
Fitria tengah sibuk di dapur dari semenjak subuh. Gadis itu memang ringan tangan. Tak pernah berdiam diri jika di rumah Salimah meski di sana Alawiyah sudah mencarikan seorang pengurus rumah tangga.
"Wah rajin sekali kamu Fit akhir-akhir ini," ucap Salimah saat melihat anak angkat dari Evita tengah menyiapkan bekal.
"Iya Mbak, aku enggak nyangka atasanku suka sama masakanku. Semoga aja dia juga bisa suka sama aku," ucap Fitria malu-malu.
"Masakan kamu emang enak, enggak heran kalau atasan kamu juga pasti suka. Kalau kata pepatah dari mata turun ke hati. Kalau kamu dari perut naik ke hati ya," gurau Salimah hingga keduanya saling tertawa.
Sejujurnya Salimah ingin sekali bertanya pada Fitria apa Afnan sudah bekerja atau belum sebab yang Salimah tahu atasan Fitria adalah Yudis, sepupu sekaligus anak dari paman Afnan yang memimpin perusahaan itu.
Dia memang tidak terlalu akrab dengan keluarga besar mantan suaminya, sebab kebanyakan dari mereka memandang rendah dirinya yang seorang anak panti.
Meski sering di asingkan, tapi ada kalanya sang suami mengajaknya ke pertemuan keluarga, meski Salimah harus menahan nyeri setiap kali mereka melontarkan kata pedas dan sindiran yang di tunjukan oleh keluarga besar Afnan padanya.
Namun menilik riwayat kecelakaan Afnan yang cukup serius, dia tak yakin jika mantan suaminya sudah bekerja kembali.
"Apa bos kamu masih Pak Yudis Fit?" tanya Salimah penasaran. Sebab yang dia tahu jabatan manajer keuangan adalah milik suaminya. Jika saat ini masih di pegang Yudis pasti suaminya belum kembali bekerja.
"Iya Mbak, tapi kadang-kadang Pak Afnan ke kantor kok buat ngecek-ngecek aja sih," jawab Fitria apa adanya.
Dia hanya tak tahu saja jika sudah kelelahan maka Afnan memilih beristirahat di ruangan khusus miliknya dari pada harus kembali ke rumah.
Mendengar jika Afnan sesekali ke kantor, membuat hatinya di landa kerinduan yang teramat sangat.
Mungkin dia tak tahu diri karena masih mencintai Afnan, tapi mau bagaimana lagi, keduanya di pisahkan secara paksa oleh Sri tanpa bisa melawan.
"Mbak Salimah kenapa?" tanya Fitria heran saat melihat raut wajah Salimah berubah sendu.
"Eh enggak papa Fit. Ya udah kamu semangat kerjanya ya, semoga usahamu tercapai," balas Salimah lalu bangkit meninggalkan Fitria yang masih sibuk menyiapkan bekal untuk pujaan hatinya.
Salimah menyangka jika Fitria menyukai Yudis, meski tak kenal akrab, dia sedikit tahu sepupu mantan suaminya adalah orang yang humoris.
Dia juga salah satu orang selain Hari yang tak memandang rendah dirinya, meski pertemuan mereka hanya beberapa kali, itu pun hanya saling menyapa tanpa sekalipun mereka berbincang.
.
.
Di kantor, Hari tengah menunggu Salimah dan Alawiyah. Dia ingin menanyakan sesuatu yang penting pada mantan istri sepupunya itu.
"Pak Hari?" sapa Salimah saat melihat Hari tengah berdiri di depan kap mobilnya.
"Salimah, Bu Alawiyah?" jawab Hari sambil tersenyum.
"Saya takut di anggap enggak sopan. Kalau sama Salimah dia memang minta di panggil seperti itu meski dia sendiri menolak hal yang sama ke saya," jelas Hari.
Alawiyah hanya bisa mencebik kesal, sedangkan Salimah menatap geli pada keduanya. Salimah berharap keduanya bisa berjodoh. Alawiyah gadis yang baik meski terkesan bar-bar, sedangkan Hari lelaki dewasa yang memiliki sikap penyabar.
Salimah yakin keduanya bisa jadi pasangan serasi. Lagi pula Salimah sering memperhatikan jika Hari sering menatap ke arah sahabatnya.
"Sal bisa minta waktunya sebentar? Ada yang mau aku omongin, ini masalah Afnan," ucap Hari yang mampu membuat Salimah terdiam antara senang dan gugup.
"Ada apa Pak Hari?" jawab Salimah.
"Kita ngopi di depan dulu yuk, masih ada lima belas menit sebelum waktu masuk," ajak Hari.
"Ayo!" jawab Salimah gugup.
"Sal, perlu aku temenin enggak?" tawar Alawiyah. Dia sendiri sebenarnya penasaran, tapi ada pekerjaan yang harus dia siapkan karena pagi ini atasan mereka akan mengadakan kerja sama dengan perusahaan lain dan dia harus menyiapkan kontrak kerjanya.
"Enggak usah Al, kamu kan sibuk mau ada rapat sama bos pagi ini," tolak Salimah.
"Pak tolong ingat pesan saya ya, jangan berikan kabar yang aneh-aneh sama sahabat saya ini. Tau sendiri dia orangnya gampang ke pikiran," pesan Alawiyah pada Hari yang di balas acungan jempol oleh lelaki itu.
Keduanya berjalan menuju kafe di depan kantor mereka. Tak mungkin Hari berbicara masalah pribadi pada Salimah di dalam kantor, takut ada yang sengaja menguping obrolan mereka dan menyebarkan gosip tak jelas nantinya.
Sesampainya di kafe, Salimah merasa tegang. Dia takut suaminya akan mengambil putra semata wayang mereka karena Afnan sangat menyayangi Rino, meski ibunya sendiri tak peduli pada cucunya itu.
"Sal maaf. Kemarin Afnan datang ke rumah. Dia tanya di mana kamu tinggal, karena dia tau kalau kita dekat. Tapi kamu tenang aja, aku belum beri tau dia di mana kamu tinggal. Aku harus meminta persetujuan kamu sebelum menjawab Afnan," jelas Hari.
"Mau apa mas Afnan mencari kami Pak? Jangan bilang dia mau merebut hak asuh Rino," tuduh Salimah.
Hari terdiam dia tak pernah berpikir kalau Afnan akan melakukan hal seperti yang di takutkan Salimah.
Namun dia tak menampik jika bisa saja Afnan melakukan hal itu. Lantas dia bisa apa kalau sang sepupu ternyata memiliki niat lain di belakangnya?
.
.
.
Tbc