Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 13 : Kepiting Gratin


Setelah Khan pergi bersama dengan beberapa orang lainnya, Retia menjadi cukup lega. Apapun yang terjadi dia setidaknya harus membuat hidangan ditingkatan yang sama dengan kentang goreng Elves. Retia masih ingin kepala dan badannya tetap menyatu.


Karena kepiting sudah bersih, Retia mengambil double-boiler atau panci kukus. Merebus air kemudian memasukkan kepiting di bagian atasnya untuk dikukus.


"Mengapa Anda mengukusnya?" Rena bertanya. Gadis kecil itu seumuran dengan Mary, wajar untuk bertanya apa yang ia tidak ketahui.


Retia tersenyum, kemudian menjawab, "Kalau direbus, takutnya cangkang kepiting akan retak, daging di dalamnya menjadi lembab dan berair."


"Oh... apa ada yang bisa Saya bantu?" tanya Rena.


"Tentu, bisakah kamu memotong bawang dan kentang ini?"


"Baik."


Retia mulai mengukus Kepiting itu hingga cangkangnya memerah. Setelah mulai dingin, Retia mencabut batok cangkang kepiting dan memisahkan kaki dan capitnya.


Retia membalik tubuh kepiting dan membuang bagian pantat yang berbentuk segitiga.


Karena insang kepiting kotor, Retia membuangnya kemudian mencuci yang tersisa sedikit demi sedikit dengan air mengalir. Setelah bersih, kepiting kemudian dipatah belah menjadi dua. Sekarang nampaklah daging kepiting dan tomaly-nya yang terlihat seperti kotoran.


Karena yang diperlukan cuma dagingnya saja, Retia membuang tomaly dan mencucinya sampai bersih, kemudian memusatkan perhatiannya dalam memisahkan daging dan cangkang. Setelah selesai, Retia kemudian memecahkan capitnya menggunakan pemecah kacang dan menarik daging di dalamnya menggunakan sumpit.


Daging kepiting sudah terkumpul, begitu pula dengan kentang dan bawang yang sudah selesai dipotong.


Retia memasukan sedikit minyak ke atas frying pan untuk menumis, kemudian memasukkan kentang yang sudah di iris ke dalamnya. Setelah satu menit, Retia memasukkan bawang bombai, lalu menaburkan lada di atasnya. Aduk hingga rata. Setelah harum, masukan daun bayam muda dan daging kepiting, aduk kembali hingga tercampur merata. Selesai setelah bau amis dari kepiting menghilang.


Retia memasukkan mentega ke dalam frying pan, baru setelah meleleh diberikan tepung. Aduk hingga memunculkan gelembung kemudian tuang kaldu ikan sedikit demi sedikit, aduk kembali hingga tercampur dan licin. Tambahkan garam, merica, cooking cream, dan mustard ke atasnya kemudian aduk kembali, masak sampai matang.


Masukan saus Gratin dalam wadah untuk memanggang, kemudian taruh tumisan kentang dan daging kepiting tadi, aduk kembali keduanya hingga merata. Terakhir taruh parutan keju di bagian atasnya, Retia juga menambahkan tomat dan daun sop sebagai pelengkap. Setelah itu dimasukkan ke dalam oven dan tinggal tunggu hingga keju meleleh atau sekitar sepuluh menit.


Retia dari tadi menunggu sebuah misi seperti yang selalu datang di momen-momen seperti ini, tetapi tidak ada yang terjadi.


Sambil menunggu masak, Retia membantu Rena membersihkan peralatan yang ia gunakan.


Retia masih teringat dengan ekspresi wajah Khan yang tiba-tiba saja memburuk. Wajah yang penuh amarah, seolah telah mendengar kata terlarang.


"Kamu sudah berapa lama kerja di sini?" tanya Retia kepada Rena. Tangan mereka masih sibuk mencuci.


"Sudah hampir dua tahun, memangnya ada apa, ya?" Rena balik bertanya.


"Ah, bukan apa-apa. Hanya saja... apakah Tuan Khan memang biasanya seperti itu?" tanya Retia.


"Ah soal itu, sebenarnya Saya juga tidak terlalu tahu karena Tuan jarang tinggal di Mansion ini, apalagi setelah beberapa bulan yang lalu beliau dianugerahi sebidang tanah tak bertuan di ujung timur kerajaan. Namun, selama bekerja di sini, Tuan memang cukup menakutkan karena kami tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Yah ... Tuan juga terkenal karena sisi misteriusnya itu."


Berbeda dari penampilan Rena yang nampak lugu, ternyata dirinya begitu lancar berbicara bahkan hampir setara dengan ibu-ibu penggosip handal yang biasanya nongkrong di perempatan jalan.


"Begitu, ya...."


Retia memasang wajah masam. Retia merasa kasihan dengan Rena, pasti berat bekerja di tempat Khan yang emosinya tidak stabil. Menjadikan memori sewaktu bekerja dengan orang congkak dan serakah teringat kembali. Kepala Koki yang suka memerintah dan bos yang selalu menyebutnya lelet dan memotong upah. Kenangan buruk yang benar-benar ingin dikubur.


Rena melihat rona wajah Retia berubah, kemudian membuka suara,


"Namun, Tuan baik, kok. Upah kerja di sini jauh lebih baik dari di tempat lain, selain itu kesalahan kecil tidak akan membuat upah kami dipotong. Saya senang bekerja di sini."


Semua yang kotor sudah bersih, Rena mengangkat semuanya dan pergi.


"Jadi, jangan khawatir," Sambungnya.


Retia tertohok, tanpa sadar membandingkan pengalamannya semasa bekerja paruh waktu di restoran sebagai asisten koki dengan kehidupan Rena.


"Apa ini kepiting?" tanya Khan.


"Ya, Tuan. Hidangan ini namanya Kepiting Gratin, Saya menjamin rasanya akan enak." Retia percaya diri, itu karena dia sudah mengintip tentang bagaimana nilai dari masakannya itu.


[ Kepiting Gratin ]


Rank: B


Kesegaran: 85%


Nilai Rasa: 88%


Nilai aroma: 95%


Nilai Bentuk: 86%


Nilai Dekorasi: 84 %


Bahan: ( Tidak teridentifikasi karena ada terlalu banyak bahan di dalamnya )


Khan mulai menyendok hidangan itu kemudian mencium aromanya. Nilai aromanya sembilan puluh lima, Retia sangat yakin kalau hidangan ini yang terbaik dalam hal aroma. Retia juga menaruh perhatian khusus bagi itu dengan menambahkan bahan pelengkap penghilang bau amis beberapa kali.


Khan memasukkannya ke dalam mulut. Tekstur daging kepiting yang halus, empuk, dan gurih, dapat beradu dengan cream keju yang meleleh di mulut. Sulit untuk tidak memahat ekspresi senang ketika memakan hidangan ini. Namun, itu sepertinya tidak berlaku untuk Khan, wajahnya tetap datar hampir seperti tembok.


"Apa kamu punya resep lain untuk hidangan kepiting?" tanya Khan, kini wajah tembok itu menjadi serius.


"Eh? Apakah hidangannya tidak enak?" batin Retia, tetapi jelas sekali ia merasa kalau hidangan ini adalah salah satu yang terbaik dari semua hidangan yang pernah ia masak.


"Ya, Saya masih punya banyak resep olahan kepiting lainnya jika Anda menginginkannya akan Saya buatkan," jawab Retia. Bahunya turun, pandangannya menunduk karena sangat gugup dan khawatir.


"Tidak-tidak, bukan itu yang aku inginkan." Khan menggelengkan kepalanya, membuat Retia menjadi kebingungan.


"Tolong ajarkan resep-resep itu ke Koki-koki yang ada di sini, dua emas per-resep harusnya sudah cukup, kan?"


"Eh?"


Retia tak menyangka, hanya bisa terdiam karena tidak menyangka mendapatkan koneksi dengan orang yang berpengaruh semudah ini. "Bukankah ini Jackpot?" batinnya.


Melihat Retia yang hanya diam dengan keringat dingin di dahinya, Khan menyangka kalau tawarannya masih kurang untuk resep asli yang tidak diketahui oleh orang lain, Khan pun menambahkan tawarannya, "Kurang? Kalau begitu akan aku tambahkan lima koin emas sebagai penjamin."


Khan memberikan lima keping koin emas kepada Retia, yang tentu saja langsung disambut olehnya yang hanya bisa menjadi penurut. Semua pelayan di sekeliling Retia berdecak dan merasa iri.


Retia memeriksa logam berharga tersebut, tanpa sengaja mengaktifkan kemampuannya.


[ Koin Emas ]


Berat : 4,25 gram.


Kemurnian : 90%


Harga lain : 3.675.000, Rupiah.


"Tunggu? Jadi, Tuan Tanah ini akan membayarku tujuh juta per-resep? dan di tanganku sekarang ada delapan belas juta? Pantas saja yang lain pada iri," batin Retia. Di dunia asal, resep-resep kepiting bertebaran dan bisa dipelajari oleh semua orang. Retia juga kerap kali menonton olahan daging kepiting yang sangat mahal jika di negaranya.


"Jadi, bagaimana jawabanmu?" tanya Khan lagi.


"Aku ...