
Yudis berusaha tenang dan meninggalkan kawan-kawannya untuk mengangkat panggilan dari ibunda Afnan itu.
"Iya tante?" sapanya mencoba tenang.
"Dis, tolong hubungkan tante sama Afnan. Dari tadi hpnya susah di hubungi. Ada yang penting ini, tolong ya. Sekarang kalau bisa!" pinta Sri memaksa.
"Tante, Afnan lagi bicara sama klien, gimana kalau tante tunggu ya, nanti aku pasti minta Afnan langsung hubungi tante," tawar Yudis.
Atasan Afnan itu yakin itu hanya alasan sang bibi saja untuk memantau keberadaan putranya.
"Memangnya ada apa tan?" tanyanya lagi.
"Norma hilang, ini orang tuanya datang ke sini. Malam tadi Afnan pergi sama dia soalnya," jelas Sri tegang.
"Baik-baik tante, sebentar ya," Yudis mematikan sepihak panggilannya.
"Gila, ke mana perginya si Norma sih, nyusahin aja," gerutu Yudis sambil berusaha menghubungi sepupunya itu.
Beruntung Afnan segera mengangkat panggilannya.
"Nan, tante telepon katanya orang tuanya Norma cariin tuh anak. Emang kamu pergi sama dia semalam?" cecar Yudis langsung.
Afnan lantas beranjak dari pantai untuk sedikit menjauhi Salimah agar percakapannya tidak di dengan mantan istrinya itu.
Mereka baru beberapa saat tiba di sana. Salimah bahkan sedang membantu Iyem membereskan beberapa makanan yang mereka bawa.
Bukan masakan dirinya atau Iyem, karena dirinya pikir rencana liburan mereka batal sebab Fitria berkata jika mantan suaminya titip pesan jika ia sibuk hingga tidak bisa datang.
Alhasil semua makanan itu mereka beli saat perjalanan menuju pantai.
Salimah yang memang tak memiliki nomor ponsel sang suami hanya pasrah dengan kabar yang di katakan oleh Fitria.
Pagi tadi Salimah bahkan tak henti-hentinya menggerutu meluapkan kekesalannya mengingat ucapan Fitria semalam.
Karena ternyata Afnan bisa datang untuk memenuhi janjinya. Entah siapa yang berbohong, dirinya tak peduli. Yang pasti putranya saat ini merasa bahagia karena keinginannya terpenuhi.
"Semalam memang aku pergi sama dia. Dia di rumah sakit Dis," jawab Afnan yang tak tahu jika Norma memilih pulang paksa sejak semalam.
"Lah kenapa tuh bocah? kamu kagak bilang ke orang tuanya kalau dia sakit?"
"Dia hamil Dis," jawab Afnan datar.
"APA? GILA KAMU HAMILIN SI NORMA?!" pekik Yudis tak menyangka.
"Astaga pikiran kamu Dis. Dia hamil bukan sama aku. Sama pacarnya kali, makanya aku diem aja, biar dia sendiri yang jelasin sama orang tuanya kalau kita enggak bisa nikah."
"Hemmm ... Tapi tuh anak malah kabur. Sekarang gimana? Tante minta kamu menghubunginya, kamu telepon gih, aku enggak tau lagi kalau tante telepon mau alesan apa lagi," pinta Yudis menyerah.
Atasan Afnan itu merasa lega dengan penjelasan sepupunya itu. Dia memang tak yakin Afnan mampu berbuat hal tak senonoh seperti menghamili Norma.
"Ok. Aku tutup ya. Biar bisa langsung telepon mamah. Tadi kamu bilang apa ke mamah?"
"Kamu lagi ngobrol sama klien."
"Ok, aku tutup," putus Afnan.
Dia segera menghubungi sang ibu sebab tak ingin ibunya akan meminta orang untuk mencari keberadaannya. Bisa kacau segalanya kalau sang ibu sudah kembali bertindak.
"Assalamualaikum mah," ucap Afnan.
"AFNAN!" balas Sri dengan teriakan.
"Mah, ada apa? Tenanglah, Afnan masih ada rapat, suara mamah buat Afnan jadi bahan tontonan!" Jawab Afnan yang tidak sepenuhnya berbohong, saat dia menelepon Sri suara pekikan ibunya membuat beberapa pengunjung pantai menoleh padanya.
"Ya ampun Afnan apa yang udah kamu lakuin? Ke mana Norma? Dia belum pulang sampai sekarang. Ini tante Ratna nangis terus bikin mamah pusing," ucap Sri yang sudah reda amarahnya.
"Dia pergi sama pacarnya kali mah," jawab Afnan datar.
"HAH! Jangan aneh-aneh kamu. Kenapa kamu bilang begitu? Dia itu cinta sama kamu Nan. Pasti ada yang fitnah dia," gerutu Sri.
Afnan terkekeh mendengar jawaban sang ibu, dia tak mau menjelaskan kondisi Norma pada ibunya dan orang tua Norma. Biarlah wanita itu sendiri yang berterus terang tentang keadaannya.
"Apa ada yang mengatakan sesuatu tentang Norma sama kamu Nan? Apa dia Fitria?" cecar Sri curiga.
Pikiran wanita paruh baya itu hanya tertuju pada Fitria yang mungkin telah memberitahu sesuatu tentang Norma yang berada di hotel waktu itu pada sang putra.
Dalam hati dia berjanji akan menyingkirkan gadis itu karena sudah berani ikut campur dengan urusannya.
Awas kamu Fit. Saya pastikan kamu akan hancur setelah ini.
"Mamah ini aneh, kenapa justru menyalahkan Fitria. Ini enggak ada hubungannya dengan Fitria mah, tunggu aja, pasti nanti Norma bakal cerita sendiri," jawab Afnan tenang.
"Udah ya mah, Afnan masih banyak urusan ini. Mamah enggak mau kan Afnan kehilangan pekerjaan ini?"
"Mana bisa om kamu pecat kamu! Enggak akan," balas Sri sengit.
"Apa pun bisa terjadi mah. Udah ya, Afnan tutup. Mamah bilang aja sama orang tuanya Norma. Lihat bagaimana sikap mereka, setelah mamah kasih tau tentang jawaban Afnan. Assalamualaikum," tutup Afnan.
Setelah panggilannya di tutup, Sri bergegas kembali ke ruang tamu lagi. Di sana Ratna masih saja terisak. Subhan juga masih berusaha menenangkan sang istri sambil menghubungi entah siapa.
"Gimana mbak Sri, apa Afnan tau di mana Norma?" cecar Subhan begitu Sri duduk kembali di hadapan mereka.
Ratna segera mengusap air matanya untuk mendengar penjelasan dari Sri. Hatinya berdebar sangat kencang, dia benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya.
"Kata Afnan Norma pergi bersama kekasihnya," jelas Sri datar.
Sri melihat perubahan sikap keduanya. Subhan mengepalkan tangannya dan Ratna membelalak tak percaya.
"Pa-pacar? Apa maksudnya ini mbak? Enggak mungkin Norma mengkhianati Afnan," bela Ratna.
Sri mengedikkan bahu dan menjawab dengan datar, "kalian kan orang tuanya. Harusnya Kalian yang lebih tau. Coba hubungi mantan pacar atau teman-temannya, siapa tau mereka tau di mana Norma berada."
Tanpa banyak kata Subhan bangkit dan menarik lengan sang istri untuk ikut bangkit. Mereka harus segera menyelesaikan masalah yang akan di timbulkan oleh putri mereka.
"Kami mohon undur diri mbak. Sangat di sayangkan ternyata sikap Afnan seperti ini. Meninggalkan putri kami seperti ini. Secepatnya kami pinta penjelasan," ucap Subhan dingin.
Sri tak peduli, dia tak pernah mau tunduk pada orang lain. Jika Norma berbuat sesuatu dan hendak menyalahkan putranya, jelas dia akan berdiri paling depan untuk membela putranya, semua demi harga diri yang sangat dia junjung tinggi.
"Cih, anaknya yang murahan kok marah. Kalau bukan karena janji manis kalian mau menjadikan Afnan pemimpin, malas sekali aku mempunyai menantu seperti putri kalian," monolognya saat Subhan dan Ratna telah pergi dari kediamannya.
.
.
Sedangkan di pantai, Afnan kembali bercengkerama dengan santai bersama dengan mantan istrinya itu.
Rino sendiri bermain tak jauh dari mereka dengan Iyem yang menjaganya.
"Maafkan aku ya Sal. Mungkin kepergian kita akan jadi permasalahan kamu sama keluarga suamimu," ucap Afnan tiba-tiba.
Obrolan yang tadinya hangat dan seru karena mereka tengah membahas tentang segala tingkah pola Rino mendadak berubah jadi sendu.
Salimah menyalahkan diri sendiri sebab tak pernah berkata jujur tentang statusnya.
Kini dia gamang, mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya atau membiarkan Afnan berasumsi dengan pikirannya sendiri.
Sungguh Salimah sangat takut akan cap dirinya yang akan di anggap murahan jika Afnan tahu alasan dirinya menikah dan juga alasannya bercerai untuk kedua kalinya.
Apa ini akhir hubungan baik mereka? Batin Salimah menjerit.
Namun Salimah tak ingin terus-menerus menyimpan kebohongan. Biarlah dia tanggung segala risikonya andai Afnan tahu tentang bagaimana dirinya.
Kalaupun nanti mantan suaminya menjauhinya, dia berharap perlakuan Afnan tak berubah pada putra mereka.
"Kami sudah bercerai mas," ucap Salimah sambil menunduk dan memejamkan mata.
Dia tak berani menatap wajah Afnan. Takut akan reaksinya.