Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 31 : Upacara Penghargaan


...•••...


Tiga hari setelahnya, aula utama sudah dibanjiri oleh para bangsawan dan utusan dari setiap Kerajaan. Di sisi lain, banyak juga orang biasa yang penasaran. Walaupun mereka tak bisa masuk, mereka masih bisa mendengarkan dari luar.


Di sisi lain gedung aula utama, Retia dan Khan di dandani oleh Maid khusus dari Kekaisaran. Khan kini menggunakan pakaian bangsawan yang dimodifikasi dengan zirah ksatria sehingga membuatnya menjadi sangat cantik. Corak putih dan perak tumpang tindih dengan warna rambutnya yang hitam. Walaupun sepertinya Khan tidak terlalu nyaman dengan itu.


Retia sendiri memakai gaun bangsawan yang hanya bisa ia saksikan sewaktu menonton film atau membaca komik. Gaun yang benar-benar cantik dengan renda-renda keemasan yang memanjakan mata. Memakai gaun membuat Retia lelah, bukan cuma soal pinggangnya yang dibekap erat oleh korset, tetapi juga tanggung jawab memakainya.


"Jangan terlalu gugup, bukankah ini yang kamu inginkan? Semangatlah," hibur Khan.


"Ya, terimakasih," sambut Retia dengan senyumnya. Retia masih ingat bagaimana Khan membuat keinginan anehnya mau tak mau dikabulkan oleh Kaisar. Retia bahkan masih mengingatnya, "Saya akan menggunakan hadiah dari prestasi Saya untuk mendukung permintaan Nona Retia, tolong kemurahannya."


"Ingat apa yang aku katakan sebelumnya, jangan teralihkan dengan karpet merah atau para bangsawan di sekelilingmu, fokus saja pada suara Kaisar dan bagaimana aku bersikap. Sebenartarlagi sambutannya selesai dan saat namamu dipanggil kamu masuk dan berhenti tepat di bagian karpet merah yang sedikit terlipat."


"Saya mengerti."


...•••...


"... Terakhir, untuk kedua Pahlawan yang telah membantu pertumbuhan Kekaisaran Kita menjadi jauh lebih kuat, Kami tidak mungkin tidak memberi mereka penghargaan atas apa yang mereka lakukan, bukan cuma kepada Kekaisaran kita, tetapi juga kepada dunia." Kaisar menerangkan bagian utama dan akhir pertemuan.


"Oleh sebab itu, atas jasanya yang begitu mulia, Kami Kekaisaran Sahara, akan memberikan julukan Dewa Penempa, kepada Khansa al Real, yang telah memajukan kita melalui perabotan rumah yang meniru teknologi dari alam Dewa. Khansa al Real, majulah." Kaisar memberi perintah. Satu ketukan tongkatnya seiras dengan langkah kaki Khan.


Karpet merah dengan hiasan naga emas di tengah-tengahnya itu ia pijak dengan langkah yang tidak cepat juga tidak lambat. Retia bisa mendengar bagaimana orang-orang berbisik mengenai dirinya, khususnya Retia bisa melihat bagaimana banyaknya wajah gundah para bangsawan.


"Khansa al Real, menghadap Matahari Kekaisaran."


"Oh! Puja Matahari Kekaisaran!!" Suara sorakan berdentum dari dalam istana hingga keluar. Bahkan mereka yang ada di pasar dan di dalam rumah juga ikut berteriak ketika mendengar gelombang suara sorakan keras yang berasal dari Istana. Sudah mendarah daging dan menjadi budaya.


"Selanjutnya, Retia Anggraini dari Kerajaan kecil Regionald. Atas jasanya menciptakan sabun, revolusi kacang kedelai, serta saluran pembuangan yang akan segera Kami mulai terapkan. Kekaisaran Sahara akan mendukung dan memberi penghargaan untukmu, Retia Anggraini dari Kerajaan Regionald, Kami Kekaisaran Sahara, akan memberimu julukan Dewi Kebersihan. Retia Anggraini, silahkan maju." Kaisar melanjutkan. Retia maju, mengikuti langkah Khan. Berkat kalung permata, Retia menjadi gugup karena para bangsawan mengonentari penampilannya yang kaku bahkan ada beberapa yang menghinanya tanpa alasan.


"Retia Anggraini, menghadap Matahari Kekaisaran."


"Oh! Puja Matahari Kekaisaran!!"


Khan maju melewati garis yang ia pantangkan sehingga tepat berada di depan Kaisa, begitu pula dengan Retia yang mengikuti di sampingnya.


"Saya sebagai Kaisar yang bukan hanya menjadi pemimpin Sahara, tetapi juga Aliansi Dunia, Saya tidak akan membiarkan usaha dan hasil dari pemilik rambut hitam seperti keduanya sia-sia."


Kaisar berdiri.


"Saya mulai dari Khansa al Real, mantan mata-mata tempur kekaisaran Sahara yang saat ini kami tugaskan ke Kerajaan Regionald untuk meneliti teknologi lama dan reruntuhan kuno. Dia yang dulu menyandang nama yang berangka: Kosong Dua Satu, atau yang lebih kalian semua kenal dengan julukan: Pemburu Iblis Laut Dalam, kapten Imperial Demon Order Ke-7, Khansa al Real, berlututlah."


Khan maju satu langkah ke depan kemudian berlutut sementara Retia masih stagnan dalam berdirinya.


"Mulai detik ini, jabatanmu sebagai Kapten Imperial Demon Order Ke-7 akan dicopot, apa kamu punya pertentangan?" tanya Kaisar.


"Tidak, Yang Mulia. Keputusan Anda adalah keputusan Langit!" jawab Khan tegas, membuat semua orang di sana termasuk Retia merasa merinding dengan aura yang terpancar dari ucapannya. Terlebih ketika Kaisar tersenyum membalas keseriusan Khan.


"Sebagai ganti dari gelar yang dicopot, Khansa al Real, engkau Kami berikan kekuasaan penuh atas pasukan khusus keamaan dunia: World Justice Knight Order, tanpa harus terlibat di dalamnya."


..."Jadi, mereka ingin mengekang kekuatanku dengan tanggung jawab, tetapi juga tidak ingin produksiku terhenti karena mengurusi pasukan ksatria. Benar-benar bajingan serakah yang licik." Khan membatin, tidak menyangka akan menjadi serumit ini....


Bukan cuma Khan, semua bangsawan dan mereka yang berasal dari militer menggertak gigi seolah tak percaya. Mereka tahu Khan kuat sebagai Kapten Imperial Demon Order Ke-7, tetapi sepertinya mereka semua belum tahu bahwa Khan sudah menerobos ke tingkatan yang hanya kakek buyut mereka bisa sampai. Seorang ahli pedang sihir yang sampai pada kelas ke-enam. Seorang Grand Master Magic Swordman.


"Khansa al Real, selain dari gelar Dewa Penempa yang dianugerahkan padanya, Kami juga akan memberikan gelar militer tertinggi yang pernah tercatat di Kekaisaran Sahara, 'Sword God', gelar yang telah menghilang lebih dari tiga ratus tahun."


Raut wajah bangsawan memucat, mereka ingin menyerukan penentangan, tetapi ini upacara pelantikan suci. Hanya ada jeruji dan hukuman mati jika mengganggu dengan alasan pertentantan. Sekarang yang mereka lakukan hanya bisa menggigit jari dan menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi di bagian dalam pemerintahan Kekaisaran sehingga keluarga kerajaan beserta bawahan langsungnya memilih untuk memberika gelar dan hak istimewa sebesar itu.


Seorang pelayan mengambil kembali perkamen dari Kaisar dan memberikannya sebilah pedang berhiaskan emas permata kepadanya.


..."Pedang itu... Excalibur? Akhirnya aku bisa melihatnya, pedang yang dikatakan sebagai pedang terbaik di dunia." batin Khan....


"Kami yakin, gelar ini cocok untuk ahli pedang terkuat di dunia saat ini. Kapten Imperial Demon Order Ke-7, Khansa al Real, tundukkan kepalamu!"