niat mamah buat masak langsung ilang. Lagian kelamaan, mamah juga udah enggak mood buat masak tau," tolak Tati.
Triya mendengus kesal, mau tak mau dia menuruti permintaan ibunya.
"Jangan lupa Gue pesenin bakso sama mie ayam Tri!" sergah Via.
"Aku juga mbak, mau sate ayam," ucap Puji adik iparnya.
"Ish macem-macem banget sih kalian mintanya! Udah tau aku banyak pengeluaran! Kalau mau ya harusnya kalian pesen sendiri dong," gerutu Triya yang melihat pengeluaran mereka untuk sekali makan.
"Lu ini Tri, kita ini tamu kan, harusnya lu menghormati kita," ejek Via tak peduli.
.
.
Sedangkan di dalam taxi yang di tunggangi oleh Evita bersama suami dan anak angkatnya, memilih merubah tujuannya.
Niat hati ingin menginap di hotel, tiba-tiba terbesit ide untuk tinggal di kediaman Salimah, sekalian memperkenalkan Fitria dengan Salimah.
"Pak ke jalan darma wangsa ya. Perumahan green palace," ucap Evita pada sopir taxinya.
Darmono dan Fitria mengernyit heran, tapi seperti biasa, Fitria tak sanggup bertanya pada Evita yang selalu dia anggap majikan.
Pertanyaan dalam benaknya untung sudah di wakili oleh Darmono.
"Perumahan siapa Bu?"
"Rumah Salimah Pak, kita nginap di sana aja, memang sedikit jauh tapi ibu yakin Salimah akan senang dengan kehadiran kita," jawab Evita dengan senyum merekah.
Fitria melihat perbedaan raut wajah Evita ketika akan berkunjung ke kediaman putranya dan ke kediaman Salimah.
Dia merasa jika majikannya itu seperti lebih nyaman dengan mantan menantunya dari pada menantu aslinya, membuat dia penasaran dengan sosok Salimah.
Apa dia sebaik itu, sampai ibu terlihat sangat antusias bertemu mbak Salimah?
.
.
.
Tbc