Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 20 : Cakar Beruang.


"Pertempuran ini terlalu mudah, bahkan tidak bisa untuk disebut sebagai pemanasan," kata Hans sambil menjilat ujung pedangnya yang berdarah.


"Lagipula, orang sakit harusnya berbaring saja di rumah lalu mati dengan tenang," sambungnya menghina Hans.


"Brengs*k!" umpat Hans, berusaha keras menahan tinjunya. Setelah menghembuskan napas berat, Hans kemudian memutuskan untuk masuk kembali ke dalam gerbong.


"Dasar orang aneh," ujar Khan. Menyarungkan pedangnya kembali.


"Orang aneh di sini itu kau!" teriak Retia di dalam hati.


"Oh, benar. Bagaimana? Apa kamu bisa memasak daging-daging yang bergeletakan di depan sana?" tanya Khan.


Retia merinding dingin, tidak pernah menyangka bahwa Khan benar-benar menjadi kanibal sekarang. "Apa ini gara-gara darah yang menempel di tangannya saat memakan tahu isi crispy?" batin Retia menerka.


"Anda serius?"


"Ya, apa bisa?"


Retia sekarang semakin takut. Ada kemungkinan tinggi Khan suatu hari nanti akan memakannya juga jika menjadi kanibal, lebih dari itu Retia tidak ingin melihat orang mati apalagi yang terpenggal oleh pedang Khan.


Retia memejamkan matanya, memantik kemampuan: Mata Dewi Makan.


[ Informasi Sederhana ]


Nama: Khansa al Real


Usia: 25 tahun.


Posisi: Tuan Tanah.


Keadaan: Jengkel. Penasaran.


Keahlian Memasak: 3/10.


Keahlian Memotong: 10/10.


Keahlian Mendekor: 8/10.


Makanan yang diinginkan: Daging Beruang.


Minuman yang diinginkan: Teh Rebilla.


Keinginan Khusus: Membuat perkamen dari kulit Hans.


Kemampuan: Teknik Pedang Sinar Bulan. Manipulasi Sihir Samudra. Manipulasi Sihir Penguatan. Teknik Palu Raja Dwarves.


Retia menghela napas lega, untungnya Khan tidak serius ingin memakan daging manusia. "Hahaha, ternyata itu cuma beru... Beruang!? Dasar tuan tanah sinting!" batin Retia berkecamuk. Sekarang, setelah kepiting, Retia harus memasak Beruang yang bahkan tak sekalipun pernah terlintas dalam pikirannya.


"Jadi, bagaimana?" tanya Khan kembali.


"Maksud Anda daging beruang, kan? Tentu, akan Saya usahakan." Retia mulai berjalan ke depan.


"Seperti yang diharapkan dari Nona Retia, apa Anda bisa mengetahui isi hati seseorang dari kedipan mata? Hahaha, kemampuan yang aneh." Khan tertawa terbahak-bahak sambil mengekor langkah Retia.


Di depan sudah ada beruang besar yang membeku, bercak darah, dan beberapa bagian tubuh yang tertinggal. Retia juga bisa melihat Marthin dan anak buahnya sedang menguburkan mayat para Bandit, tetapi menyisihkan beberapa kepala yang punya bounty. Pemandangan yang mengerikan, tetapi Retia harus terbiasa dengan itu.


"Jadi apa yang akan kamu buat, No-na Re-tia?" tanya Khan, dengan nada mengejek.


"Ka-katanya tangan kanan beruang sangat lezat, semua beruang memakan madu menggunakan tangan kanan, manis dari madu menempel dan itulah yang membuatnya menjadi lezat." Retia menjawab asal-asalan, seingatnya orang Siberia dulu memakan cakar beruang.


Retia hanya pernah mendengarnya, dia bahkan tidak pernah menyentuh bagian apapun dari seekor beruang sebelumnya. Lalu apakah benar rasa tangan kanan beruang se-enak itu?


Jawabannya, tidak. Daging beruang tidak se-enak apa yang dibayangkan. Kata-kata bahwa tangan kanan beruang madu itu sangat lezat hanyalah kata-kata penghibur hidangan mahal, karena untuk mendapatkannya dibutuhkan hal gila dan hal gila lainnya disebabkan label ilegal yang tertanam.


"Oh, benar. Ambil ini." Khan memberikan sebuah gelang logam dengan batu permata merah muda sebagai matanya.


"Itu yang kukerjakan malam sebelumnya, namanya Outdoor Kitchen Set, bagaimana menurutmu? Cara menggunakannya cukup tekan tombol perak."


Tanpa memakai, Retia menekan tombol berwarna perak di sisi kanan mata gelang. Cukup keras, sehingga membutuhkan lebih banyak tenaga untuk menekannya. Setelah tertekan, permata merah muda itu bersinar dan mulai memunculkan partikel-partikel asing yang kemudian membentuk kitchen set minimalis yang cukup lengkap.


"Wah... Ini gila, apa Saya bisa memilikinya?" tanya Retia. Mata gadis itu berbinar, terang sekali.


"Tentu ini milik Anda sekarang," kata Khan. Senyum aneh di wajah Khan kini terlihat seperti senyuman tulus di mata Retia. Wajah Khan terlihat berkilau dan dipenuhi bunga-bunga yang cantik di sekitarnya. Mabuk Kitchen Set.


"Kalau begitu, aku tunggu hidangannya. Aku akan memanggil beberapa orang yang luang untuk membantumu menyiapkan makanan untuk yang lain juga." Khan pun pergi meninggalkan Retia dengan irisan tangan kanan Beruang yang ia penggal dengan pedangnya.


Beberapa orang mulai berdatangan membantu Retia, di antaranya ada Chord, seorang alkemis muda yang meminta Retia menambahkan ramuan penyembuh tulang di hidangannya. Chord mengatakan kalau ramuan buatannya terasa pahit dan berbau amis jika diminum langsung.


Pertama, Retia merebus tangan beruang di air panas yang benar-benar panas. Setelah itu melepas kulit juga bulunya. Kemudian memasukkannya ke dalam pot berisi perasan air anggur yang ditambahkan dengan ramuan pengikat tulang buatan Chord dan beberapa batu sihir Growing Stone buatan Jordan. Kali ini batu sihir yang digunakan Jordan adalah yang berwarna biru malam, katanya itu berguna untuk memperkuat aroma. Jordan sebelumnya menggunakan itu sebagai penglaris dagangan kentang goreng istrinya. Sungguh culas.


Retia benar-benar menenggelamkannya ke dalam, membuat aroma anggur meresap ke dalam cakar beruang dengan sangat cepat. Aroma tidak sedap dari cakar beruang pun mulai menghilang tidak berbekas.


Seolah tidak cukup sampai di sana, Retia mengoleskan madu di atasnya demi memastikan aroma tidak enak itu menghilang. Setelah itu merebusnya kembali dengan menggunakan panci presto sembari menyiapkan kaldu untuk sup.


Retia menyiapkan kaldu jamur. Kemudian memotong bawang merah, bawang putih, kunyit, kencur, kemiri, dan cabe rawit merah, setelah itu menambahkan garam lalu memggepreknya hingga tercampur rata.


Setelah tercampur rata, barulah kemudian semua bahan bumbu di tumis, lalu tambahkan sereh, cengkeh, dan daun salam. Tumis sampai harum lalu tambahkan ke dalam kaldu jamur. Memasukkan cuka, gula, sedikit garam, dan perasaan lemon.


Sambil menunggu mendidih, Retia mengangkat tangan kanan beruang, memotongnya kecil-kecil kemudian ditabrakkan dengan irisan kentang.


Setelah sup-nya mendidih, barulah kentang dan daging cakar beruang dimasukkan ke dalamnya. Setelah Retia merasa kalau dagingnya sudah cukup empuk, barulah Sup Tangan Kanan Beruang, siap untuk dihidangkan.


[ Sup Tangan Kanan Beruang ]


Rank: B


Kesegaran: 80%


Nilai Rasa: 80%


Nilai aroma: 99%


Nilai Bentuk: 91%


Nilai Dekorasi: 74 %


Bahan: ( Tidak teridentifikasi karena ada terlalu banyak bahan di dalamnya )


Manfaat yang teridentifikasi: Mempercepat penyembuhan tulang. Menyegarkan napas.


"Hah... syukurlah peringkatnya masih sama dengan kepiting Gratin, tetapi sepertinya aromanya sudah terlalu berlebihan. Maksudku itu sudah sangat mendekati sempurna," batin Retia.


Retia membawanya dan menghidangkannya ke hadapan Khan. Daging beruang dihidangkan di sebuah piring sup yang cukup besar dan bundar. Memberinya kuah dari atas tanpa memberi hiasan yang cukup, hanya kentang dan irisan tomat yang disusun dipinggiran piring.


Khan karena tergoda dengan aromanya, juga rasa lapar yang menyengat perutnya, langsung melahap daging beruang itu.


Rasa dari daging beruang yang unik menyatu dengan rasa anggur serta madu yang meresap ke dalamnya dengan baik. Rasa tidak enak di dagingnya tentu menghilang berkat direndam dan dipresto.


Satu gigitan sudah cukup membuat aroma harum dan segar memenuhi rongga mulut. Rasa kaya dari daging beruang menyembur bersama dengan rasa gurih dari kuah-nya. Meskipun telah direbus hingga empuk, daging beruang tetap kenyal yang sangat cocok dengan kentang yang langsung hancur di mulut.


"Kamu mau?" tanya Khan, menawarkan.


"Saya menolak."


Bahkan jika aromanya sangat menggugah selera, Retia sama sekali tidak ingin memakannya. Menolak dan lebih memilih mengisi perutnya dengan kentang goreng. Bagaimanapun, Retia terus teringat akan undang-undang nomor lima tahun 1990 yang menjerat beberapa pria pada tahun 2018 silam.


...•••...