
Di bantaran sungai hutan Berrew, Retia terlihat sibuk memecahkan bongkahan es dan mengeluarkan ikan terbang dari dalamnya. Sebelumnya, Retia kembali mendapatkan sebuah misi yang memintanya untuk memotong ikan terbang selagi menghindari kantung racunnya. Dengan cahaya bulan dan api unggun kecil di sampingnya, Retia terlihat begitu serius dan fokus, jika salah iris, kemungkinan besar dia akan mati karena keracunan.
Di tengah-tengah misi, Khan datang menghampiri Retia. Tuan Tanah itu nampak sangat segar, bahkan kehadirannya terasa lebih mencekam dari sebelumnya.
"Oh, Anda sudah bangun, Tuan?"
"Ya, baru saja."
Khan duduk di salah satu batu, menatap Retia yang tak berhenti melepaskan kulit keras dari ikan terbang.
"Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di sini?" Khan bertanya.
"Saya sedang berlatih memotong," jawab Retia.
"Menggunakan ikan terbang?"
"Iya, karena ikan terbang harus di-iris dengan sempurna agar kantung racunnya tidak pecah dan dagingnya tidak rusak. Ini bahan terbaik untuk berlatih."
Khan menghembuskan napas berat, sekilas pandangannya kosong, kemudian berdiri dan berjalan ke hadapan Retia.
"Kamu sepertinya sangat ingin memenangkan kompetisi itu, ya?" Kahn kembali bertanya.
"Itu sudah menjadi cita-cita Saya sejak kecil."
"Yah, sayang sekali. Menjadi Ratu Memasak memang di-impikan banyak gadis. Selain hadiahnya yang besar, dengan memenangkan kompetisi itu juga bisa membuat kasta keluargamu terangkat."
"Iya."
Retia sebenarnya tidak tahu dan tidak peduli apa hadiahnya, yang pasti, dia ingin merasakan kemenangan, itu saja.
"Namun, jika kamu kalah, datanglah padaku. Kamu mungkin bisa menjadi selirku jika bekerja sedikit lebih keras, hahaha!"
"Maaf, Saya harus menolak."
"Andai kamu mau, maka akan aku ajarkan cara memotong, kebetulan tanganku sudah mulai membaik. Contohnya, seperti ini."
Khan menggerakkan tangannya, membuat belasan sisa ikan terbang terangkat mengudara. Khan mengeluarkan pedangnya, menarik dari sarungnya sebentar, menebaskannya dengan sangat cepat, kemudian menyimpannya kembali.
"Bagaimana apa kamu tertarik?" tanya Khan.
"Apa yang Anda... Oh?"
[ Quest: Jangan Sampai Kena Racunnya! : Selesai ]
[ Menghitung pencapaian... ]
[ Mengirim hadiah... ]
[ Hadiah Diterima! ]
[ Apakah Anda ingin membuka kotak Hadiah? ]
..."Misinya selesai? Bahkan jika bukan aku yang menyelesaikannya?"...
Khan kembali menggerakkan tangannya, menurunkan ikan-ikan itu ke hadapan Retia. Semuanya memiliki garis irisan yang sempurna. Bahkan ketika Retia memeriksa, potongannya sangat bagus bahkan jauh daripada potongan Retia yang dibantu oleh sistem.
..."Jadi ini, tingkat keahlian Memotong yang sempurna?" batin Retia. Sejujurnya, Retia sangat ingin mempelajari cara memotong dari Khan. Namun, tidak ada wanita di bumi modern yang ingin di duakan apalagi hanya menjadi seorang selir....
"Jadi, bagaimana? Apa kamu tertarik, menjadi selirku nanti?" Khan kembali menawarkan, tetapi Retia tetap pada pendiriannya. Retia menggelengkan kepalanya membuat Khan memasang raut wajah masam.
"Datanglah padaku jika kamu tertarik, masih ada waktu empat bulan sebelum kompetisi memasak dimulai," kata Khan, sebelum melangkah pergi. Namun, ia berhenti di langkah yang ke sepuluh, kemudian kembali berucap, "Dengan kemampuan memasakmu yang sekarang, kamu mungkin memang akan lulus pendaftaran, tetapi tidak untuk memenangkannya, semoga beruntung."
...•••...
Retia sangat lelah, dari fisik hingga mental. Ada terlalu banyak kejadian hari ini. Rasa rindu pada keluarga juga membuatnya gelisah.
..."Sudah sembilan hari, kah?" batinnya sembari menatap bulan biru, kemudian memilih untuk memasuki tenda....
Malam itu semuanya tertidur dengan pulas, terkecuali Khan dan Jordan yang berjaga dan mengobrol bersama. Mereka berdua membahas bagaimana caranya menguatkan mental kuda bersayap kembali. Namun, tidak ada dari rencana mereka yang membuahkan hasil.
Lewat tengah malam, Hans akhirnya kembali dengan beberapa orang lainnya yang terlihat begitu lelah dan butuh makan dan pengobatan. Jordan membangunkan istrinya, sementara Khan pergi membangunkan Chord, setidaknya cuma dia yang sedikit punya pengetahuan tentang herbal walaupun menyimpang karena dia seorang Alkemis.
Seperti dugaan Khan, Marthin dan Ron tersesat di dalam hutan karena serangan beruang besar membuat beberapa orang terpisah. Marthin dan Ron mencari mereka, tetapi ketika berhasil menemukan, mereka malah tersesat.
Semua yang kelelahan dibawa ke tenda untuk istirahat, sementara beberapa orang yang masih bisa terjaga dan menjaga memilih untuk melanjutkan diskusi tentang bagaimana cara mereka untuk pergi ke Kansas pagi nanti.
Hanya ada dua pilihan yang tersedia, pertama membunuh kuda bersayap dan berjalan kaki ke Kansas. Kedua membunuh kuda bersayap untuk membuat Physical Form dari sihir tingkat enam milik Khan.
"Menurutku pilihan kedua membawa kerugian yang sangat besar, material dari jasad Leviathan sangat mahal bahkan satu sisiknya saja mencapai harga lima koin emas. Belum lagi sayap putih dari kuda bersayap, kebanyakan pakaian bangsawan kaya raya menggunakan sayap putih itu sebagai bahan utama pembuatannya, harga satu kepaknya saja sudah lebih dari seratus emas." Chord memberi pendapat.
"Bukan cuma itu, batu sihir dari kuda bersayap menganduk energi yang daya pacunya lebih tinggi daripada batu sihir si banteng iblis Minothorn. Batu sihir Leviathan bahkan tidak pernah aku dengar selain yang ada di gudang harta Kekaisaran Sahara. Membayangkan hal apa yang akan didapat dari batuan sihir itu terlalu jauh untukku." Jordan menambahkan.
"Sebenarnya aku tidak ingin pilihan kedua yang diambil karena itu akan membuat orang sinting menjadi lebih sinting, tetapi jika kita memilih pilihan pertama, beberapa dari mereka yang sakit akan mati di jalan tanpa pengobatan yang baik secepatnya." Hans memberi pendapat lain.
"Terimakasih atas hinaanmu dasar brengsek," kata Khan.
Physical Form sendiri adalah teknik pembuatan sebuah wadah bagi energi sihir penyihir tingkat ke-enam yang mampu menghidupkan kembali sesuatu yang pernah hidup. Bahkan jika wadah yang digunakan adalah seekor Chimera yang berasal dari gabungan beberapa makhluk hidup lain. Sayangnya teknik ini membutuhkan tumbal nyawa untuk mewujudkannya, dan Khan mengusulkan untuk menggunakan kuda bersayap sebagai tumbal yang sempurna karena Divine Power yang mereka miliki.
"Karena sudah larut begini, mari akhiri ini dengan sebuah Voting. Seperti yang dikatakan oleh Nona Chord dan Jordan, material Leviathan dan kuda terbang sangatlah berharga, tetapi seperti yang dikatakan oleh Hans, beberapa dari mereka yang sakit, memiliki kesempatan tinggi untuk mati di jalan jika memilih pilihan pertama. Voting dimulai!"
"Sebagai seorang Ahli Alkimia yang mementingkan material penelitian, aku memilih pilihan pertama." Chord memutuskan.
"Ya, aku juga tertarik dengan batu sihir dari kuda bersayap dan Leviathan." Jordan setuju.
"Aku merasa ini kesalahanku yang lemah dan pengecut hingga membuat mereka menjadi sakit seperti itu, aku memilih pilihan kedua," kata Marthin.
"Aku seorang pelindung, tentu pilihan kedua bahkan jika itu bertentangan dengan hatiku," ujar Hans.
"Akan bagus jika kita memiliki sumber energi seperti batu sihir Leviathan, tetapi karena aku pelayan Tuan Khan, pak tua ini akan memilih pilihan kedua yang akan membuat Tuannya menjadi lebih kuat." Ron memberi suara.
"Aku memilih pilihan kedua juga!"
"Aku pilihan pertama."
"Persetan dengan material, aku memilih pilihan kedua!"
"Aku juga!"
"Aku..
...
...
"Baiklah, hasil voting menunjukan sebanyak tujuh orang memilih pilihan pertama, sedangkan sembilan orang memilih pilihan kedua. Hasilnya sudah ditentukan. Pagi nanti, persiapkan diri kalian untuk mengangkat material Leviathan dari dalam sungai. Dengan ini aku membubarkan kalian, istirahatlah dengan baik."
"Baik!"
...•••...